Membangunkan Raksasa yang Tertidur Dalam Diri
Karawang : Ada bangsa yang tanahnya luas, lautnya kaya, manusianya banyak, budayanya tua, sejarahnya panjang, tetapi masih berjalan dengan langkah yang ragu-ragu. Ada pula bangsa yang sumber dayanya terbatas, wilayahnya kecil, bahkan pernah mengalami kehancuran, tetapi mampu bangkit menjadi kekuatan dunia.
Pertanyaannya bukan sekadar, "Apa yang dimiliki sebuah bangsa?"
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah "Apa yang dilakukan sebuah bangsa terhadap apa yang dimilikinya?"
Buku Why Nations Fail karya Daron Acemoglu dan James A. Robinson menjadi menarik. Mereka menunjukkan bahwa kemajuan atau kegagalan bangsa tidak cukup dijelaskan oleh kekayaan alam, iklim, geografi, budaya, atau kecerdasan manusianya. Salah satu faktor paling menentukan adalah kualitas institusi yang dibangun sebuah masyarakat.
Bangsa yang membangun institusi inklusif akan membuka pintu bagi manusia untuk belajar, berusaha, berinovasi, memiliki kesempatan dan mengambil bagian dalam kehidupan bersama. Sebaliknya, institusi yang ekstraktif cenderung membuat kekuasaan dan sumber daya berputar di lingkaran yang sama. Maka sesungguhnya ada bangsa yang bukan kekurangan potensi, Ia hanya belum memiliki sistem yang mampu menghidupkan potensinya. Di sini gagasan Wibawa Nusantara menemukan pintunya.
Wibawa Nusantara tidak boleh hanya menjadi nama sebuah organisasi, komunitas, majelis atau gerakan. Kalau hanya berhenti sebagai perkumpulan, ia akan mengikuti hukum alam organisasi tumbuh ketika tokohnya aktif, melemah ketika tokohnya lelah, dan hilang ketika generasinya berganti. Tetapi kalau yang dibangun adalah ekosistem, ceritanya menjadi berbeda.
Ekosistem tidak bertanya siapa yang paling hebat. Ekosistem bertanya bagaimana manusia hebat bisa dilahirkan. Bagaimana ilmu berkembang, pengusaha tumbuh, pemuda menemukan jalan, ulama terhubung dengan akademisi, pesantren terhubung dengan dunia usaha, spiritualitas bertemu teknologi, gotong royong berubah menjadi kekuatan ekonomi dan semuanya bertemu dalam satu kesadaran bahwa membangun bangsa adalah pekerjaan bersama.
Ibnu Khaldun, berabad-abad sebelum istilah "nation building" menjadi populer, telah berbicara mengenai dinamika naik turunnya peradaban. Salah satu gagasan pentingnya adalah ashabiyah, solidaritas sosial atau ikatan kolektif yang membuat sebuah kelompok mampu membangun kekuatan. Sebuah kelompok yang memiliki solidaritas kuat mampu bergerak bersama.
Tetapi ketika solidaritas itu berubah menjadi kemewahan, ego kelompok, perebutan kepentingan dan kehilangan tujuan bersama, kekuatan tersebut perlahan mengalami keretakan, maka sejarah menjadi seperti cermin. Peradaban tidak selalu runtuh karena diserang dari luar. Kadang ia runtuh karena energi di dalamnya habis untuk saling berebut.
Karena itu, Wibawa Nusantara harus membangun bentuk ashabiyah yang lebih tinggi. Bukan fanatisme kelompok ataupun pemahaman, bukan kebanggaan sempit terhadap organisasi, tetapi solidaritas kebangsaan yang berbasis nilai.
Guyub, tetapi bukan sekadar kumpul.
Sauyunan, tetapi bukan sekadar slogan.Gotong royong, tetapi bukan sekadar kerja bakti.Rembug, tetapi menghasilkan keputusan.
Musyawarah, tetapi melahirkan tindakan.
Di sinilah konsep AHWA dalam tradisi politik Islam memiliki relevansi yang menarik. Masyarakat membutuhkan orang-orang yang memiliki ilmu, pengalaman, integritas, kebijaksanaan dan kemampuan membaca persoalan. Mereka menjadi bagian dari proses menentukan perkara penting melalui musyawarah.
Jika diterjemahkan dalam konteks Wibawa Nusantara, prinsip ini dapat diwujudkan melalui sebuah ruang kebijaksanaan kolektif. Bukan majelis yang sekadar banyak bicara, tetapi tempat para kyai, ulama, akademisi, pengusaha, profesional, budayawan, pemuda dan tokoh masyarakat bertemu untuk membaca masalah dan merumuskan jalan keluar. Bukan siapa yang paling berkuasa yang paling banyak didengar, tetapi siapa yang paling mampu memberikan kemaslahatan.
Ini sebenarnya bukan gagasan asing bagi tradisi kepemimpinan Islam. Rasulullah ﷺ memberikan teladan luar biasa. Beliau tidak membangun Madinah hanya dengan karisma pribadi. Beliau membangun manusia, persaudaraan, kesepakatan sosial, pendidikan, ekonomi, pertahanan dan mekanisme kehidupan bersama.
Masjid bukan sekadar tempat shalat. Ia menjadi pusat pembentukan masyarakat. Muhajirin dan Anshar tidak hanya dipertemukan dalam satu wilayah. Mereka dipertemukan dalam persaudaraan. Masyarakat yang beragam tidak dibiarkan berjalan tanpa aturan. Dibangun kesepakatan hidup bersama yang dikenal dalam sejarah sebagai Piagam Madinah.
Dan Al-Qur'an memberikan prinsip yang sangat jelas,
وَأَمْرُهُمْ شُورَى بَيْنَهُمْ
"Urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka."
Bahkan Rasulullah ﷺ diperintahkan:
وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ
"Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu."
Ada pelajaran yang sangat dalam di sini bahwa musyawarah bukan tanda pemimpin tidak tahu jalan. Hal itu justru menunjukkan bahwa pemimpin memahami keterbatasan dirinya. Seorang pemimpin boleh memiliki visi, tetapi ia tidak boleh merasa memiliki seluruh jawaban.
Abu Bakar ash-Shiddiq memberikan pelajaran lain tentang amanah. Umar bin Khattab menunjukkan bagaimana keberanian kepemimpinan harus berjalan bersama ketertiban, pengawasan dan tanggung jawab. Utsman bin Affan memperlihatkan bagaimana kekuatan ekonomi dan kedermawanan dapat menjadi energi sosial. Ali bin Abi Thalib menunjukkan kedalaman ilmu, keberanian dan kecerdasan dalam menghadapi kompleksitas zaman. Mereka tidak memiliki gaya yang sama.
Dan justru itulah pelajarannya. Peradaban tidak membutuhkan manusia yang seragam. Peradaban membutuhkan manusia dengan keahlian berbeda yang mampu bekerja menuju tujuan yang sama.
Ini sejalan dengan semangat The 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen Covey. Manusia yang efektif tidak berhenti pada kemenangan pribadi. Ia bergerak dari ketergantungan menuju kemandirian, lalu menuju interdependensi.
Dalam bahasa sederhana Aku bisa berdiri sendiri.
Kemudian Kamu juga bisa berdiri sendiri. Tetapi setelah itu kita menyadari Kalau kita berdiri bersama, kita bisa melakukan sesuatu yang tidak mungkin dilakukan sendirian.
Inilah level tertinggi sebuah gerakan. Bukan one man show. Bukan pula kumpulan orang yang masing-masing ingin menjadi pusat. Tetapi sinergitas.
Seorang kyai tidak harus menjadi pengusaha.
Seorang pengusaha tidak harus menjadi ulama.
Seorang akademisi tidak harus menjadi politisi.
Seorang pemuda tidak harus menunggu tua untuk berkontribusi.
Masing-masing berdiri dengan kompetensinya, lalu bertemu dalam satu visi. Itulah interdependence. Dan dari sana lahir sesuatu yang lebih besar daripada sekadar jumlah orang yang berkumpul.
Ada satu gagasan lain yang menarik dari Tony Robbins melalui Awaken the Giant Within. Manusia sering kali memiliki potensi jauh lebih besar daripada yang ia sadari. Masalahnya bukan selalu tidak memiliki kemampuan. Kadang masalahnya adalah tidak pernah membangunkan kemampuan tersebut.
Bangsa pun demikian, Indonesia memiliki jutaan anak muda. Memiliki pesantren, perguruan tinggi, pengusaha, ulama, kekayaan alam, teknologi, tradisi gotong royong, kebudayaan yang luar biasa.
Tetapi semua itu baru bisa menjadi kekuatan ketika terhubung.
Potensi yang tidak terorganisir hanya menjadi kemungkinan dan kemungkinan yang tidak pernah diwujudkan akan tetap menjadi cerita.
Karena itu, mungkin bangsa ini tidak membutuhkan orang yang terus menerus berkata "Indonesia punya potensi besar." *KITA SUDAH TAHU*, Yang dibutuhkan adalah orang yang bertanya _"Bagaimana potensi itu kita ubah menjadi kapasitas?"_
_Bagaimana kapasitas menjadi produktivitas?_
_Bagaimana produktivitas menjadi kesejahteraan?_
_Bagaimana kesejahteraan menjadi kemandirian?_
_Dan bagaimana kemandirian menjadi kewibawaan bangsa?_
Dalam buku Black Swan karya Nassim Nicholas Taleb memberikan pelajaran menarik, perubahan besar sering kali datang dari sesuatu yang sebelumnya dianggap kecil, tidak penting, atau sulit diprediksi. Sebuah gagasan kecil dapat menjadi gerakan. Seorang pemuda yang hari ini dianggap biasa dapat menjadi pemimpin besar dua puluh tahun kemudian. Sebuah pesantren kecil dapat melahirkan jaringan pendidikan. Sebuah koperasi sederhana dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi. Sebuah forum rembug yang awalnya hanya dihadiri beberapa orang dapat menjadi tempat lahirnya keputusan yang memengaruhi ribuan orang.
Sejarah sering bergerak bukan melalui garis lurus.
Kadang satu titik kecil menjadi pemicu perubahan besar. Karena itu, jangan meremehkan embrio.
Peradaban selalu mempunyai masa ketika ia belum terlihat sebagai peradaban. Dan mungkin inilah posisi Wibawa Nusantara hari ini. Bukan merasa sudah menjadi kekuatan besar. Tetapi menyadari bahwa sebuah kekuatan sedang dibangun.
Nusantara sendiri memiliki ingatan kolektif tentang kepemimpinan yang panjang. Salah satu figur paling kuat dalam tradisi Sunda adalah Prabu Siliwangi. Tentu kisah Prabu Siliwangi hidup dalam berbagai lapisan sumber sejarah, naskah, tradisi lisan dan legenda. Karena itu, kita harus cerdas membedakan mana fakta sejarah yang memiliki bukti kuat dan mana bagian dari tradisi budaya.
Tetapi ada sesuatu yang tidak kalah penting dari sekadar perdebatan historis, yaitu nilai yang diwariskan dalam ingatan masyarakat. Prabu Siliwangi menjadi simbol kepemimpinan yang berwibawa, keberanian, perlindungan terhadap rakyat dan kemampuan menjaga tatanan.
Di dalam kebudayaan Sunda kita mengenal ungkapan silih asih, silih asah, silih asuh. Kalau diterjemahkan ke dalam bahasa pembangunan peradaban, maknanya luar biasa.
Silih asih melahirkan solidaritas.
Silih asah melahirkan pendidikan.
Silih asuh melahirkan kaderisasi.
Dan ketika ketiganya bertemu, lahirlah masyarakat yang bukan hanya pintar, tetapi juga memiliki hubungan sosial yang sehat.
Maka mengambil inspirasi dari Siliwangi bukan berarti menghidupkan kembali kerajaan masa lalu.
Justru sebaliknya, Kita mengambil nilai masa lalu untuk membangun masa depan yang sering saya sebut sebagai ekstrapolasi.
Hal ini yang membedakan peradaban dengan nostalgia. Nostalgia berkata "Zaman dahulu kita hebat". Peradaban berkata "Kalau dahulu mereka mampu membangun sesuatu, apa yang harus kita bangun hari ini?"
Karenanya, Wibawa Nusantara harus bergerak dari romantisme sejarah menuju konstruksi masa depan.
Dari cerita menuju sistem.
Dari figur menuju kaderisasi.
Dari majelis menuju gerakan.
Dari gerakan menuju ekosistem.
Dari ekosistem menuju peradaban.
Tetapi semua itu membutuhkan satu hal yang sering kita lupakan yaitu pekerjaan nyata.
Sebuah cita-cita yang tidak diterjemahkan menjadi pekerjaan hanyalah kalimat indah. Maka Wibawa Nusantara harus memiliki keberanian untuk memulai dari hal-hal yang konkret.
Penulis : Muhammad ESW.
