Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Kasus Kematian Sutrismo Mendapatkan Sorotan Tajam DPR, Polisi Diminta Transparan dan Profesional

Jakarta : Anggota Komisi III DPR RI, Hasbiallah Ilyas mendukung, Polda Metro Jaya mengusut kematian Sutrismo, penjaga rumah mantan Jampidsus, Febrie Adriansyah. Dengan catatan, proses penyelidikan harus dilakukan secara profesional, transparan, dan berbasis pembuktian ilmiah.

Polisi melakukan olah TKP meninggalnya Sutrimo, yang diduga Karumga eks Jampidsus Febrie Adriansyah di kawasan Klinik Mordent, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (26/7/2026) malam
Polisi melakukan olah TKP meninggalnya Sutrimo, yang diduga Karumga eks Jampidsus Febrie Adriansyah di kawasan Klinik Mordent, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (26/7/2026) malam

Menurut Hasbiallah, langkah cepat aparat kepolisian sangat penting untuk mengungkap penyebab pasti kematian korban. Ia menilai, penyidikan yang komprehensif diperlukan agar tidak muncul spekulasi yang dapat menyesatkan opini publik.

"Mendukung penuh langkah Polda Metro Jaya untuk bergerak cepat mengusut tuntas kematian Sutrismo secara profesional. Transparan dan akuntabel," kata Hasbiallah dalam keterangan persnya, di Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026.

Hasbiallah menyoroti, informasi mengenai kondisi jenazah yang disebut mengeluarkan busa dari mulut dan hidung. Dugaan apa pun, termasuk kemungkinan keracunan, hanya dapat dipastikan melalui hasil pemeriksaan medis dan laboratorium forensik.

"Melihat kondisi jenazah yang mengeluarkan busa dari mulut dan hidung, secara kasatmata terdapat indikasi yang perlu didalami. Termasuk kemungkinan dugaan keracunan, karena itu, hasil uji laboratorium forensik dan otopsi menjadi sangat penting," ucap Hasbiallah.

Lalu, ia menilai, latar belakang korban sebagai penjaga rumah mantan Jampidsus membuat kasus tersebut menjadi perhatian publik. Karena itu, penyidik diminta menyampaikan perkembangan perkara secara terbuka agar tidak memunculkan berbagai spekulasi.

"Keterkaitan latar belakang tersebut berpotensi memunculkan berbagai spekulasi apabila tidak dijelaskan secara transparan. Karena itu, aparat penegak hukum harus memberikan kepastian hukum melalui proses penyidikan yang profesional," ujar Hasbiallah.

Ke depannya, Hasbiallah menekankan, pentingnya penerapan scientific crime investigation dalam mengungkap perkara tersebut. Menurutnya, pendekatan berbasis bukti ilmiah menjadi cara terbaik untuk memastikan seluruh fakta terungkap secara objektif.

"Tidak ada jalan lain selain mengusut kasus ini secara sangat serius melalui scientific crime investigation. Dengan ketegasan, profesionalisme, dan keterbukaan, kepolisian dapat menjawab kesimpangsiuran informasi di masyarakat serta mengungkap penyebab kematian almarhum secara tuntas," kata Hasbiallah.

Sebelumnya, Polda Metro Jaya memastikan, informasi yang beredar di media sosial mengenai Sutrismo tewas akibat ditembak orang tak dikenal tidak benar. Polisi menegaskan, kabar tersebut merupakan hoaks.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto mengatakan, pihaknya telah melakukan pengecekan terhadap informasi tersebut. Ia mengimbau, masyarakat agar tidak mudah mempercayai ataupun menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

"Sejauh ini kami sudah mengonfirmasi dengan Kasat Reskrim Jakarta Selatan. Itu adalah hoaks," kata Budi.

Polisi menjelaskan, Sutrismo ditemukan meninggal dunia di sebuah klinik di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis, 23 Juli 2026. Hingga kini, penyebab pasti kematiannya masih dalam penyelidikan.

Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP), penyidik menyatakan belum menemukan indikasi adanya racun. Meski demikian, sejumlah barang bukti telah diamankan dan dikirim ke Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri untuk pemeriksaan lebih lanjut.(*)

Hide Ads Show Ads