Pergantian Menkeu Tidak Beri Sentimen Positif, Rupiah Tetap Melemah
Jakarta: Nilai tukar rupiah masih tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Selasa 15 Agustus 2026. Akibatnya rupiah terus melemah hingga ke posisi Rp17.694 per dolar AS.
![]() |
| Lembaran uang rupiah nominal Rp100.000 bergambar Pahlawan Proklamator (Foto: Dokumentasi Bank Indonesia) |
Menurut Bloomberg, ini berarti rupiah ditutup turun 0,14 persen atau 25 poin. Pergantian Menteri Keuangan (Menkeu) dari Purbaya Yudhi Sadewa kepada Suahasil Nazara ternyata tidak memberikan sentimen positif pada pasar.
Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan Suahasil merupakan sosok yang mampu mengembalikan kepastian dan kredibilitas pengelolaan fiskal. “Penunjukan Suahasil akan memperkuat kepercayaan terhadap disiplin fiskal dan kerangka defisit di bawah tiga persen,” ujarnya.
Namun, lanjut Ibrahim, tantangan yang menunggunya jauh lebih besar dari sekedar menjaga angka defisit. “Beliau harus mengelola APBN di tengah kebutuhan pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi serta membiayai program prioritas,” ucapnya.
Belum lagi tantangan terkait tekanan harga energi global. Di sisi lain, Menkeu juga harus mempertahankan kepercayaan investor terhadap kesehatan fiskal Indonesia.
“Suahasil memang bukan wajah baru di Kementrian Keuangan,” kata Ibrahim. “Sebagai teknokrat fiskal yang berpengalaman dari internal kementeriann, pengangkatannya tidak mengejutkan pasar.”
Suahasil tercatat pernah menjabat Wakil Menteri Keuangan sejak 2019. Alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) itu diketahui bekerja dekat dengan Menkeu sebelumnya, Sri Mulyani Indrawati.
Dari faktor eksternal, perkembangan konflik di Timur Tengah menjadi pendorong utama pelemahan rupiah. Kelompok Houthi Yaman memperkuat posisinya di sepanjang Laut Merah, yang membuatnya semakin mudah untuk menyerang di Selal Bab el-Mandeb.
Serangan ofensif Houthi ke Arab Saudi juga membuka front baru dalam konflik Timur Tengah. Para analis memprakirakan perkembangan ini dapat mengganggu tambahan empat hingga lima persen dari pasokan global.
Dari sisi ekonomi, perangkat CME FeedWatch memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 89 persen. Ini berarti naik dari sekitar 59,4 persen pada pekan sebelumnya.(*)
