Mengapa Hepatitis Disebut Silent Killer dan Baru Ketahuan Setelah Bertahun-tahun? Ini Penjelasannya
Karawang : Hepatitis yang disebabkan virus sering dijuluki silent killer karena gejalanya sangat ringan atau bahkan tidak muncul sama sekali. Banyak orang baru menyadari dirinya terinfeksi setelah beberapa bulan hingga bertahun-tahun.
Menurut National Library of Medicine AS, (30/7/26), saat sudah terdiagnosis, kondisi hati umumnya sudah mengalami kerusakan yang cukup parah.Istilah hepatitis merujuk pada peradangan hati yang bisa disebabkan oleh virus, alkohol, zat berbahaya, racun, hingga penyakit tertentu. Dari sekian jenisnya, tiga yang paling umum adalah hepatitis A, B, dan C.
Hepatitis A sangat menular melalui makanan, minuman, dan kontaminasi tinja, namun biasanya bisa sembuh dalam dua bulan dan jarang menimbulkan komplikasi. Hepatitis B dapat menular lewat hubungan seksual, berbagi jarum suntik, dan kontak langsung dengan darah penderita.
Meski berisiko menyebabkan kerusakan hati jangka panjang, sebagian besar penderitanya bisa pulih dalam enam bulan. Sementara itu hepatitis C merupakan infeksi jangka panjang yang sering tidak bergejala dan bisa memicu jaringan parut atau sirosis pada hati.
Berbeda dengan hepatitis A dan B, hepatitis C sampai saat ini belum memiliki vaksin.Hepatitis dibagi menjadi dua, yaitu akut dan kronis. Hepatitis akut berlangsung kurang dari enam bulan. Jika lebih dari itu maka dikategorikan kronis. Masalahnya, sebagian besar penderita hepatitis kronis tidak menyadarinya karena tidak merasakan gejala.
Tanpa disadari, fungsi hati terus menurun selama bertahun-tahun. Seiring waktu kerusakan akan memicu fibrosis dan berlanjut menjadi sirosis. Pada tahap ini struktur hati berubah sehingga fungsi utamanya terganggu.Tanda-tanda mulai terlihat ketika kerusakan sudah lanjut.
Penderita bisa mengalami pengecilan otot karena nafsu makan menurun dan hati tidak mampu memproduksi protein pembentuk otot. Perut dan pergelangan kaki juga bisa membengkak karena tubuh kesulitan mengatur natrium dan membuang cairan serta racun.
Komplikasi lain yang mungkin muncul adalah pendarahan pada kerongkongan atau lambung, pembengkakan perut, hingga kesulitan berpikir dan mengambil keputusan.Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya melakukan pemeriksaan fisik dan tes darah guna mendeteksi antibodi.
Pada kasus hepatitis B atau C, tes lanjutan diperlukan untuk melihat perkembangan penyakit dari akut ke kronis. Biopsi hati juga bisa dilakukan dengan mengambil sedikit jaringan hati untuk dianalisis di laboratorium.
Karena gejalanya samar, penting untuk lebih peduli terhadap kesehatan dan rutin melakukan medical check-up. Deteksi sejak dini dapat mencegah kerusakan hati yang lebih serius di kemudian hari.(*)
