Zuhud Tidak Harus Miskin: Pelajaran dari Ibnu Arabi dan Al-Ghazali untuk Zaman Now
Karawang: Di tengah dunia yang semakin maju, kita menghadapi ironi. Manusia semakin cerdas, tetapi belum tentu semakin bijaksana. Kekayaan bertambah, tetapi keserakahan tidak berkurang. Ibadah tampak semarak, tetapi kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab sosial masih menjadi pekerjaan besar.
Kita bicara tentang kedekatan kepada Allah, tetapi terkadang lupa menghadirkan nilai ketuhanan dalam cara bekerja, mencari nafkah, dan menjalankan amanah.
Apakah spiritualitas hanya berhenti pada ketenangan batin? Atau seharusnya melahirkan manusia yang mampu memperbaiki kehidupan?
Apakah kedekatan kepada Allah cukup diungkapkan melalui ritual, atau harus tercermin dalam kejujuran, keberanian menegakkan kebenaran, kesungguhan ikhtiar, dan kemampuan menghadirkan manfaat bagi masyarakat?
Dari pertanyaan inilah Tasawuf Progresif Wibawa Nusantara menemukan relevansinya.
Tasawuf progresif bukanlah penolakan terhadap tasawuf klasik, bukan pula pembenaran untuk mengejar kekayaan tanpa batas. Ia adalah ikhtiar menghidupkan nilai spiritual dalam seluruh dimensi kehidupan. Hati dibersihkan agar tidak diperbudak keserakahan. Pikiran dikuatkan dengan ilmu agar tidak terjebak kebodohan. Kekayaan dikelola sebagai amanah, bukan ukuran kemuliaan.
Manusia yang matang secara spiritual bukan yang paling fasih bicara tentang Tuhan, melainkan yang nilai ketuhanan tercermin dalam perilakunya. Tidak menjadikan agama sebagai alasan menghindari tanggung jawab, tidak menjadikan kefakiran sebagai kebanggaan, dan tidak menjadikan kekayaan sebagai alat kesombongan.
Kita belajar dari dua tokoh besar. Muhyiddin Ibnu Arabi mengajak manusia sadar bahwa sebesar apa pun kuasa dan hartanya, ia tetap makhluk yang bergantung kepada Allah. *Imam Al-Ghazali* menekankan pentingnya penyucian jiwa dan pembentukan akhlak agar manusia tidak diperbudak dunia.
Dari kedalaman keduanya, lahirlah Lima Pilar Tasawuf Progresif:
1. Tauhid sebagai fondasi. Menjadikan Allah orientasi tertinggi dalam berpikir dan bertindak.
2. Tazkiyatun Nafs sebagai pengendali.* Membersihkan hati dari sombong, tamak, dan dusta.
3. Ilmu sebagai penerang. Mengembangkan ilmu agama, pengetahuan modern, dan berpikir kritis.
4. Ikhtiar sebagai jalan kemandirian. Bekerja, berkarya, dan membangun ekonomi secara halal dan bertanggung jawab.
*5. Keberlimpahan sebagai amanah.* Mengubah keberhasilan menjadi manfaat melalui sedekah, pendidikan, dan pemberdayaan.
Inilah semangatnya: spiritualitas yang tidak tercerabut dari kehidupan nyata. Zuhud yang tidak harus menolak kekayaan. Ikhtiar yang tidak memisahkan usaha dari tawakal.
Tujuan akhirnya bukan sekadar merasa dekat kepada Allah, melainkan kedekatan itu tercermin dalam kualitas diri dan kebaikan yang dihadirkan bagi dunia.(*)
