Ngeri Banget, Kabupaten Karawang Urutan Ketiga HIV di Jabar
Karawang: Di tengah berbagai persoalan sosial yang menjadi perhatian publik, Kabupaten Karawang menghadapi ancaman kesehatan yang tak kalah serius. Berdasarkan data terbaru Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Karawang, daerah ini kini menempati peringkat ketiga dengan jumlah kasus HIV tertinggi di Provinsi Jawa Barat.(10/6/26).
Dikutip dari KBE online, Data KPA menunjukkan, secara kumulatif sejak tahun 2000 hingga Maret 2026, terdapat 4.733 kasus HIV yang tercatat di Kabupaten Karawang. Sementara pada triwulan pertama tahun 2026 saja, ditemukan sebanyak 188 kasus baru.
Meski secara tahunan angka temuan kasus mengalami penurunan dari 886 kasus pada tahun 2024 menjadi 757 kasus pada tahun 2025, laju penyebaran HIV masih menjadi perhatian serius. Apalagi, mayoritas penderita yang ditemukan berasal dari kelompok usia produktif antara 20 hingga 49 tahun.
Yang lebih mengkhawatirkan, kasus HIV juga mulai banyak ditemukan pada kelompok usia remaja. Pada tahun 2025 tercatat sebanyak 38 kasus terjadi pada kelompok usia 15 hingga 19 tahun. Sedangkan hingga Maret 2026, sudah ditemukan 10 kasus baru pada kelompok usia yang sama.
Staff Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Karawang, Yana, mengatakan peningkatan kasus di kalangan remaja menjadi sinyal yang perlu mendapat perhatian seluruh pihak.
“Ini menunjukkan bahwa edukasi dan pencegahan harus terus diperkuat, terutama kepada generasi muda agar memahami risiko penularan HIV dan pentingnya menjaga perilaku hidup sehat,” ujarnya.
Berdasarkan kelompok risiko, temuan kasus baru pada awal tahun 2026 didominasi kelompok Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL) sebanyak 76 kasus. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibanding kelompok risiko lainnya.
Selain itu, penularan juga ditemukan pada kelompok heteroseksual dengan perilaku seksual berisiko. Karena itu, KPA menegaskan bahwa HIV bukan hanya persoalan kelompok tertentu, melainkan ancaman kesehatan masyarakat yang dapat menyerang siapa saja yang melakukan perilaku berisiko.
Menurut Yana, salah satu tantangan terbesar dalam pengendalian HIV saat ini adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan tes secara sukarela. Banyak orang baru mengetahui dirinya terinfeksi setelah mengalami gangguan kesehatan atau memasuki fase lanjut penyakit.
“Masih banyak yang enggan memeriksakan diri karena takut atau merasa tidak berisiko. Padahal deteksi dini sangat penting agar pengobatan bisa segera dilakukan dan penularan dapat dicegah,” katanya.(*)
