UAE Keluar Opec, Aliansi Minyak Global Melemah
Abu Dhabi: Keputusan Abu Dhabi Menjadi Kemenangan Diplomatik bagi Donald Trump di Tengah Krisis Selat Hormuz.
Uni Emirat Arab (UAE) secara resmi menyatakan pengunduran dirinya dari kartel minyak Opec setelah enam dekade bergabung.
Keputusan ini memberikan pukulan telak bagi organisasi tersebut serta pemimpin de facto-nya, Arab Saudi, di tengah guncangan krisis pasokan energi global yang kian memburuk.
Keluarnya UEA produsen minyak terbesar ketiga di Opec diprediksi akan melumpuhkan kekuatan kolektif kelompok tersebut dalam mengendalikan harga minyak mentah dunia.
Keputusan ini sekaligus dipandang sebagai kemenangan signifikan bagi Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya kerap melontarkan kritik tajam terhadap Opec karena dianggap merugikan ekonomi global melalui manipulasi harga.
Konteks Geopolitik dan Perang Iran
Keputusan ini diambil saat pasar energi memasuki pekan kesembilan konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
Perang tersebut telah melumpuhkan jalur perdagangan utama, di mana seperlima pasokan minyak dunia yang melalui Selat Hormuz terhenti, memicu volatilitas harga yang mencapai rekor tertinggi.
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Energi UAE menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari visi strategis jangka panjang.
"Keluar dari Opec akan memberikan fleksibilitas lebih besar bagi kami untuk merespons 'era energi baru' yang sejalan dengan visi ekonomi dan strategis jangka panjang negara," tulis pernyataan resmi tersebut sebagaimana dikutip dari laporan korresponden energi, Jillian Ambrose.
Ketegangan di Balik Layar
Mundurnya Abu Dhabi mengungkap keretakan yang telah lama terjadi antara UAE dan Arab Saudi.
Selama ini, Riyadh bersikeras melakukan pembatasan produksi untuk menjaga stabilitas harga. Sebaliknya, UAE merasa frustrasi dengan batasan tersebut dan berambisi memompa lebih banyak minyak guna mendanai transisi mereka menuju ekonomi rendah karbon.
Anwar Gargas, penasihat diplomatik kepresidenan UAE, dalam sebuah forum pada Senin lalu, sempat mengkritik lambatnya respons negara-negara Arab dan Teluk dalam melindungi negaranya dari serangan Iran selama konflik berlangsung. Hal ini disinyalir menjadi katalisator pergeseran loyalitas geopolitik UAE.
Analisis Pasar dan Dampak Global
Para analis menilai bahwa tanpa UAE, struktur Opec akan mengalami pelemahan struktural yang permanen.
"Pengunduran diri ini menandai pergeseran signifikan. Bersama Arab Saudi, UAE adalah satu-satunya anggota yang memiliki kapasitas cadangan bermakna mekanisme utama grup ini dalam mempengaruhi pasar," ujar Jorge León, analis dari Rystad Energy.
Senada dengan hal tersebut, David Oxley, Kepala Ekonom Komoditas di Capital Economics, menyebutkan bahwa pengumuman ini menunjukkan longgarnya ikatan antaranggota Opec+.
"Langkah ini memperkuat pandangan kami bahwa ikatan yang menyatukan anggota Opec telah merenggang. Pasokan global kemungkinan akan jauh lebih tinggi setelah Selat Hormuz dibuka kembali," ungkap Oxley.
Saat ini, harga minyak global telah menyentuh angka $119,50 per barel sejak pecahnya perang di Iran.
UAE menyatakan akan menambah pasokan ke pasar global secara bertahap dan terukur, menyesuaikan dengan kondisi permintaan pasar.
Dengan kapasitas produksi mencapai 4,8 juta barel per hari, UAE kini berada di posisi strategis untuk memonetisasi cadangannya di luar kendali kartel.(*)
