Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

29 Anak di Karawang Menikah Dini: Saat Cita-Cita Kalah Cepat dari Resepsi

PELITA KARAWANG I KARAWANG:  Angka itu tidak besar jika hanya dibaca sekilas. 29 kasus.

Yang menarik, Kepala DP3A Karawang, Wiwiek Krisnawati

Itulah data perkawinan anak di Karawang yang dicatat Kementerian Agama. Di atas kertas, hanya 29 nama. Tapi di baliknya, ada 29 seragam SMP-SMA yang dilipat terlalu cepat, 29 cita-cita yang ditunda, bahkan mungkin dihentikan.

Yang menarik, Kepala DP3A Karawang, Wiwiek Krisnawati, jujur mengatakan: pihaknya sendiri belum menerima laporan itu di sistem internal mereka. Artinya, ada jurang antara data administrasi dan realita di lapangan. Banyak yang menikah diam-diam, nikah siri dulu, atau dispensasi kawinnya tidak tercatat sebagai "kasus" oleh satu pintu.

Kenapa masih terjadi di Karawang yang industrinya besar?

Dari obrolan dengan para Motivator Ketahanan Keluarga (Motekar) di lapangan, polanya hampir sama:

1. Cinta Saja Tidak Cukup, Tapi Dianggap Cukup. Seperti kata Wiwiek, "Masuk rumah tangga tidak hanya butuh cinta." Tapi bagi anak usia 15-17 tahun, cinta terasa sudah jadi jawaban untuk segalanya. Apalagi ditambah akses gawai tanpa filter.

2. Ekonomi Jadi Jalan Pintas. Di beberapa desa di pesisir dan loji Karawang, menikahkan anak dianggap mengurangi beban. "Biar ada yang tanggung jawab," kata orang tua. Padahal, seperti diingatkan DP3A, kesiapan pangan, sandang, papan, dan gizi untuk ibu hamil muda itu jauh lebih mahal daripada biaya sekolah.

3. Malu dan Terpaksa. Ini yang paling sensitif dan DP3A sendiri belum punya data rinci soal unsur paksaan. Hamil di luar nikah masih jadi alasan nomor satu dispensasi kawin diajukan ke Pengadilan Agama. Keluarga memilih menikahkan agar "tertutup aib", tanpa berpikir risiko kesehatan ibu muda dan stunting pada bayi.

Risikonya nyata. Anak perempuan yang menikah di bawah 18 tahun, rahimnya belum siap. Risiko pendarahan, bayi lahir berat rendah, dan stunting melonjak. Sekolah berhenti. Keterampilan belum punya. Akhirnya, kemiskinan baru lahir dari pernikahan dini itu sendiri.

Lalu apa yang sedang dilakukan DP3A?

Mereka tidak hanya duduk di kantor. Kampanye sekarang turun ke tempat yang paling jujur: sekolah SMP-SMA, Forum Anak, desa, kecamatan. Mereka bicara bukan dengan bahasa peraturan, tapi dengan bahasa anak muda.

Rencananya bahkan akan masuk ke Car Free Day. Biar pesannya tidak kaku.

Tapi tugas ini bukan hanya tugas DP3A. Ini tugas kita semua yang di Karawang. Saat seorang anak laki-laki lebih bangga pamer undangan nikah daripada ijazah, ada yang salah di lingkungan kita.

Wiwiek menutup dengan kalimat yang sederhana tapi dalam: _"Kejarlah cita-cita setinggi mungkin selagi masih muda."

29 itu bukan sekadar angka. Itu alarm. Di Karawang yang punya ribuan pabrik dan UMR tinggi, seharusnya anak-anak kita sibuk berebut beasiswa, bukan berebut buku nikah.

Bagaimana menurut akang? Di kampung akang masih banyak yang nikah muda? (*)


Hide Ads Show Ads