Benarkah Microplastik Picu Kanker Paru-Paru
Karawang: Sebuah studi terbaru menemukan kadar mikroplastik yang tinggi pada organ vital penderita kanker paru-paru. Penelitian ini juga membuktikan bahwa mikroplastik bisa masuk ke tubuh manusia melalui udara yang dihirup.
Hasil penelitian tersebut akan dipresentasikan dalam Kongres European Respiratory Society di Barcelona, Spanyol. Pemaparnya adalah Ilias Dimeas dari University College Dublin School of Medicine, Irlandia, dan University of Thessaly, Yunani.
"Mikroplastik telah menjadi bagian yang tak terhindarkan dari lingkungan kita, tetapi kita masih sangat sedikit mengetahui apa yang terjadi setelah mikroplastik masuk ke tubuh manusia," ujar Dimeas, dikutip dari News Medical, Sabtu (9/9/26).
Ia mengatakan, bersama para peneliti lain masih belum mengetahui berapa tingkat latar belakang mikroplastik di paru-paru, berapa besar variasinya di tiap orang, atau apakah mikroplastik memang berkontribusi terhadap penyakit.
"Jika kita menghirup partikel-partikel ini setiap hari, kita perlu memahami ke mana partikel-partikel itu berakhir dan apakah partikel-partikel itu dapat dikaitkan dengan penyakit," terangnya.
Adapun itu penelitian yang dilakukan Dimeas bersama rekan-rekannya ini melibatkan 100 orang yang menjalani bronkoskopi untuk menyelidiki gejala paru-paru di Rumah Sakit Universitas Larissa, Thessaly, Yunani.
Melansir dari Mayo Clinic, bronkoskopi merupakan prosedur yang memungkinkan dokter melihat paru-paru dan saluran udara pasien. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan tabung tipis atau bronkoskop melalui hidung atau mulut, melewati tenggorokan, lalu masuk ke paru-paru.
Bronkoskopi juga memungkinkan dokter mengambil sampel dari paru-paru. Untuk studi ini, sampel kecil jaringan dan bilasan paru-paru menggunakan larutan garam diambil untuk mendeteksi keberadaan mikroplastik.
Dari 100 pasien yang diteliti, 50 di antaranya didiagnosis menderita kanker paru-paru, sedangkan setengah lainnya tidak.
Adapun itu, dari semua sampel yang diambil, para peneliti mengidentifikasi ada 232 partikel mikroplastik. Sebanyak 70 persen pasien memiliki mikroplastik yang terdeteksi pada setidaknya satu sampel.
Pada pasien kanker paru-paru, ditemukan jumlah mikroplastik lebih tinggi ketimbang yang tidak. Melalui sampel bilasan paru-paru, perbandingan kadar mikroplastik antara pasien kanker dan yang tidak, yakni 66 persen versus 46 persen.
Kemudian ketika para peneliti membandingkan sampel bilasan dan jaringan dari pasien yang sama, kandungan mikroplastik ditemukan lebih banyak pada sampel bilasan ketimbang jaringan.
Sampel bilasan mengumpulkan partikel dari ruang udara, sedangkan sampel jaringan menangkap partikel yang tertanam dalam organ paru-paru. Temuan ini menunjukkan, mikroplastik tak terdistribusi secara merata dan daerah yang berbeda kemungkinan menahan partikel secara berbeda.
Ia mengatakan, jenis mikroplastik yang ditemukan di paru-paru pasien, antara lain polipropilen dan polietilen. Kedua jenis plastik ini paling banyak digunakan dalam produk sehari-hari, seperti kemasan produk, tekstil, hingga peralatan rumah tangga.
"Ini menambah bukti yang semakin banyak bahwa pengurangan polusi plastik lingkungan mungkin memiliki manfaat yang meluas melampaui ekosistem dan ke kesehatan manusia," jelasnya.
Namun ia menekankan studi ini tak bertujuan menjelaskan mengapa mikroplastik bisa ada dalam paru-paru. Studi ini mempelajari bagaimana mikroplastik dapat berkontribusi pada peradangan dan proses biologis lain, seperti penyakit kanker.
"Yang ditunjukkan adalah mikroplastik ditemukan lebih sering dan dalam jumlah yang lebih besar pada pasien kanker paru-paru, yang menimbulkan pertanyaan penting untuk penelitian di masa mendatang," tuturnya.
Kanker paru-paru merupakan jenis kanker paling umum di dunia dan penyebab utama kematian akibat kanker. Ada 2,5 juta kasus kanker paru-paru setiap tahunnya yang menyebabkan 1,8 juta kematian.
Merokok memang jadi penyebab utama kanker paru-paru. Namun kini polusi udara juga diketahui dapat menjadi penyebab kanker paru-paru.(*)
