Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

IHSG Uji Level Psikologis 6.800 Pekan Ini

Jakarta: Sentimen Global dan Ketegangan Geopolitik Bayangi Pasar Modal
Foto ilustrasi

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan akan menguji rentang krusial di level 6.800 hingga 7.000 pada perdagangan pekan ini. 

Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah serta fluktuasi harga komoditas energi menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan pasar modal domestik.

Analis Phintraco Sekuritas mengungkapkan bahwa secara teknikal, indeks akan bergerak dalam area support 6.800 dengan titik pivot pada level 7.000, sementara posisi resistance tertahan di angka 7.200.

Kondisi ini merupakan imbas dari pelemahan signifikan di bursa Wall Street pada penutupan akhir pekan lalu.

Indeks Nasdaq Composite bahkan tercatat telah memasuki wilayah koreksi setelah mengalami penurunan lebih dari 10 persen dari titik tertingginya. 

Melemahnya pasar global dipicu oleh kekhawatiran pelaku pasar terhadap prospek negosiasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang masih buntu.

“Ketidakpastian upaya diplomasi mendorong harga minyak mentah kembali menguat tajam. Brent kini berada di posisi 112 dolar AS per barel, sementara WTI menyentuh 99 dolar AS per barel. Ini adalah level penutupan tertinggi sejak Juli 2022,” tulis Phintraco Sekuritas dalam riset yang dirilis Senin 30 Maret 2026

Eskalasi di kawasan tersebut semakin memanas menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump yang memperpanjang tenggat waktu potensi serangan hingga 6 April 2026. 

Laporan mengenai mobilisasi ribuan pasukan tambahan ke wilayah konflik, ditambah dengan keterlibatan serangan Houthi dari Yaman, semakin mempertebal kekhawatiran akan terjadinya perang yang berkepanjangan.

Dampak dari ketegangan ini tidak hanya memicu lonjakan harga, namun juga mengancam rantai pasok energi global. 

"Jika konflik ini meluas dan berlangsung lama, dunia dihadapkan pada ancaman perlambatan ekonomi serta potensi stagflasi," tambah Phintraco Sekuritas.

Dari sisi domestik, para investor tengah menanti rilis data makroekonomi penting pada Rabu, 1 April mendatang, yang meliputi indeks manufaktur S&P Global, neraca perdagangan, serta angka inflasi nasional.

Selain itu, rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk merevisi aturan papan pemantauan khusus pada kuartal II-2026 turut menjadi perhatian pasar.(*)

Hide Ads Show Ads