Kebakaran Kapal Feri Filipina, Korban Tewas Menjadi 76 Orang
Manila, Filipina:;Operasi pencarian korban insiden MV June Aster terkendala suhu panas dan asap beracun, sementara otoritas maritim menyelidiki protokol keselamatan serta dugaan perbedaan data manifes penumpang.
Korban tewas akibat kebakaran kapal feri di Filipina meningkat menjadi 76 orang setelah Tim Penjaga Pantai Filipina menemukan 41 jenazah tambahan dari bangkai kapal. Musibah ini menyoroti kembali aspek keselamatan maritim di kawasan kepulauan tersebut.
Kapal feri MV June Aster membawa lebih dari 130 orang ketika kobaran api mendadak muncul pada hari Rabu 9 september 2026, saat kapal mendekati destinasi wisata populer Coron setelah bertolak dari Manila. Hingga Sabtu 12 september 2026, otoritas setempat melaporkan jumlah korban selamat tetap berada di angka 43 orang, sementara 13 lainnya masih belum ditemukan.
Upaya evakuasi dan pencarian korban sempat mengalami hambatan serius akibat pekatnya asap beracun serta sisa hawa panas di dalam bangkai kapal. Kondisi tersebut baru memungkinkan petugas penyelam dan tim evakuasi masuk melakukan penyisiran pada hari Jumat.
Geronimo Tuvilla, seorang pejabat Penjaga Pantai Filipina, menyatakan bahwa fokus utama saat ini adalah proses identifikasi korban jiwa serta investigasi mendalam untuk memastikan pemicu awal munculnya api.
Sementara itu, Kristine Ablana selaku pejabat pariwisata di Coron menjelaskan bahwa pihak keluarga korban dilibatkan langsung dalam proses identifikasi melalui barang-barang pribadi maupun tes DNA.
"Begitu seseorang dapat memastikan bahwa foto atau barang-barang ini memang milik kerabat mereka, mereka akan diminta untuk memberikan sampel DNA," ujar Kristine Ablana.
Keterangan dari para penyintas memberikan gambaran mengenai kecepatan perambatan api. Juru bicara Penjaga Pantai, Komodor Noemie Cayabyab, mengungkapkan bahwa api pertama kali bermula dari ruang kargo sebelum akhirnya membesar dan menjalar ke bagian lain.
Para penyintas menceritakan detik-detik mencekam saat mendengar ledakan keras, disusul kepulan asap hitam pekat dan kobaran api yang menjalar dengan sangat cepat. Sebagian besar penumpang yang berhasil selamat mengaku tidak sempat mengenakan jaket pelampung akibat situasi yang panik.
Seorang penyintas yang berhasil dievakuasi menggunakan perahu penyelamat menuturkan kepada BBC bahwa ia mendengar teriakan panik di atas kapal saat api mulai berkobar, bahkan sempat terinjak-injak oleh penumpang lain yang berebut menyelamatkan diri.
Berdasarkan data yang dihimpun Palawan Daily, kapal feri yang dibangun pada tahun 2002 tersebut sebenarnya telah mengantongi sertifikat keselamatan yang sah serta lolos inspeksi penegakan hukum pada bulan Maret lalu.
Kendati demikian, tim penyidik kini tengah mendalami potensi ketidaksesuaian data manifes, integritas pemuatan kargo, hingga protokol tanggap darurat yang diterapkan oleh awak kapal.
Secara keseluruhan, kapal tersebut tercatat mengangkut 117 penumpang serta 17 orang awak kapal. Pihak operator kapal, Atienza Interisland Ferries, menyatakan komitmen penuh untuk bersikap kooperatif selama proses investigasi berlangsung guna mengungkap penyebab pasti insiden tragis ini.(*)
