Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

DPRD Karawang Kunker DLH Untuk Minta Penjelasan Kasus Kematian Massal Ikan yang Terjadi di Aliran Irigasi Kawasan Leuweung Seureuh

Karawang : Komisi III DPRD Kabupaten Karawang melakukan kunjungan kerja ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Karawang untuk meminta penjelasan terkait kasus kematian massal ikan yang terjadi di aliran irigasi kawasan Leuweung Seureuh – Johar.(5/6/26).

Kantor Dinas LHK

Wakil Ketua Komisi III DPRD Karawang, Erick Heryawan Kusumah mengatakan, peristiwa tersebut menjadi perhatian serius karena tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan, tetapi juga berpotensi berdampak terhadap masyarakat.

“Bagi kami ini bukan sekadar persoalan ekologi. Dampak yang ditimbulkannya bisa sangat merugikan masyarakat, sehingga perlu ada penanganan dan investigasi yang serius,” ujar Erick usai melakukan pertemuan dengan DLH Karawang pada Rabu, (3/6).

Dalam pertemuan tersebut, Komisi III menerima penjelasan dari DLH mengenai langkah-langkah yang telah dilakukan sejak kasus kematian ikan mencuat. DLH bersama Satgas Citarum Harum disebut telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan verifikasi lapangan dan pengambilan sampel air di sejumlah titik.

Erick menjelaskan, sampel yang telah diambil saat ini tengah menjalani pengujian laboratorium guna mengetahui penyebab pasti kematian ribuan ikan tersebut.

“DLH sudah melakukan penyisiran lokasi dan pengambilan sampel air. Saat ini sampel sedang diuji di laboratorium. Memang prosesnya membutuhkan waktu sekitar 14 hari sampai hasilnya keluar,” katanya.

Menurutnya, hasil laboratorium nantinya akan menjadi dasar untuk mengetahui zat atau faktor dominan yang menyebabkan kematian ikan secara massal, sekaligus menelusuri sumber permasalahan yang terjadi.

“Kita ingin memperoleh data yang valid. Setelah hasil laboratorium keluar, baru bisa diketahui faktor apa yang menyebabkan ikan mati dan dari mana sumbernya,” ucapnya.

Sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, Erick mengimbau masyarakat untuk tidak mengonsumsi ikan yang ditemukan mati di lokasi kejadian. Menurutnya, hingga kini belum diketahui secara pasti kandungan apa yang terdapat di dalam air maupun tubuh ikan tersebut.

“Sebaiknya jangan dikonsumsi dulu. Kita tidak tahu zat apa yang menyebabkan ikan-ikan itu mati. Jangan sampai kesehatan masyarakat yang menjadi taruhannya,” tegasnya.

Ia menambahkan, langkah paling aman adalah menghindari konsumsi ikan yang ditemukan mati hingga hasil investigasi dan uji laboratorium selesai dilakukan.

Sementara itu, Kepala Bidang Tata Lingkungan dan Penataan Peraturan DLH Karawang, Lucky Mantera Dwi Putra mengatakan, pihaknya telah melakukan verifikasi lapangan mulai dari kawasan Walahar hingga Bendung Leuweung Seureuh dengan mengambil sampel air di beberapa titik.

Namun demikian, ia menegaskan pihaknya belum dapat menyimpulkan penyebab kematian ikan sebelum hasil laboratorium diterima.

“Kami belum bisa memastikan sumber penyebab kematian ikan itu akibat apa dan karena apa. Banyak indikator yang bisa menyebabkan ikan mati, salah satunya kadar oksigen terlarut yang rendah,” kata Lucky.

Ia menjelaskan, berbagai kemungkinan masih terus dikaji, termasuk dugaan adanya bahan pencemar yang masuk ke saluran irigasi. Namun seluruh dugaan tersebut harus dibuktikan melalui hasil pengujian laboratorium.

“Hasil laboratorium ini akan menjadi pintu awal untuk mengetahui apakah terdapat indikasi pencemaran dan dari mana sumbernya berasal. Karena itu kami meminta semua pihak menunggu hasil analisis laboratorium terlebih dahulu,” ujarnya.

Lucky memperkirakan hasil uji laboratorium baru akan diketahui dalam waktu sekitar 14 hari kerja. Setelah itu, DLH akan menyampaikan perkembangan lebih lanjut kepada masyarakat terkait penyebab kematian massal ikan di aliran irigasi tersebut.(*)

Hide Ads Show Ads