Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Rupiah Menguat Tipis, Dibuka Rp16.980 Per Dolar AS

Jakarta :Nilai tukar rupiah dibuka menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 31 Maret 2026.

Rupiah Menguat Tipis, Dibuka Rp16.980 Per Dolar AS

Meski berada di zona hijau, pergerakan mata uang Garuda masih dibayangi tekanan berat akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah terapresiasi 0,03% ke posisi Rp16.980 per dolar AS. Posisi ini lebih baik dibandingkan penutupan perdagangan pada Senin, 30 Maret 2026, yang berada di level Rp16.985 per dolar AS.

Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) terpantau mengalami koreksi teknis sebesar 0,15% ke level 100,358. Walaupun melemah pagi ini, indeks yang mengukur kekuatan greenback tersebut masih bertahan di level tinggi setelah sempat menyentuh 100,61 pada awal pekan, rekor tertinggi sejak Mei tahun lalu.

Pemicu Sentimen Global

Penguatan rupiah saat ini dinilai terbatas akibat sentimen risk-off (menghindari risiko) yang dipicu oleh eskalasi perang antara AS-Israel melawan Iran. Konflik ini telah mendorong lonjakan harga minyak dunia dan membuat investor berebut mengamankan dana ke aset safe haven, terutama dolar AS.

Kondisi pasar semakin tegang menyusul beberapa peristiwa krusial:

Ancaman Donald Trump: Presiden AS Donald Trump memperingatkan akan menghancurkan fasilitas energi dan sumur minyak Iran jika Teheran tetap menutup Selat Hormuz.

Serangan Rudal & Tanker: Iran menolak proposal damai AS dan kembali meluncurkan rudal ke Israel. Selain itu, dilaporkan sebuah kapal tanker minyak Kuwait terkena serangan saat berlabuh di Dubai, yang memperparah kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

Kinerja Dolar: Sepanjang Maret 2026, indeks dolar mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak Juli 2025 dengan penguatan sekitar 2,9%.

Sikap Bank Sentral AS

Di tengah ketidakpastian global, Ketua Bank Sentral AS (The Fed) Jerome Powell mencoba meredam spekulasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Powell menyatakan bahwa otoritas moneter AS masih mengambil pendekatan wait and see (menunggu dan melihat) karena ekspektasi inflasi jangka panjang dianggap masih terjaga.

Pernyataan Powell tersebut sempat menekan imbal hasil (yield) obligasi tenor pendek AS. Namun, hal itu belum mampu melemahkan dominasi dolar secara signifikan, mengingat pasar tetap memburu mata uang AS sebagai perlindungan di tengah buruknya prospek pertumbuhan ekonomi global.

Adapun pelaku pasar domestik terus memantau pergerakan harga komoditas energi dan dinamika politik di Timur Tengah yang diperkirakan akan terus menjadi penggerak utama nilai tukar rupiah dalam beberapa hari ke depan.(*)

Hide Ads Show Ads