Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Sentimen Pasar Masih Dibayangi Kekhawatiran, Nilai Tukar Rupiah Makin Loyo

Jakarta ; Nilai tukar rupiah masih mengalami tekanan oleh dolar Amerika Serikat (AS) hingga pembukaan perdagangan Rabu 29 Juli 2026. Menurut data Bloomberg, rupiah dibuka turun 0,12 persen atau 21 poin ke posisi Rp18.104 per dolar AS.
Lembaran uang rupiah nominal Rp100.000 emisi 2022

Analis pasar uang dari Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, mengatakan setidaknya ada tiga faktor yang membuat rupiah masih melemah. Secara eksternal, prospek perdamaian AS-Iran dan indeks keyakinan konsumen di AS menjadi faktor utama.

Sedangkan faktor internal atau domestik berupa sentimen negatif pasar usai pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI). “Pasar masih mengkhawatirkan soal independensi BI setelah mundurnya Perry Warjiyo,” ujarnya.


Sementara itu, data Indeks Keyakinan Konsumen (Consumer Confidence) di Amerika Serikat menurun di bulan Juli 2026. Conference Board menyebutkan, Indeks Keyakinan Konsumen bulan Juli sebesar 90,8, sedangkan pada bulan Juni sebesar 92,2.

Konsumen AS mulai mengurangi optimisme mereka terhadap kondisi ekonomi saat ini hingga enam bulan ke depan. “Begitu pula penilaian terhadap prospek pendapatan rumah tangga dan lapangan kerja,” kata Kepala Ekonom Conference Board, Dana M. Peterson.

Pelaku pasar juga sedang menantikan hasil rapat bank sentral AS, The Fed terkait kebijakan suku bunga ke depan. Para analis memprakirakan The Fed masih akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu yang lebih lama.

Di Timur Tengah, ketegangan antara AS dan Iran mereda setelah Washington menyatakan telah melakukan pembicaraan dengan Teheran. Sementara pihak Iran tidak membantah adanya kesepakatan pembicaraan damai dengan AS.

Meredanya ketegangan di Timur Tengah membuat harga minyak mentah kembali turun hingga 5 persen. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), misalnya, turun 4,1 persen menjadi USD79,26 per barel

Indeks dolar AS juga berada pada level 101,39 atau dibandingkan sehari sebelumnya. Menurut Tim Analis Mirae Asset Sekuritas, dalam sebulan ini rupiah terdepresiasi sekitar 1 persen.

“Sedangkan dari Januari hingga Juli 2026, rupiah mengalami pelemahan sebesar 8,5 persen,” kata analis pasar uang Mirae Asset Sekuritas, Jessica Tasijawa. Sehingga, lanjut dia, rupiah menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan.

Jessica menambahkan pelemahan rupiah terutama dipicu oleh ketidakpastian usai pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo. Menurut dia, hal itu teelah meningkatkan kekhawatiran terhadap kesinambungan kebijakan BI dan menekan sentimen investor.(*)

Hide Ads Show Ads