Kenapa Kita Harus Bertanya dan Pemimpin Besar Tidak Takut Bertanya, Ini Penjelasanya
Karawang : Ada orang yang ingin terlihat paling tahu, ada pula orang yang ingin benar-benar menjadi tahu.
Perbedaannya sering kali sederhana, yang pertama sibuk memberikan jawaban, sedangkan yang kedua tidak takut mengajukan pertanyaan.
Dalam Good Leaders Ask Great Questions, John C. Maxwell menempatkan kemampuan bertanya sebagai salah satu keterampilan penting seorang pemimpin. Sebab pertanyaan yang baik bukan sekadar meminta jawaban. Ia membuka pikiran, menggali potensi, menemukan masalah yang tersembunyi dan mengajak seseorang melihat kemungkinan yang sebelumnya tidak terlihat.
Dalam hal ini sebenarnya terdapat hubungan yang sangat kuat antara kepemimpinan, kehebatan personal dan kebangkitan sebuah bangsa. Karena kualitas hidup seseorang sering kali mengikuti kualitas pertanyaan yang ia ajukan kepada dirinya sendiri.
Orang yang bertanya,
“Mengapa hidup saya selalu susah?”
Maka dia akan cenderung mencari kambing hitam.
Tetapi orang yang bertanya,
“Apa yang harus saya pelajari agar hidup saya berubah?”
sedang membuka pintu pertumbuhan.
Orang yang bertanya,
“Siapa yang salah?”
akan sibuk mencari tersangka.
Tetapi ketika pemimpin bertanya,
“Apa yang harus kita perbaiki?”
Perbedaannya hanya beberapa kata, tetapi dampaknya bisa mengubah seluruh arah kehidupan.
Menariknya, tradisi bertanya bukan sesuatu yang asing dalam Islam. Al-Qur'an berulang kali mengajak manusia menggunakan akal dan melakukan perenungan:
أَفَلَا تَعْقِلُونَ
“Maka tidakkah kalian menggunakan akal?”
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ
“Maka tidakkah mereka mentadabburi Al-Qur'an?”
Islam tidak menghendaki manusia menjadi makhluk yang hanya menerima informasi tanpa berpikir.
Bahkan Rasulullah ﷺ sering menggunakan pertanyaan dalam mendidik para sahabat.
Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ pernah bertanya kepada para sahabat:
أَتَدْرُونَ مَنِ الْمُفْلِسُ؟
“Apakah kalian tahu siapa orang yang bangkrut?”
Para sahabat menjawab menurut pemahaman mereka. Kemudian Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa orang yang benar-benar bangkrut adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala salat, puasa dan zakat, tetapi pernah menzalimi orang lain, sehingga pahala-pahalanya diberikan kepada orang yang dizalimi.
Lihat cara Nabi mendidik, beliau tidak langsung memberikan definisi. Beliau bertanya terlebih dahulu. Mengapa?
Karena pertanyaan membuat pikiran hadir sebelum jawaban diberikan.
Inilah pendidikan yang melahirkan kesadaran, bukan sekadar hafalan.
Para ulama sejak dahulu memahami pentingnya bertanya. Imam Ibnul Mubarak رحمه الله memiliki ungkapan yang sangat masyhur:
لَا يَزَالُ الْمَرْءُ عَالِمًا مَا طَلَبَ الْعِلْمَ، فَإِذَا ظَنَّ أَنَّهُ قَدْ عَلِمَ فَقَدْ جَهِلَ
“Seseorang tidak akan menjadi orang berilmu selama ia tidak terus mencari ilmu (bertanya). Ketika ia merasa dirinya telah mengetahui semuanya, saat itulah ia menjadi bodoh.”
Inilah penyakit yang sangat berbahaya bagi seorang pemimpin *merasa sudah tahu.
Ketika seseorang atau pemimpin merasa paling tahu, maka ia berhenti mendengar.
Ketika berhenti mendengar, ia berhenti belajar.
Ketika berhenti belajar, ia mulai tertinggal.
Dan ketika pemimpin tertinggal, organisasi pun ikut tertinggal.
Ada pula ungkapan yang sangat terkenal dalam tradisi keilmuan:
حُسْنُ السُّؤَالِ نِصْفُ الْعِلْمِ
“Baiknya pertanyaan adalah separuh ilmu.”
Karena pertanyaan yang tepat menentukan arah pencarian. Kalau pertanyaannya salah, kita bisa mendapatkan jawaban yang benar tetapi untuk persoalan yang salah. Itulah mengapa pemimpin besar bukan hanya harus pandai menjawab, ia harus pandai menemukan pertanyaan yang tepat.
Menariknya, perspektif neuroscience modern memberikan gambaran yang sejalan dengan prinsip tersebut.
Otak manusia bukan sekadar tempat menyimpan informasi. Ia terus menerus membangun prediksi tentang dunia, lalu memperbaruinya ketika menemukan informasi baru.
Ketika seseorang mendapatkan pertanyaan yang menarik, pikirannya terdorong untuk mencari, menghubungkan dan mengevaluasi informasi. Dalam psikologi kognitif, pertanyaan juga dapat mengarahkan attention, yaitu perhatian kita terhadap informasi tertentu. Contohnya sederhana,
Jika saya bertanya:
“Apa yang salah dengan organisasi kita?”
Maka otak akan mulai mencari kesalahan.
Tetapi jika saya bertanya:
“Apa satu hal yang jika kita perbaiki hari ini akan memberikan dampak terbesar?” maka arah pencarian mental berubah. Kita mulai mencari peluang, inilah kekuatan pertanyaan.
Pertanyaan adalah kompas bagi perhatian.
Apa yang kita tanyakan akan memengaruhi apa yang kita cari, apa yang kita cari akan memengaruhi apa yang kita lihat, apa yang kita lihat akan memengaruhi keputusan dan keputusan yang diulang akan membentuk kehidupan.
Maka dapat kita rumuskan menjadi :
Question - Attention - Learning - Decision - Action - Habit - Character - Civilization.
Dari pertanyaan bisa lahir karakter.
Dari karakter bisa lahir kepemimpinan.
Dari kepemimpinan bisa lahir peradaban.
Lalu Apa Hubungannya dengan Wibawa Nusantara?
Gagasan Wibawa Nusantara menemukan salah satu fondasi intelektualnya. Wibawa Nusantara tidak boleh hanya menjadi slogan tentang kebesaran masa lalu. Ia harus menjadi budaya berpikir dan budaya bertindak untuk masa depan.
Kita harus berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan besar.
Mengapa umat Islam yang jumlahnya besar belum seluruhnya memiliki kekuatan ekonomi yang besar?
Mengapa pesantren yang memiliki jutaan santri belum menjadi kekuatan ekonomi dan teknologi yang luar biasa?
Mengapa petani sering berada di posisi paling lemah dalam rantai nilai pangan?
Mengapa anak-anak muda kita lebih banyak menjadi konsumen teknologi daripada pencipta teknologi?
Mengapa orang-orang baik sering berjalan sendiri-sendiri?
Bagaimana ulama, pengusaha, akademisi, profesional, petani, nelayan, seniman dan anak muda dapat membangun satu ekosistem yang saling menguatkan?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk meratapi keadaan, lebih dari itu pertanyaan itu adalah pintu masuk menuju gerakan.
Wibawa Nusantara harus mengubah budaya,dari mengeluh menjadi bertanya,dari bertanya menjadi belajar,dari belajar menjadi berkolaborasi,dari berkolaborasi menjadi berkarya,dan dari berkarya menjadi membangun peradaban.
Kehebatan Personal Dimulai dari Pertanyaan kepada Diri Sendiri, membangun peradaban, artinya kita harus membangun manusia.
Sebelum membangun bangsa, kita harus membangun karakter dan sebelum mengubah dunia, seseorang harus berani bertanya kepada dirinya sendiri.
Apa kelebihan saya?
Apa kelemahan saya?
Apa yang Allah titipkan kepada saya?
Siapa yang dapat saya bantu?
Ilmu apa yang harus saya kuasai?
Kebiasaan apa yang harus saya tinggalkan?
Warisan apa yang ingin saya tinggalkan setelah saya tidak ada?
Pertanyaan terakhir mungkin yang paling menggetarkan.
Sebab manusia sering mengejar apa yang bisa ia miliki, sementara manusia besar mulai memikirkan apa yang bisa ia wariskan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ
“Apabila anak Adam meninggal, terputus amalnya kecuali tiga perkara…”
Di antaranya adalah ilmu yang bermanfaat, sedekah jariyah dan anak saleh yang mendoakannya.
Maka ukuran keberhasilan seorang manusia bukan hanya berapa banyak yang berhasil ia kumpulkan.
Tetapi, berapa banyak manusia yang tumbuh karena kehadirannya.
Karena itu, Wibawa Nusantara perlu membangun budaya silih asah, silih asih, silih asuh.
Silih asah berarti saling mencerdaskan.
Kita bertanya, berdiskusi, berbagi ilmu dan memperluas wawasan.
Silih asih berarti saling menumbuhkan kepedulian.
Ilmu tidak boleh membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Silih asuh berarti saling menjaga dan mengembangkan.Orang yang sudah maju membantu yang sedang bertumbuh.
Inilah model kepemimpinan yang tidak hanya menciptakan individu hebat, tetapi membangun ekosistem manusia hebat.
Bangsa yang hebat bukan bangsa yang hanya memiliki beberapa manusia luar biasa.Bangsa yang hebat adalah bangsa yang berhasil menciptakan sistem yang membuat manusia biasa memiliki kesempatan untuk menjadi luar biasa.
Pertanyaan Besar untuk Nusantara, mungkin sudah saatnya kita berhenti bertanya:
“Apa yang bisa negara berikan kepada saya?”
dan mulai bertanya:
“Apa yang bisa saya berikan kepada bangsa?”
Berhenti bertanya:
“Siapa yang akan menyelamatkan Nusantara?”
dan mulai bertanya:
“Bagian mana dari Nusantara yang bisa saya ikut selamatkan?”
Berhenti bertanya:
“Kapan Indonesia menjadi bangsa besar?”
dan mulailah bertanya:
“Apa yang bisa saya lakukan agar generasi setelah saya hidup di Indonesia yang lebih berwibawa?”
Inilah mentalitas Wibawa Nusantara.
Bukan merasa paling hebat tetapi terus belajar.
Bukan merasa paling tahu tetapi terus bertanya.
Bukan sekadar berbicara tentang perubahan tetapi menjadi bagian dari perubahan.
Pada akhirnya, kehebatan seseorang dimulai dari pertanyaan yang ia ajukan kepada dirinya sendiri.
Kehebatan sebuah bangsa dimulai ketika jutaan manusianya mulai mengajukan pertanyaan yang sama:
“Apa yang bisa kita bangun bersama?”
Bisa jadi di situlah sebuah bangsa mulai bangkit.
Bukan ketika semua orang memiliki jawaban yang sama tetapi ketika mereka memiliki pertanyaan besar yang sama, lalu bersedia bekerja bersama untuk menemukan jawabannya.
Wibawa Nusantara adalah ikhtiar untuk melahirkan sebanyak mungkin manusia yang mau bertumbuh, saling menguatkan, dan meninggalkan warisan kebaikan bagi Nusantara.
Peradaban tidak lahir dari satu orang yang merasa paling tahu, melainkan Peradaban lahir dari manusia-manusia yang tidak pernah berhenti bertanya, belajar dan bekerja untuk kemaslahatan.(*)
Penulis : Muhammad ESW
