Notification

×


Iklan

Tarumanagara, Fiktif atau Nyata??

Tuesday, February 18, 2020 | 05:44 WIB Last Updated 2020-02-17T23:05:02Z
PELITAKARAWANG.COM - Belum usai permasalahan mengenai pernyataannya tentang Galuh, Ridwan Saidi kembali mengeluarkan pernyataan kontroversial mengenai salah satu kerajaan yang pernah ada di Jawa Barat, yakni Kerajaan Tarumanagara pada video “GEGEER‼ Akhirnya Terungkap Rahasia Dibalik Sejarah Situs Batu Jaya, dan Kebohongan Sejarah” yang diunggah oleh kanal Youtube Macan Idealis pada 16 Februari 2020 malam. 

Beberapa waktu lalu, memang Ridwan Saidi sempat menyinggung bahwa Tarumanagara itu fiktif, tidak pernah ada. Saat itu, berbagai komentar yang menyatakan rasa keberatan datang dari berbagai kalangan dan tokoh masyarakat Sunda. Entah apa motivasinya, Babeh Ridwan kembali mengeluarkan pernyataan yang sama kembali.
Ridwan Saidi

Kerajaan Tarumanagara didirikan oleh Rajadirajaguru atau Maharesi Jayasingawarman yang berasal dari Calankayana, India. Rajadirajaguru yang tiba di Jawa Barat bersama para pengikutnya sekitar tahun 348 M, kemudian beliau menetap di tepi sungai Citarum (wilayah Kerajaan Salakanagara). Kelak, beliau kemudian menikah dengan salah satu putri Raja Salakanagara, Dewawarman VIII. Wilayah tempat Rajadirajaguru tinggal itu kemudian menjadi negara dengan nama Tarumanagara dan Rajadirajaguru menjadi Raja Tarumanagara bergelar Jayasingawarman Gurudarmapurusa sejak tahun 358. Dalam perkembangannya, Tarumanagara menjadi lebih maju daripada Salakanagara. 

Peradaban Tarumanagara terus mengalami perkembangan, bahkan kepercayaan atau agama masyarakat Sunda yang kita kenal dengan nama Sunda Wiwitan muncul pertama kali saat masa Kerajaan Tarumanagara. Tarumanagara mencapai puncak kejayaannya saat pemerintahan Maharaja Purnawarman, kekuasaannya membentang dari Teluk Lada Pandeglang, Banten hingga Purbalingga, Jawa Tengah. Pada masa pemerintahannya beliau banyak melakukan pembangunan wilayahnya, merevitalisasi sungai-sungai, membangun kanal-kanal sehingga transportasi dan proses distribusi hasil bumi dari daerah pedalaman bisa lebih cepat dengan menggunakan jalur air via kanal-kanal tersebut. 

Bukti mengenai kejayaan era Purnawarman itu tercantum pada Prasasti Tugu, Prasasti Kebon Kopi, Prasasti Cidanghiyang (Munjul), Prasasti Ciaruteun, Prasasti Jambu dll. Seluruh prasasti itu semuanya menuliskan nama Raja Purnawarman dan peristiwa apa yang terjadi saat prasasti tersebut dibuat. 

Uniknya, lagi-lagi Babeh Ridwan dengan blak-blakan menyebutkan bahwa arkeolog salah menafsirkan isi dari prasasti itu, dia malah menyebutkan bahwa Tarumanagara itu tidak ada, dan Purnawarman itu adalah Raja Khmer (Kamboja) yang meninggal pada pertengahan abad ke-13 saat diserang Kerajaan Siam. Hal ini jelas menggelitik, sebab setelah ditelusuri didapatkan data bahwa Raja Kekaisaran Khmer terakhir yang berkuasa saat penyerangan Siam bernama Ponhea Yat yang bergelar Raja Barom Reachea II bukan Purnawarman seperti yang diyakini Babeh Ridwan. 

Selain prasasti-prasasti yang penulis sebutkan diatas, terdapat juga bukti tertulis berupa sumber sejarah China, diantaranya berita dari Dinasti Sui yang menyebutkan bahwa ada utusan dari To-lo-mo datang ke negeri China pada tahun 528 M dan 535 M (Masa pemerintahan Raja Chandrawarman dan Raja Suryawarman).  juga berita Dinasti Tang pada tahun 666 dan 669 M (Masa pemerintahan Raja Linggawarman), utusan dari To-lo-mo datang kembali ke China. To-lo-mo ini adalah Tarumanagara. Artinya Tarumanagara itu nyata dan tidak fiktif.

Pada video yang sama, Babeh menceritakan bahwa Komplek Percandian di Batujaya itu bukan candi, melainkan unur. Ketika penulis telusuri, unur atau lemah luhur (tanah tinggi) adalah sebutan dari warga Batujaya untuk menyebut gundukan-gundukan tanah yang tersebar di sekitar tempat tinggalnya dan reruntuhan bata yang menggunduk seperti sarang rayap di tengah sawah. Unur inilah yang kemudian setelah digali pada sekitar tahun 1985 ternyata bangunan candi. Bahkan beliau mengutip naskah Lalampahan Bujangga Manik yang menyebut komplek itu dengan nama Ramaena, yang berarti Raman dari kata Tuanku Raman. 
Dudih Sutrisman, S.Pd

Menurutnya, berdasarkan pendapat Geovani seorang ahli sejarah Italia dari abad ke-15, Raman adalah seorang anggota rombongan Queen Sheba atau Ratu Sheba ratu legendaris dari Ethiopia yang meninggal di Batujaya dalam perjalanannya mengiringi sang ratu pada abad ke-2. Jenazah Raman menurut Babeh Ridwan masih utuh karena diletakkan diatas air yang terus mengalir.Ketika ditelusuri, penulis berkesimpulan bahwa Babeh meyakini kalau salah satu kerangka manusia prasejarah yang masih utuh di Candi Blandongan (salah satu candi di Komplek Percandian Batujaya Karawang) yang ditemukan pada tahun 2010 silam adalah kerangka Tuanku Raman. Menariknya lagi, belum ada keterangan yang pasti mengenai Queen of Sheba atau Ratu Sheba dari Ethiopia, namun versi yang sering disebut adalah Ratu Sheba meninggal pada tahun 950 Sebelum Masehi. Sangat jauh rentang waktunya bila dikaitkan dengan pernyataan Babeh Ridwan itu, apalagi Babeh Ridwan menyebutkan bahwa Ratu Sheba meninggal dunia di Cipari, Kuningan kemudian dimakamkan pada sarkofagus. Kali ini penulis merasa bahwa Babeh Ridwan sedang mengkaitkan sarkofagus ditemukan di Cipari, Kab. Kuningan adalah makam Ratu Sheba.Jauh lebih menariknya lagi, setelah ditelusuri lagi ternyata apa yang disampaikan Babeh Ridwan pada video tersebut sama persis dengan kata pengantar berjudul Menyibak Masa Lalu Nusantara yang ditulis Babeh Ridwan untuk buku “Illuminati Nusantara” karya Ahmad Samantho. 

Dibalik berbagai kontroversi yang diucapkannya mengenai sejarah, alangkah lebih baiknya Babeh Ridwan dapat mempertanggungjawabkan secara rinci apa saja sumber ilmiah dan valid yang membuatnya dapat menari kesimpulan seperti itu. Sebab, apa yang diucapkannya itu dapat melukai hati masyarakat Karawang, Jawa Barat dan Sunda.(rls/red)

Suara Pembaca/Penulis :Dudih Sutrisman (Pegiat Sejarah dan Budaya di Jawa Barat)
×
Berita Terbaru Update