Pemkab Karawang dalam menggunakan anggaran APBD haruslah ada target prioritas dan tdak asal membangun untuk satu bidang dengan jorjoran. Karena dengan seiring waktu banyak pula fisik bendungan, bodeman atau pun saluran irirgasi yang rusak, dangkal dan mengalami penyempitan, Ungkapan tersebut dilontarkan sejumlah petani baru-baru ini.(22/7/23).
Foto ilustrasi : Petani Karawang berihkan saluran air

Petani di Desa Sindangsari, Kabupaten Karawang, Jawa Barat mengeluarkan biaya produksi lebih besar untuk kebutuhan sewa pompa air, karena saluran irigasi yang mengering pada musim kemarau (dangkal dan sempit,red)

"Kami kesulitan air untuk mengairi areal sawah, karena air di saluran irigasi kering," kata Ujang, petani di Kampung Borontok Barat, Desa Sindang Sari, Kecamatan Kutawaluya, Karawang, Sabtu.

Ia menyampaikan, mengeringnya saluran irigasi terjadi karena kondisinya yang rusak, mengalami pendangkalan yang cukup parah. Ditambah lagi sekarang ini kondisinya musim kemarau.

Ujang dan petani lainnya terpaksa harus mengeluarkan biaya produksi lebih besar dari biasanya, karena ada tambahan modal, yakni untuk sewa pompa air beserta bahan bakarnya.

"Biasanya, dengan modal Rp10 juta, kami bisa menanam untuk 1 hektare. Biaya itu bersih hingga panen, termasuk untuk pembelian obat," katanya.

Namun, karena kondisi saluran irigasi mengering, para petani di Desa Sindangsari harus mengeluarkan modal lebih banyak, minimal harus mengeluarkan uang Rp15 juta untuk kebutuhan menanam per 1 hektarenya.

"Kami harus menambah paling sedikit Rp5 juta untuk sewa mesin pompa air dan beli bahan bakar minyak," kata dia (red/ant/ks).