Ini 3 Cara Unik Gen Z Wujudkan Work-Life Balance Demi Kesehatan Mental
Karawang : Di tengah ritme dunia kerja modern yang makin cepat dan menuntut, indikator kesuksesan bagi generasi muda telah menggeser fokusnya. Jika generasi sebelumnya kerap mengukur keberhasilan dari jabatan tinggi atau kepemilikan materi, Gen Z kini memandang kesehatan mental dan kualitas hidup sebagai prioritas yang paling utama.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Laporan Deloitte Global 2024 Gen Z and Millennial Survey mengungkapkan fakta yang mengejutkan: sebanyak 46% Gen Z mengaku merasa cemas dan stres hampir sepanjang waktu kerja mereka. Survei yang sama juga mencatat bahwa keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan (work-life balance) kini menjadi pertimbangan utama Gen Z dalam memilih perusahaan, sekaligus menjadi nilai yang paling mereka kagumi dari rekan kerja.
Sebagai generasi yang tumbuh bersama pesatnya teknologi digital, Gen Z memiliki mekanisme unik tersendiri untuk meredam risiko burnout. Berikut adalah tiga cara populer yang mereka terapkan demi menjaga keseimbangan mental dan fisik di tempat kerja:
1. Menyusun Skala Prioritas, Bukan Sekadar To-Do List
Alih-alih memaksakan diri menyelesaikan semua pekerjaan sekaligus, Gen Z mulai membiasakan diri memilah tugas berdasarkan skala prioritas. Mereka secara cerdik membedakan mana pekerjaan yang benar-benar mendesak dan mana yang bisa ditunda.
Menariknya, Gen Z juga tak ragu membandingkan beban tugas harian mereka dengan deskripsi pekerjaan (job description) di kontrak awal. Langkah ini dipandang sebagai bentuk edukasi diri yang bijak untuk menetapkan batasan (boundaries) yang sehat, mencegah eksploitasi beban kerja berlebih, serta menjaga kestabilan energi sepanjang hari.
2. Menjadikan Self-Reward sebagai Apresiasi Psikologi
Istilah self-reward atau memberikan penghargaan kepada diri sendiri usai menuntaskan target kerja kerap diidentikkan dengan perilaku konsumtif. Namun bagi Gen Z, hal ini adalah mekanisme pertahanan diri (coping mechanism) yang rasional di era kompetitif.
Bagi mereka, self-reward bukanlah bentuk kelemahan mental, melainkan cara efektif untuk memicu pelepasan hormon dopamin yang mendatangkan rasa bahagia. Melalui momen apresiasi diri ini, kesehatan psikologis tetap terjaga sehingga motivasi kerja tidak padam di pertengahan jalan.
3. Kombinasi Olahraga Ringan dan Asupan Buah Kaya Antioksida
Manajemen stres Gen Z tidak hanya terbatas pada area meja kerja, tetapi juga merambah ke gaya hidup sehat. Aktivitas fisik ringan seperti perenggangan (stretching), yoga, hingga jalan santai di sela waktu istirahat kerap diandalkan untuk memicu pelepasan hormon endorfin pemantik suasana hati positif.
Sisi perawatan dari dalam pun tak kalah diperhatikan. Mengutip riset yang dipublikasikan dalam jurnal Nutrients (2024), pola makan tinggi buah dan sayur serta rendah gula terbukti secara klinis mampu menurunkan tingkat kecemasan.
Konsumsi buah-buahan kaya Vitamin C—seperti jeruk, kiwi, dan stroberi—menjadi pilihan favorit Gen Z saat memilih camilan harian. Kandungan antioksidannya ampuh melawan radikal bebas akibat stres oksidatif, menjadikan tradisi “ngemil sehat” sebagai sarana rehat sejenak yang menyegarkan di tengah padatnya jam kantor.
Melalui pendekatan yang lebih sadar akan batas kemampuan diri ini, Gen Z membuktikan bahwa menjadi pekerja yang produktif tidak harus mengorbankan kesehatan mental dan kebahagiaan pribadi.(*)
