Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

8 Pemain Bakal Bersinar di Perempat Final Piala Dunia 2026

Amerika Serikat: Beberapa pemain diyakini bakal mampu memberikan pengaruh signifikan pada timnya di perempat final Piala Dunia 2026.
Ousmane Dembele dan Michael Olise dinilai bisa mendapatkan peran lebih di lini depan Prancis untuk Piala Dunia 2026.

Delapan tim telah memastikan tempat di perempat final Piala Dunia FIFA 2026. Norwegia dan Inggris kini akan bertarung memperebutkan tempat di babak empat besar Piala Dunia, sementara Prancis akan menghadapi Maroko, Spanyol melawan Belgia, dan Argentina berhadapan dengan Swis.

Jika melihat peringkat dunia FIFA saat ini, Prancis di posisi pertama sementara calon lawannya Maroko ke-6. Spanyol di posisi ketiga dunia melawan Belgia yang berada di peringkat ke-8.

Norwegia menjadi negara kontestan delapan besar dengan peringkat terendah, ke-19, akan menghadapi tim peringkat ke-4, Inggris. Sedangkan juara bertahan Argentina yang kini berperingkat kedua akan melawan tim peringkat ke-14, Swis.

Menjelang babak perempat final—saat performa individu bisa jadi merupakan faktor penentu—inilah saatnya menyoroti para pemain bintang maupun pemain pendukung yang kemungkinan besar akan memberikan dampak signifikan terhadap jalannya pertandingan.

Berikut adalah delapan pemain paling krusial untuk babak perempat final Piala Dunia 2026.

Prancis – Michael Olise, Gelandang Serang

Tim-tim terbaik dunia biasanya memiliki penyerang yang mampu membantu saat bertahan, bek yang ikut menyerang, dan gelandang yang mengatur transisi di antara keduanya.

Semakin banyak pemain yang berkontribusi dalam serangan, semakin banyak gol yang tercipta—dan begitu pula sebaliknya.

Prancis—juara Piala Dunia 1998 dan 2018—sebenarnya tidak benar-benar memiliki karakteristik tersebut, namun mereka memiliki Michael Olise. Sederhananya: tim ini tidak akan berjalan baik tanpanya. Namun dengan kehadirannya? Prancis menjadi favorit juara Piala Dunia.

Menurut aplikasi statistik Futi, Olise terlibat dalam 11% fase permainan Prancis—angka tertinggi di tim. Namun, ia menempati peringkat kedua di tim dalam hal expected goals (xG) yang dihasilkan tetapi memimpin turnamen untuk jumlah assist, lima.

Olise mencatatkan akurasi operan sebesar 83%, sekaligus memimpin tim dengan 32 operan progresif. Olise menempati peringkat kedua di skuad dalam hal aksi bertahan di area lawan, namun memimpin tim dalam aksi membawa bola secara progresif (progressive carries).

Prancis bisa saja memiliki bek yang hanya bertahan dan penyerang yang hanya menyerang, namun tetap menjadi tim terbaik di dunia karena Olise melipatgandakan performa tim di semua lini.

Olise adalah pengoper bola sekaligus pencipta peluang tembakan yang elite. Ia penyerang kelas dunia yang memiliki frekuensi sentuhan bola dan tingkat kehilangan bola setara dengan gelandang papan atas. Ia mampu melewati bek lawan dengan dribel semudah ia mengirimkan umpan terobosan di antara mereka.

Kebanyakan tim mungkin akan khawatir memikirkan cara menghentikan Kylian Mbappe. Namun, mereka lupa bahwa cara menghentikan Mbappe adalah dengan “mematikan” Olise.

Maroko – Achraf Hakimi, Full-Back

Sebelum membahas Achraf Hakimi, tidak ada salahnya membahas perbedaan utama antara full-back (bek sayap) dengan wing-back (bek sayap serang).

Full-back adalah bek lebih fokus pada tugas bertahan di formasi empat bek. Sementara, wing-back memiliki kebebasan lebih untuk maju menyerang dan biasanya digunakan dalam formasi tiga atau lima bek.

Hakimi adalah pemain full-back, yang bisa dibilang Olise di Maroko. Hakimi tipe pemain istimewa yang mampu melakukan begitu banyak hal sehingga rekan-rekan setimnya bisa fokus sepenuhnya pada tugas yang menjadi keahlian mereka masing-masing.

Dia terlibat dalam 12% dari seluruh fase permainan Maroko—angka tertinggi di tim—dan berhasil memenangi 80 di antaranya. Artinya, keterlibatannya turut meningkatkan peluang tim untuk mencetak gol.

Tidak ada pemain lain di tim yang mencatatkan lebih dari 55 fase permainan sukses, dan Hakimi mencatatkan hampir 100 sentuhan bola lebih banyak di sepertiga akhir lapangan dibanding pemain lainnya dalam skuad.

Hakimi memimpin statistik Maroko dalam hal jumlah tembakan (13) dan xG (2,1). Dia juga memimpin tim dalam hal penciptaan peluang (13), sementara tidak ada pemain lain yang bahkan mencapai angka dua digit.

Sulit bagi Hakimi untuk menghentikan Mbappe dan Olise sekaligus. Namun yang pasti, Hakimi merupakan satu-satunya pemain di dunia yang mampu bertahan menghadapi Mbappe sekaligus berkontribusi di sepertiga akhir lapangan secara konsisten dalam satu pertandingan yang sama.

Norwegia – Erling Haaland, Penyerang Tengah


Penyerang Norwegia, Erling Haaland.

Foto: TVRI/Grafis/Jovi Arnanda

Melihat penampilannya, utamanya wajahnya yang terlihat jenaka, sulit untuk mengatakan Erling Haaland sebagai salah satu striker hebat di dunia saat ini. Namun jika melihat statistiknya—utamanya untuk Tim Nasional Norwegia—barulah orang menyadari asumsi mereka salah.

Di era sepak bola modern saat ini, hanya Haaland yang mampu mencatat rasio gol dengan penampilan lebih dari 1. Hingga laga melawan Brasil di babak 16 besar Piala Dunia 2026 pada Minggu (05/07/2026) lalu, Haaland sudah mencetak 62 gol hanya dalam 54 laga untuk Norwegia (rasio gol 1,14).

Torehan impresif Haaland membuatnya sejajar dengan hanya segelintir pemain hebat seperti Sandor Kocsis (Hungaria) dengan 75 gol hanya dalam 68 penampilan (75/68), Gerd Muller (Jerman Barat) dengan 68 gol/62 laga, Poul Nielsen (Denmark) dengan 52 gol/38 laga, Just Fontaine (Prancis) dengan 30 gol/21 laga, dan Gunnar Nordahl (Swedia) dengan 43 gol/33 laga.

Di Piala Dunia pertamanya ini, Haaland hanya terlibat dalam 4% fase permainan Norwegia. Ia mencatatkan total 35 operan dan berhasil melewati satu pemain bertahan lewat dribel—jumlah yang sama dengan yang dicatatkan kiper Tanjung Hijau yang sudah berusia 40 tahun, Vozinha.

Namun, beda cerita untuk Haaland untuk urusan serangan. Statistik dari Opta menunjukkan striker berusia 25 tahun itu mencatat xG 4,32 dan hanya kalah dari Lionel Messi (Argentina).

Haaland melepaskan 18 tembakan yang 12 di antaranya tepat target, paling efisien sejauh ini—di antara pemain yang sudah turun di empat atau lebih laga—bersama Vinicius Junior (Brasil) yang melepaskan 17 tembakan dengan 11 tepat target.

Itulah mengapa di antara pemain dari delapan tim perempat final, angka persentase conversion rate Haaland adalah yang tertinggi, yakni 38,89%. Dua pemain yang paling mendekatinya adalah Jude Bellingham (Inggris) serta Ousmane Dembele dan Bradley Barcola (keduanya Prancis) yang sama-sama memiliki conversion rate 33,33%.

Haaland bukan tipe striker pelari cepat, meskipun ia mampu melakukan itu. Ia lebih menyukai bermain taktis dan efisien dengan mengandalkan positioning dan timing atau momentum. Itulah yang ia lakukan saat memborong dua gol ke gawang Brasil untuk memenangi laga, 2-1.

Inggris hampir pasti akan mengambil pendekatan berbeda dan berusaha mengurung Norwegia di area pertahanan mereka sendiri, seperti yang mereka lakukan saat melawan Panama, Gana, dan RD Kongo.

Namun, lini belakang Three Lions tampak cukup rapuh pada beberapa momen ketika tim-tim lawan tersebut berhasil keluar dari tekanan dan melakukan serangan balik cepat. Situasi ini jelas sangat disukai Haaland.

Inggris – Jude Bellingham, Gelandang Serang

Harry Kane mungkin pemain terbaik Inggris saat ini tetapi Jude Bellingham adalah pemain Three Lions yang paling krusial. Bellingham mungkin saja merupakan pemain terbaik Inggris juga.

Menurut data Futi, Bellingham piawai dalam segala hal dengan kemampuannya berada di atas rata-rata dalam hal menembak, menggiring bola, menghubungkan permainan, dan merebut bola. Namun, kekuatan utamanya terletak pada pergerakan tanpa bolanya.

Silakan tonton kembali gol pembuka Bellingham saat melawan Meksiko. Ia berada sejauh sekitar 36 meter dari gawang ketika Bukayo Saka memulai aksi dribel awalnya. Ada lima pemain lawan di antara dirinya dan pusat kotak penalti, namun dia berhasil mencapai titik tersebut lebih cepat daripada mereka semua.

Seorang gelandang yang gemar melakukan pergerakan dari lini tengah masuk ke dalam kotak penalti lawan semacam Bellingham ini sangat berbahaya karena beberapa alasan.

Pertama, sulit bagi bek—yang biasanya lebih suka menjaga ruang—untuk mengikuti pergerakan tersebut. Lalu, dibutuhkan koordinasi tingkat tinggi layaknya di NBA agar pertahanan lawan bisa mengantisipasinya tanpa kehilangan keteraturan formasi.

Inggris biasanya memainkan pola permainan posisi yang sangat konservatif saat menguasai bola. Pergerakan tanpa bola Bellingham menjadi satu-satunya risiko nyata yang mereka ambil saat memegang bola, dan hal ini menjadi kunci terciptanya sebagian besar gol mereka sejauh turnamen ini berlangsung.

Tentu saja, memiliki gelandang yang hanya berlari masuk ke kotak penalti tanpa melakukan hal lain akan sangat mengacaukan keseimbangan tim. Namun, Bellingham juga melakukan segala hal lainnya dengan kualitas yang sangat baik hingga luar biasa.

Bellingham menerima 37 operan progresif—terbanyak di tim—yang memungkinkan penyerang tengah Kane untuk turun lebih dalam saat tim menguasai bola. Dia telah melewati lebih banyak bek melalui aksi dribel dibanding pemain Inggris lainnya.

Bellingham juga memimpin tim dalam hal sentuhan bola di sepertiga akhir lapangan. Ia menempati peringkat ketiga dalam aksi bertahan di area penyerangan lawan dan peringkat keenam dalam aksi bertahan di area pertahanan sendiri.

Singkatnya, Bellingham adalah sosok perekat permainan sekaligus penentu kemenangan bagi Inggris.

Spanyol – Lamine Yamal, Penyerang Sayap

Dalam lima pertandingan, Spanyol telah mencatatkan 2.944 sentuhan bola di sepertiga akhir lapangan. Sejauh ini, belum ada tim lain yang bahkan mencapai angka 2.600.

Tim ini secara sistematis telah “dirancang” untuk selalu mampu mengalirkan bola ke sepertiga akhir lapangan dan mempertahankannya di sana selama hampir 20 tahun terakhir.

Menguasai bola dan mengalirkannya ke depan bukanlah masalah bagi tim ini. Sejujurnya, bahkan jika 50 pemain terbaik Spanyol mengalami cedera sekalipun, tim ini akan tetap menjadi tim yang piawai dalam penguasaan bola.

Perbedaan antara Spanyol—juara Piala Dunia 2010—sebagai penantang gelar yang tidak sempurna dan membuat frustrasi, dengan La Roja sebagai tim terbaik yang tak terbantahkan di turnamen ini, akan sangat bergantung pada apa yang terjadi setelah aksi dribel tersebut.

Data FotMob menyebut Lamine Yamal sudah melakukan 17 dribel sukses (keberhasilan 53,1%). penyerang sayap FC Barcelona itu juga melakukan 34 sentuhan di kotak penalti lawan serta membuat 5 umpan sukses.

Kemampuannya menciptakan peluang tembakan—baik untuk dirinya sendiri maupun rekan setimnya—di level elite sepanjang musim lalu inilah yang menjadikannya pemain yang bisa dibilang terbaik di dunia.

Publik belum melihat hal itu terjadi di Piala Dunia. Yamal baru mencetak satu gol dan total hanya menciptakan lima peluang bagi rekan setimnya.

Belgia – Jeremy Doku, Penyerang Sayap


Sayap Timnas Belgia, Jeremy Doku.

Foto: TVRI/Grafis/Dede Mauladi

Performa Jeremy Doku memang fluktuatif. Namun, ia memiliki potensi luar biasa yang jika timnya—entah bagaimana caranya—masuk final kemungkinan besar bakal menjadi motor penggerak di baliknya.

Doku baru menjadi starter dalam tiga dari lima pertandingan Belgia, dan ia hanya bermain lebih dari satu jam dalam satu pertandingan saja. Saat di lapangan, kontribusinya pun tidak terlalu mencolok—kecuali beberapa menit yang cukup apik di fase akhir pertandingan (saat hasil laga sudah tak lagi menentukan) melawan Timnas Amerika Serikat.

Winger berusia 24 tahun itu belum mencetak gol maupun assist. Hanya membuat 0,2 xG dan 0,2 expected assists, tiga percobaan tembakan, dan tiga peluang yang berujung tembakan. Statistik itu setara dengan kontribusi satu babak permainan bagi banyak pemain lain dalam daftar ini.

Namun, di Liga Premier musim lalu, Doku menjelma menjadi salah satu pemain terbaik di kompetisi tertinggi sepak bola Inggris tersebut. Doku adalah salah satu pembawa bola (ball carrier) terbaik di dunia saat ini.

Ia mencatatkan 238 progressive carries (membawa bola maju ke arah gawang lawan) musim lalu. Jumlah terbanyak berikutnya di liga hanya mencapai 151.

Dulu, permainan Doku hanya sebatas membawa bola dan minim kontribusi lain. Namun tahun ini, ia mengubah kemampuan itu menjadi 8,2 expected assists—terbanyak keenam di antara semua pemain di Inggris. Saat berada dalam performa terbaiknya, Doku praktis tidak terbendung.

Menjelang perempat final, Belgia menjadi tim yang paling tidak diunggulkan kedua untuk memenangi tiga pertandingan berikutnya dan mengangkat trofi Piala Dunia. Belgia hanya memiliki peluang 4% untuk juara dan hanya 26% peluang untuk melewati Spanyol dan melaju ke semifinal.

Doku mungkin tidak akan menjadi starter saat melawan Spanyol nanti. Namun, jika pelatih Rudi Garcia berubah pikiran dan memainkannya sejak awal, akan menarik untuk melihat apakah Doku bakal menampilkan permainan seperti di klubnya, Manchester City, di Liga Premier musim 2025-2026 lalu.

Argentina – Lisandro Martinez, Bek Tengah

Pertanyaan yang pertama muncul begitu ada nama lain yang disebut bakal krusial memengaruhi permainan Argentina adalah: “Mengapa bukan Lionel Messi?”

Bagi sebagian besar orang, kontribusi dan pencapaian Messi untuk Argentina sudah tidak bisa dibandingkan lagi dengan pemain lain. Faktanya, Messi tetap memerlukan pemain yang lebih muda untuk membantu maupun menutupi kekurangannya jika taktik dari pelatih Lionel Scaloni tidak berjalan.

Karena Scaloni tetap menolak memakai sayap di Piala Dunia ini, itu artinya Argentina harus mampu mengalirkan bola cepat ke tengah lapangan—karena di situlah semua pemain lawan berada—dan melakukan semuanya di tengah kepadatan pemain.

Bagian terpenting dari rencana ini mungkin adalah Lisandro Martinez dari Manchester United. Ia berperan dalam terciptanya gol pembuka saat melawan Tanjung Hijau, serta mencatatkan jumlah operan progresif (31) yang sembilan lebih banyak dibandingkan rekan setim mana pun selain Messi.

Karena Messi hampir tidak terlibat dalam aspek pertahanan, Argentina sangat kesulitan untuk melakukan tekanan (pressing) dan mengurung lawan di sepertiga akhir lapangan.

Saat mereka bertahan dengan baik, hal itu terjadi karena seluruh pemain bertahan mereka aktif melakukan aksi pertahanan. Martinez menempati peringkat kedua di skuad Argentina dalam hal aksi pertahanan di sepertiga akhir lapangan.

Swis – Gregor Kobel, Kiper

Selain Vozinha (Tanjung Hijau) dan Eloy Room (Curacao), tidak banyak penampilan kiper yang luar biasa musim panas ini. Atau setidaknya, tidak banyak kiper yang menjadi faktor kunci keberhasilan tim mereka melaju hingga sejauh perempat final.

Swis adalah tim yang paling tidak diunggulkan di perempat final, dan jika mereka berhasil menaklukkan Argentina, sulit membayangkan hal itu terjadi tanpa performa heroik dari kiper Gregor Kobel.

Publik sudah pernah melihat kiper Borussia Dortmund tersebut melakukan hal seperti itu dalam perjalanan Nati ke delapan besar. Hal tersebut diperkuat dengan statistik.

Opta mencatat, dari delapan kiper di perempat final, Unai Simon (Spanyol) masih yang sempurna karena mencatat persentase penyelamatan 100%. Kiper Athletic Bilbao itu juga belum kemasukan (clean sheet). Namun, hal itu terjadi berkat kuatnya pertahanan La Roja karena Simon hanya 6 kali melakukan penyelamatan dalam lima pertandingan.

Kendati begitu, statistik Kobel masih yang terbaik di antara delapan kiper tim perempat finalis yang sudah bermain di lima laga sejak fase grup. Opta mencatat, Kobel melakukan 16 penyelamatan dengan hanya kemasukan 3 gol.

Bandingkan dengan Emiliano Martinez (Argentina) yang hanya melakukan 4 penyelamatan dan 5 kebobolan (4/5), Thibaut Curtois (Belgia) dengan 10/5, Yassine Bounou (Maroko) dengan 9/4, atau Mike Maignan (Prancis) dengan 8/2.  

Persentase penyelamatan yang dicatatkan Kobel—84,2%—juga hanya kalah dari Simon, di antara delapan kiper tim-tim perempat finalis.

Kemampuan Kobel dalam menghalau tembakan dan melakukan sejumlah penyelamatan gemilang telah memberikan keunggulan bagi Swiss dalam kemenangan adu penalti di babak 16 besar. 

Secara keseluruhan, Kobel telah menghadapi tembakan tepat sasaran dengan nilai expected goals on target conceded (xGOT conceded) sebesar 4,6 namun hanya kebobolan dua gol (di luar gol bunuh diri). 

Dengan selisih hampir tiga gol—karena nilai goals prevented Kobel 2,6—itu menjadi angka terbesar dibanding kiper manapun di turnamen ini.

Jadwal Perempat Final Piala Dunia 2026 
Jumat, 10 Juli – Prancis vs Maroko – mulai pukul 02.00 WIB
Sabtu, 11 Juli – Spanyol vs Belgia – mulai pukul 01.00 WIB
Minggu, 12 Juli – Norwegia vs Inggris – mulai pukul 03.00 WIB
Minggu, 12 Juli – Argentina vs Swis – mulai pukul 07.00 WIB
Keterangan: Semua disiarkan secara langsung di TVRI Sport dan TVRI Nasional. (*)

Hide Ads Show Ads