Terungkap, BGN Beberkan Biang Kerok Ratusan Santri Keracunan Menu MBG di Sidoarjo
Karawang: BGN RI membeberkan, biang kerok dugaan penyebab ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, mengalami keracunan. Tepatnya, diduga keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan BGN, Ketut Sumedana menjelaskan, kejadian tersebut berkaitan dengan kelalaian dalam penerapan SOP pendistribusian makanan. Makanan MBG, seharusnya selesai didistribusikan maksimal empat jam setelah proses memasak.
"Hasil temuan di lapangan menunjukkan adanya pendistribusian yang berlangsung lebih dari batas waktu tersebut. Jadi seharusnya itu loading 4 jam selesai dari masak langsung dibagikan, faktanya di lapangan lebih dari 4 jam," kata Ketut kepada wartawan, di Jakarta, Kamis, 3 September 2026.
Menurut Ketut, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko makanan mengalami kerusakan karena menu MBG tidak menggunakan bahan pengawet. Ia mengatakan, makanan yang dibiarkan terlalu lama lebih rentan mengalami pembusukan dan pertumbuhan bakteri.
"Nah itulah yang menyebabkan keracunan, karena MBG ini kan nggak pakai pengawet. Jadi mudah dia basi, mudah bakterinya cepat berkembang," ucap Ketut.
Kemudian, BGN diakuinya, telah menetapkan mekanisme pengawasan sebanyak dua kali dalam sehari untuk memastikan proses penyediaan MBG sesuai ketentuan. Pengawasan tersebut, dilakukan pada pukul 17.00 WIB saat bahan makanan masuk dan pukul 02.00 WIB ketika proses memasak dimulai.
"Kita setiap hari, dua kali sehari kita melakukan apel kesiagaan MBG, mulai dari jam 2 malam terus jam 5 sore. Karena waktu-waktu itu waktu krusial pemilihan bahan, kalau jam 5 kan sampai, masak jam 2 pagi," ujar Ketut.
Meski aturan pengawasan telah diterapkan, Ketut mengakui, masih terdapat petugas dan kepala SPPG yang tidak menjalankan ketentuan secara disiplin. Selain itu, sejumlah sekolah juga disebut tidak membagikan makanan sesuai batas waktu yang telah ditetapkan.
"Kenyataannya masih ada di beberapa daerah orang-orang ini, anak-anak kita ini, kepala-kepala SPPG ini, termasuk PIC-PIC. Termasuk ada juga sekolah-sekolah yang tidak tepat waktu dalam membagikan MBG melebihi batas waktu yang ditetapkan," kata Ketut.
Kasus keracunan tersebut terjadi di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, setelah para santri menyantap menu MBG. BGN mencatat, sebanyak 512 santri terdampak dalam kejadian yang diduga berkaitan dengan konsumsi makanan tersebut.
"Berdasarkan data yang kami terima dari teman-teman yang sudah melakukan investigasi di lapangan. Total yang terpapar atau terdampak sebanyak 512 orang," kata Ketut dalam keterangannya, Rabu, 2 September 2026.
Dari ratusan santri yang terdampak, sebanyak 80 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara itu, 312 santri telah diperbolehkan pulang setelah dinyatakan sembuh, sedangkan 120 lainnya masih dalam tahap observasi.
" Kemudian yang masih dilakukan perawatan sekitar 80 orang dan sudah keluar dari rumah sakit. Dan, dinyatakan sembuh sebanyak 312 orang, namun demikian kita juga masih melakukan observasi sebanyak 120 orang," ucap Ketut.
BGN telah melakukan investigasi bersama dinas kesehatan terkait untuk mengetahui secara menyeluruh penyebab kejadian tersebut. Selain investigasi, BGN juga memberikan sanksi berupa penghentian sementara terhadap SPPG yang terkait dengan kasus tersebut.(*)
