Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

NGERI! Banjiri Aplikasi Cerita Dewasa, Waspada Pelajar Karawang Jadi Korban Imajinasi Liar

KARAWANG:Bukan cuma Facebook. Pantauan berbagai platform media sosial hari ini, puluhan bahkan ratusan aplikasi berkedok media sosial, novel online, dan streaming video pendek ternyata secara terang-terangan menjual konten cerita dan video dewasa.(11/10/26).
Foto ilustrasi Editor Pelita Karawang

Ironisnya, aplikasi-aplikasi ini bisa diunduh GRATIS oleh siapa saja. Termasuk pelajar SMP dan SMA di Karawang.

Pembatasan penggunaan HP di sekolah dan di rumah yang masih longgar, menjadi celah utama.

AWALNYA CUMA ISENG BACA UJUNGNYA KECANDUAN

Dari penelusuran tim, modusnya hampir sama. Aplikasi menawarkan 2-3 episode gratis. Setelah itu, pengguna dipancing untuk top-up koin untuk lanjut membaca cerita yang makin vulgar.

"Awalnya dari iklan di medsos. Penasaran, klik. Eh isinya cerita dewasa semua," ujar salah satu pelajar di Karawang yang enggan disebut namanya.

Inilah yang ditakuti para psikolog. Sebab-akibatnya tidak main-main:

1. KERUSAKAN OTAK & IMAJINASI NEGATIF

Konten dewasa memicu dopamin berlebih. Otak remaja yang belum matang dipaksa berimajinasi liar. Hasilnya susah fokus belajar, nilai anjlok.

2. GANGGUAN PSIKOLOGIS & KEPRIBADIAN

Anak jadi tertutup, mudah cemas, merasa bersalah, tapi terus mengulang. Rasa malu berganti jadi berani meniru. Empati terhadap lawan jenis menurun.

3. PICU PERCOBAAN & PERILAKU MENYIMPANG

Ini yang paling berbahaya. Setelah menonton dan membaca, ada dorongan kuat untuk mencoba. Dari coba-coba sendiri, hingga mencoba ke teman sebaya. Berujung pada pergaulan bebas, pelecehan, hingga kehamilan dini.

4. KECANDUAN DIGITAL & EKSPLOITASI EKONOMI

Anak rela bohong minta uang jajan lebih, bahkan mencuri untuk top-up aplikasi. Kecanduan ini sama bahayanya dengan kecanduan judi online.

5. JEBAKAN DATA & PENIPUAN*
Banyak aplikasi abal-abal ini tidak jelas pengembangnya. Data pribadi, foto, kontak HP bisa disedot untuk pemerasan dan penipuan.

KARAWANG DARURAT LITERASI DIGITAL?

Pengamat pendidikan menilai, pembatasan HP di Karawang masih sangat kurang. Sekolah melarang bawa HP, tapi di rumah dan warung kopi bebas 24 jam.

"Orang tua menyerahkan HP tanpa kontrol. Anak belajar dari algoritma, bukan dari guru," kata pengamat.

APA YANG HARUS DILAKUKAN?

1. Orang Tua: Aktifkan Google Family Link, cek riwayat aplikasi, jangan kasih HP tanpa pengawasan.
2. Sekolah: Bukan cuma melarang, tapi edukasi bahaya konten porno digital secara rutin.
3. Pemerintah & Kominfo: Jangan cuma blokir situs. Aplikasi di Playstore yang berkedok cerita dewasa harus disikat habis.
4. Anak Muda: Berani bilang TIDAK dan laporkan aplikasi meresahkan.

Jangan tunggu korban berikutnya. Hari ini mereka cuma membaca cerita, besok bisa jadi pelaku atau korban nyata.

Bagaimana menurut Anda,? Apakah di sekolah anak Anda sudah ada pengawasan HP yang ketat? Tulis di kolom komentar. (*)


Hide Ads Show Ads