Krisis Air Bersih di Gunungkidul, Warga Andalkan Genangan Kali untuk Bertahan
Yogyakarta; Musim kemarau yang berlangsung dalam beberapa bulan terakhir menyebabkan krisis air bersih di Padukuhan Duwet, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sekitar 250 kepala keluarga atau lebih dari 500 jiwa terdampak dan harus menempuh perjalanan sejauh tiga hingga lima kilometer untuk mendapatkan air bersih.
Sumber air terdekat yang masih dapat dimanfaatkan berada di Kali Wonosari. Dengan membawa galon bekas air mineral, warga mengambil air dari genangan yang tersisa. Meski kondisi air tampak keruh, mereka tidak memiliki pilihan lain karena air tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, minum, mandi, mencuci, hingga kebutuhan ternak.
Dalam sehari, satu keluarga dapat bolak-balik ke sumber air sebanyak enam hingga sepuluh kali. Sebagian warga bahkan memilih mandi di lokasi tersebut dengan memanfaatkan fasilitas pemandian sederhana yang dibangun secara swadaya. Ada pula warga yang membawa hingga 30 galon dalam satu kali perjalanan agar persediaan air di rumah dapat bertahan lebih lama.
Bagi warga, musim kemarau tahun ini tidak hanya mengeringkan lahan pertanian, tetapi juga menguras tenaga dan waktu demi memperoleh air bersih.
"Tiga sampai empat galon untuk mandi dan masak, terutama untuk minum," ujar Wiwin Nurhayati, salah seorang warga, dikutip Kamis, 23 Juli 2026.
Sementara itu, warga lainnya, Mulyono, mengatakan pasokan air dari sumber tersebut masih belum mencukupi kebutuhan sehari-hari sehingga warga tetap harus membeli air dan mengandalkan bantuan distribusi air bersih menggunakan truk tangki dari pemerintah.
"Air ini digunakan untuk konsumsi dan kebutuhan lainnya, tetapi tetap tidak cukup. Ini disambung membeli air dan dibantu pemerintah melalui truk tangki. Tahun-tahun sebelumnya juga seperti ini. Kondisi ini sangat berat, apalagi bagi warga yang tidak memiliki penampungan air atau memiliki anak kecil," kata Mulyono.
Kondisi sulit ini telah dirasakan warga selama sekitar dua bulan terakhir. Sebelumnya, masyarakat sempat memiliki jaringan air bersih yang dibangun untuk membantu memenuhi kebutuhan air. Namun, jaringan tersebut tidak lagi berfungsi selama lebih dari dua tahun akibat pompa air mengalami kerusakan dan tidak tersedia anggaran untuk perbaikannya.
Warga pun berharap adanya penanganan agar akses terhadap air bersih dapat kembali normal, terutama saat musim kemarau.(*)
