Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Iman Tanpa Karya Waspada Bisa Bahaya! Ilmu dan Kekuasaan Tanpa Akhlak Ini Dampak Fatalnya

Karawang : Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an, “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” QS Ali Imran ayat 110.(10/9/26).
Foto ilustrasi Bangunan belum beratap dan dinding

Ayat ini bukan sekadar sebuah penghargaan kepada umat Islam. Di dalamnya terdapat amanah peradaban. Predikat khairu ummah tidak diberikan hanya karena seseorang mengaku sebagai Muslim, memiliki jumlah yang besar, atau merasa lebih baik daripada orang lain. Predikat itu melekat bersama tanggung jawab untuk menghadirkan kebaikan bagi manusia.

Karena itu, menjadi umat terbaik bukan berarti menjadi umat yang paling banyak berbicara tentang kebaikan. Umat terbaik adalah umat yang mampu menghadirkan kebaikan dalam kehidupan nyata.

Di sinilah konsep kewibawaan menjadi penting. Kewibawaan tidak sama dengan jabatan, gelar, kekayaan, penampilan, atau kemampuan membuat orang lain takut. Kewibawaan adalah buah dari integritas. Ia lahir ketika ucapan memiliki kesesuaian dengan tindakan, ketika ilmu bertemu dengan akhlak, dan ketika keberadaan seseorang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

Orang yang benar-benar berwibawa tidak sibuk meminta penghormatan. Ia membangun kualitas dirinya sehingga penghormatan tumbuh secara alami. Ia dipercaya ketika berbicara, dicari ketika terjadi persoalan, dan dikenang karena manfaat yang pernah diberikan.

Maka pertanyaan penting bagi seorang muslim bukan hanya apakah dirinya telah menjadi orang baik, tetapi apakah kebaikan dalam dirinya telah menghasilkan manfaat bagi manusia lain.

Allah SWT juga menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh status sosial, kekayaan, suku, atau kedudukan. “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” QS Al-Hujurat ayat 13.

Iman menjadi akar dari kewibawaan. Akhlak menjadi wajahnya. Ilmu menjadi kekuatannya. Sedangkan karya menjadi buktinya.

Iman tanpa karya berpotensi berhenti menjadi kesalehan pribadi. Ilmu tanpa akhlak dapat berubah menjadi alat untuk merendahkan orang lain. Kekuasaan tanpa moral dapat berubah menjadi penindasan. Karena itu, umat Islam membutuhkan manusia yang memiliki kesatuan antara iman, ilmu, akhlak dan karya.

Rasulullah SAW bersabda bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak. Pesan tersebut menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan risalah bukan hanya bertambahnya pengetahuan manusia tentang agama, tetapi juga berubahnya perilaku manusia menjadi lebih baik.

Dari sinilah kewibawaan diri harus berkembang menjadi kewibawaan sosial.

Sebuah bangsa tidak akan memiliki kewibawaan apabila manusianya kehilangan karakter. Sebuah negeri tidak akan kuat hanya karena memiliki kekayaan alam yang melimpah. Kekuatan bangsa pada akhirnya sangat bergantung kepada kualitas manusia yang mengelola kekayaan tersebut.

Nusantara memiliki kekayaan alam, budaya, sejarah dan tradisi yang luar biasa. Namun kekayaan tersebut baru memiliki makna apabila dikelola oleh manusia yang memiliki ilmu, integritas, keberanian dan tanggung jawab.

Mencintai Nusantara dengan demikian bukan sekadar mencintai tanah tempat kita dilahirkan. Mencintai Nusantara berarti menjaga alamnya, membangun manusianya, memperkuat ekonominya, meningkatkan pendidikannya, merawat budayanya dan menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakatnya.

Di sinilah gagasan Wibawa Nusantara menemukan relevansinya.

Wibawa Nusantara bukan gagasan untuk merasa lebih tinggi daripada bangsa lain. Sebaliknya, ia merupakan ajakan untuk membangun manusia Nusantara agar memiliki martabat, kemampuan dan kontribusi yang kuat di tengah pergaulan dunia.

Wibawa bukan tentang bagaimana kita terlihat hebat. Wibawa adalah tentang seberapa besar keberadaan kita mampu memberikan manfaat.

Pemikiran Ibnu Khaldun dalam Al-Muqaddimah memberikan pelajaran penting tentang kekuatan solidaritas sosial. Sebuah masyarakat akan lebih kuat ketika memiliki ikatan sosial, tujuan bersama dan kemampuan untuk bekerja secara kolektif.

Persoalan kita hari ini bukan selalu kekurangan orang hebat. Kita memiliki ulama, akademisi, pengusaha, petani, profesional, seniman, pemuda dan banyak orang dengan kemampuan masing-masing. Persoalannya sering kali adalah bagaimana berbagai potensi tersebut dapat dipertemukan dan diarahkan untuk tujuan yang sama.

Pesantren tidak harus berjalan sendiri. Pengusaha tidak harus berjalan sendiri. Petani tidak harus berjalan sendiri. Ulama, profesional, akademisi, pemuda dan masyarakat juga tidak harus berjalan sendiri.

Kekuatan yang tersebar perlu dipertemukan sehingga menjadi kekuatan bersama.

Dalam perspektif Imam Al-Ghazali, pembangunan manusia tidak dapat dilepaskan dari persoalan hati. Kesombongan, cinta kedudukan, riya dan kecintaan berlebihan terhadap dunia dapat merusak kualitas seseorang meskipun secara lahiriah ia memiliki ilmu dan kekuasaan.

Karena itu, membangun kewibawaan tidak boleh hanya membangun citra. Yang harus dibangun adalah karakter.

Ada perbedaan besar antara orang yang ingin terlihat besar dan orang yang ingin menghasilkan sesuatu yang besar.

Orang yang ingin terlihat besar akan sibuk mencari pengakuan. Orang yang ingin menghasilkan sesuatu yang besar akan sibuk membangun manfaat.

Kita membutuhkan lebih banyak manusia yang berpindah dari orientasi “saya” menuju “kita”.

Saya ingin sukses berubah menjadi kita ingin maju.

Saya ingin kaya berubah menjadi kita ingin sejahtera.

Saya ingin pesantren saya besar berubah menjadi kita ingin pesantren-pesantren menjadi kuat.

Saya ingin desa saya maju berubah menjadi kita ingin desa-desa di Nusantara memiliki masa depan.

Perubahan cara berpikir inilah yang dapat menjadi fondasi kebangkitan masyarakat.

Ki Hajar Dewantara telah memberikan prinsip kepemimpinan yang sangat relevan hingga hari ini melalui gagasan ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Seorang pemimpin harus mampu memberikan keteladanan ketika berada di depan, membangun semangat ketika berada di tengah dan memberikan dorongan ketika berada di belakang.

Kewibawaan seorang pemimpin bukan diukur dari berapa banyak orang yang berada di bawahnya, tetapi dari berapa banyak manusia yang berhasil tumbuh karena kepemimpinannya.

Dalam konteks ekonomi, gagasan berdikari yang pernah digaungkan Soekarno juga memiliki relevansi. Masyarakat yang berwibawa adalah masyarakat yang memiliki kemampuan untuk berdiri di atas kekuatannya sendiri.

Pesantren tidak cukup hanya menjadi konsumen. Pesantren harus mampu menjadi produsen ilmu, produk dan lapangan pekerjaan.

Pemuda tidak cukup hanya mencari pekerjaan. Mereka harus didorong menjadi pencipta peluang.

Desa tidak cukup hanya menunggu bantuan. Desa harus mampu mengembangkan potensi alam, budaya dan manusianya menjadi kekuatan ekonomi.

Umat tidak cukup hanya berbicara tentang sedekah. Umat juga harus membangun ekosistem ekonomi yang produktif agar kesejahteraan dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Di situlah kewibawaan memiliki dimensi yang lebih luas. Kemandirian ekonomi, pendidikan yang kuat, kepemimpinan yang berintegritas dan masyarakat yang saling menguatkan adalah bagian dari kewibawaan sebuah bangsa.

Pada akhirnya, khairu ummah bukanlah status yang cukup dibanggakan. Ia adalah tugas yang harus dibuktikan.

Apakah masyarakat merasakan manfaat dari keberadaan kita. Apakah anak-anak mendapatkan pendidikan yang lebih baik. Apakah petani menjadi lebih sejahtera. Apakah pengusaha mampu berkembang dengan etika. Apakah pesantren semakin mandiri. Apakah pemuda memiliki masa depan. Apakah lingkungan menjadi lebih terjaga. Apakah kehadiran kita membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.

Jika jawabannya semakin banyak “ya”, maka kita sedang bergerak menuju makna khairu ummah.

Kita tidak dipanggil untuk menjadi umat terbaik agar berdiri lebih tinggi daripada manusia lain. Kita dipanggil menjadi umat terbaik agar mampu mengangkat kehidupan manusia.

Inilah inti kewibawaan yang sesungguhnya.

Bukan kewibawaan yang menuntut orang lain untuk menghormati kita, tetapi kewibawaan yang membuat orang lain merasakan bahwa kehadiran kita membawa manfaat.

Wibawa Nusantara pada akhirnya bukan sekadar nama sebuah gerakan. Ia adalah cara pandang untuk membangun manusia yang beriman dengan kuat, berakhlak dalam bersikap, berilmu dalam berpikir, berkarya dalam kehidupan, mandiri dalam ekonomi, mencintai alam, menjaga Nusantara dan memberikan manfaat kepada sesama.

Karena umat terbaik bukan umat yang hanya mengatakan dirinya terbaik.

Umat terbaik adalah umat yang membuat dunia di sekitarnya menjadi lebih baik.(*)

Penulis : Muhammad ESW

Hide Ads Show Ads