GfOoTUz6TpM6Tfr9TUYpTpC6BY==

Geger Bayi 1 Tahun Beratnya 25 Kg, Ini Penyebab dan Faktanya!

Seorang bayi laki-laki berusia 1 tahun menjadi perbincangan hangat di media sosial beberapa saat lalu. Pasalnya, bayi asal Bekasi, Jawa Barat tersebut memiliki bobot di atas rata-rata anak seusianya.

Foto : Dicuplik dari Video

Bayi montok itu dikatakan memiliki bobot 25 kg. Padahal, berdasarkan kurva pertumbuhan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang digunakan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), berat badan ideal anak laki-laki usia 1 tahun adalah 9,7 kg.

Berat badan 13,4 kg untuk usia tersebut sudah masuk dalam kategori obesitas. Berdasarkan indikator tersebut, bayi viral ini memiliki bobot tak wajar.

Tubuhnya gempal. Pipinya mendominasi hampir seluruh wajah. Alhasil, netizen membanjiri konten bayi tersebut dengan beragam komentar.

"1 tahun, berat 25 kg, Boboho kalah ini, mah," kata akun TikTok yang mengunggah video bayi tersebut, @ismibossgep78, dikutip Sabtu (25/2/2023).

Video tersebut pun sontak mengundang kritik dari warganet. Terlebih, bayi itu disebutkan sudah mengonsumsi berbagai camilan instan yang dibeli di warung sejak berusia enam bulan.

"Kasihan jantungnya. Harusnya berkembang dengan baik tapi terhimpit lemak. Semoga ada pihak terkait membantu untuk adik ini bisa normal. Sehat-sehat, nak, doaku untukmu," ujar pengguna TikTok lainnya.

Dilansir dari Mayo Clinic, obesitas pada anak merupakan kondisi medis yang sangat serius. Sebab, obesitas pada anak dapat memicu komplikasi fisik lainnya, seperti diabetes tipe 2, kolesterol, tekanan darah tinggi, nyeri sendi, masalah pernapasan, hingga penyakit hati berlemak non-alkohol.

Camilan instan dan makanan cepat saji (junk food) yang kerap dikonsumsi anak bisa menjadi salah satu pemicu utama terjadinya obesitas. Selain obesitas, anak-anak yang mengonsumsi junk food juga berisiko mengalami gangguan kesehatan usus, stroke, penyakit jantung, hingga gangguan fokus.

Berkaitan dengan hal itu, para peneliti dari Prevention Institute pun mengaitkan peningkatan diabetes, hipertensi, dan stroke dengan konsumsi junk food. Anak-anak yang rutin mengonsumsi junk food ditemukan lebih berisiko terserang penyakit kronis.

Menurut studi yang dipublikasikan Pediatrics pada 2004, anak-anak yang mengonsumsi junk food mengandung kalori, lemak, karbohidrat, dan gula tambahan cenderung berisiko tinggi mengalami obesitas.

Selain itu, studi yang sama juga menemukan sebagian besar anak-anak penggemar junk food ogah mengonsumsi serat, susu, buah, dan sayuran sehingga asupan gizi tidak seimbang.

(tib/cnbc)

Komentar0