Sungguh Prihatin, Nenek Jammah Warga Tenjojaya Pakisjaya Menjalani Hidupnya di Gubuk Super Reyot
Karawang : Ketika panggung-panggung peresmian begitu megah, masih ada satu sudut Karawang yang seolah tak pernah masuk daftar perhatian.
Di Dusun Tenjojaya, RT 001 RW 001, Desa Telukbuyung, Kecamatan Pakisjaya, Kabupaten Karawang, Nenek Jaamah (68) menjalani hari-harinya di sebuah gubuk reyot yang kapan saja bisa roboh.
Bukan rumah yang memberi rasa aman, melainkan bangunan rapuh yang membuatnya waswas setiap kali hujan turun dan angin bertiup kencang.
Di usia senja, Nenek Jaamah hidup seorang diri tak memiliki suami. Untuk bertahan hidup, ia bekerja sebagai buruh tandur di sawah jika ada yang memanggil.
Jika tidak ada pekerjaan, ia hanya mengandalkan belas kasih tetangga untuk sekadar mengisi perut.
Ironisnya, di tengah banyaknya program bantuan yang sering diumumkan, Nenek Jaamah mengaku belum pernah merasakan bantuan rumah layak huni maupun bantuan lain.
Entah namanya belum masuk daftar, atau memang tak pernah ada yang benar-benar datang melihat bagaimana ia bertahan hidup.
Yang lebih menyakitkan, warga pun mulai bertanya-tanya. Bukankah saat musim kampanye, janji untuk memperhatikan rakyat kecil begitu mudah diucapkan?
Mengapa setelah kursi didapat, masih ada warga yang hidup dalam ketakutan di rumah yang nyaris ambruk?
Nenek Jaamah tidak meminta rumah mewah. Ia hanya ingin tempat berteduh yang tidak bocor saat hujan, tidak bergoyang saat angin datang, dan tidak membuatnya khawatir setiap malam.
Karena sejatinya, kemiskinan bukan untuk dipertontonkan saat ada kamera. Kepedulian juga bukan sekadar slogan yang indah di atas spanduk.
Kalau masih ada lansia yang hidup sendirian di gubuk nyaris roboh tanpa perhatian, maka yang perlu diperbaiki bukan hanya rumahnya, tetapi juga rasa kemanusiaan kita.
Semoga jeritan sunyi dari Dusun Tenjojaya ini benar-benar sampai ke telinga para pemangku kebijakan. Sebab rakyat kecil tidak membutuhkan janji baru, mereka hanya ingin bukti bahwa mereka tidak dilupakan.(*)
