Tiongkok Nilai Tarif Baru AS Tak Untungkan Kedua Negara
Beijing : Tiongkok mengecam tarif baru Amerika Serikat terhadap Tiongkok dan 59 mitra dagang lainnya dengan dalih dugaan kerja paksa. Beijing menegaskan perang dagang tidak menguntungkan pihak mana pun, dilansir dari Global Times, Sabtu, 25 Juli 2026.
Sementara itu, sejumlah negara, termasuk sekutu AS, turut menyuarakan penolakan terhadap kebijakan tersebut. Beberapa di antaranya berencana membawa sengketa itu ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Tarif baru tersebut diumumkan oleh Kantor Perwakilan Dagang Amerika Serikat (USTR) sebesar 10 persen dan 12,5 persen. Tarif tersebut diberlakukan terhadap 60 mitra dagang setelah tarif global sementara 10 persen berakhir.
Tiongkok dikenai tarif sebesar 12,5 persen, sedangkan Jepang, Korea Selatan, Swiss, dan Uni Eropa dikenai tarif antara 10 hingga 12,5 persen. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Lin Jian menegaskan negaranya menentang segala bentuk tarif sepihak.
Tarif baru mencakup sekitar 99,4 persen impor Amerika Serikat. Meski demikian, sejumlah komoditas seperti minyak, gas, pupuk, beberapa bahan pangan, serta produk tertentu tetap dikecualikan.
Peneliti Chinese Academy of International Trade and Economic Cooperation, Zhou Mi, mengatakan cakupan tarif yang luas akan memengaruhi banyak pelaku usaha. Hal tersebut juga mengganggu perencanaan bisnis, memperburuk ekspektasi pasar, meningkatkan biaya perusahaan, serta merugikan konsumen Amerika.
Sementara itu, peneliti Center for China and Globalization, He Weiwen, menilai kebijakan tarif telah dipolitisasi oleh pemerintahan AS. Ia menyebut Amerika Serikat menjadikan tarif sebagai alat politik, bahkan terhadap negara-negara sekutunya.
Kementerian Perdagangan Tiongkok juga kembali menolak seluruh pembatasan perdagangan sepihak yang menggunakan isu kerja paksa sebagai alasan. Beijing mendesak Washington menjaga stabilitas hubungan ekonomi dan perdagangan kedua negara, sekaligus melanjutkan pembahasan rincian pengurangan tarif timbal balik.
Penolakan terhadap tarif baru AS juga datang dari berbagai negara. Brasil akan membawa kebijakan tersebut ke WTO, sementara Norwegia, Selandia Baru, dan Australia mengkritiknya.(*)
