Dalam berbagai inovasi program unggulan yang ditunjukkan untuk meningkatkan kesejahteraan para petani, terus dilakukan PT Pupuk Kujang Cikampek (PKC) dengan beragam program inovasi terbarunya yang kini memiliki tiga prinsip unggulan sesuai dengan aspek keberlanjutan yang di antaranya itu yakni profit, people, dan planet. Atau dalam kata lain, inovasi program unggulan yang bertujuan untuk meningkatkan keuntungan perusahaan dengan memberikan dampak baik bagi manusia dan lingkungan. (8/8/23).

Menteri BUMN, Erick Thohir saat melakukan peluncuran program Makmur yang diresmikan bersama perwakilan perusahaan dari PT Pupuk Kujang Cikampek dan perusahaan agroteknologi asal Singapura bernama RIZE.

Demikian disampaikan Koordinator Program Makmur PT Pupuk Kujang Cikampek, Syaiful Rohdian disela-sela pihaknya melakukan sosialisasi program makmur kepada para petani di Karawang pada Selasa (8/8).

Dalam aspek lingkungan misalnya, kata dia, Pupuk Kujang terus mengajak para petani untuk mengurangi emisi karbon di bidang pertanian. Seperti diketahui, selain di wilayah perkotaan, wilayah pedesaan juga rupanya turut menyumbang emisi karbon yang dilepas ke atmosfer bumi. 

"Berdasarkan data yang dihimpun dari dokumen Rencana Aksi Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Pertanian yang dikeluarkan Kementerian Pertanian, gambaran secara umumnya ini untuk emisi karbon yang terjadi hingga di wilayah pedesaan, juga berasal dari aktivitas pertanian dan peternakan," ungkapnya.

Dalam bidang pertanian misalnya, lanjut dia menerangkan, seperti pada aktivitas budidaya padi turut melepas metana, nitrogen oksida dan karbon dioksida. Hal itu berdasarkan dengan penelitian yang dirilis oleh Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) pada tahun 2016, dan sektor pertanian menyumbang 10 hingga 12 persen dari total gas rumah kaca antropogenik yang terdiri dari gas N2O dan CH4. 

"Emisi karbon dari sektor pertanian ini diprediksi akan terus bertambah pada masa mendatang, seiring dengan meningkatnya kebutuhan pangan, intensifikasi pertanian dan penggunaan pestisida yang berlebihan. Untuk mengurangi tren itu, kami upayakan supaya Program Makmur ini diharapkan bisa menciptakan sistem pertanian rendah emisi karbon sehingga lebih ramah lingkungan," jelasnya.

Untuk menuju hal itu, kata Syaiful melanjutkan, perlu diterapkannya sistem pertanian modern yang juga berorientasi terhadap ramah lingkungan. Upaya tersebut menurutnyq sangat selaras dengan Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2011, yang di mana sektor pertanian harus menurunkan tingkat emisinya sebesar 8 Gg CO2eq. 

"Seperti diketahui, sektor pertanian juga dapat melahirkan sejumlah emisi, antara lain yaitu metana (CH4) sebesar 67 persen, diikuti dengannitrogen monoksida (N2O) sebesar 30 persen dan karbon dioksida (CO2) sebesar 3 persen. Pada tahun 2000 lalu saja contohnya, total emisi gas rumah kaca dalam sektor pertanian bisa mencapai 75.419,73 Gg CO2eq. Adapun sumber utama dari emisi gas rumah kaca ini ialah berasal dari lahan persawahan sebanyak 69 persen, dan diikuti dari peternakan yang mencapai sebesar 28 persen," terang dia.

Lebih jauh Syaiful menuturkan, ada beragam cara dan strategi untuk mengurangi emisi karbon di bidang pertanian, yang di antaranya itu yakni melalui metode pemupukan berimbang, aplikasi pupuk organik dan biogas untuk menyerap emisi karbon.

"Bahkan ada juga teknik penggunaan air irigasi secara intermiten atau berselang, sehingga bisa menurunkan emisi karbon ke atmosfer dibanding penggenangan sawah secara terus menerus. Berbagai teknik pertanian ramah lingkungan, tentunya akan kami terapkan ke seluruh petani binaan yang menjadi peserta program Makmur," kata Saiful. 

Untuk menajamkan program itu, ungkap Syaiful mengatakan, Pupuk Kujang juga kini tengah menjajaki kerjasama dengan sebuah perusahaan agroteknologi bernama RIZE yang berbasis di Singapura. Perusahaan patungan antara Temasek, Genzero, Breakthrough Energy dan Wavemaker Impact itu, tambah dia, akan berkolaborasi dengan Program Makmur Pupuk Kujang.

"Pihak RIZE ini akan berperan untuk menyediakan bantuan modal tanam bagi para petani binaan yang menjadi peserta Program Makmur, sehingga para petani ini nantinya akan didampingi oleh para agronom dari Pupuk Kujang dan RIZE dalam menerapkan sistem budidaya yang ramah lingkungan," imbuh Saiful. 

Dari informasi yang dihimpun darinya, RIZE ini merupakan perusahaan agroteknologi yang juga fokus terhadap pengurangan emisi karbon. Perusahaan itu juga diketahui menjalankan start-up di bidang pertanian untuk memudahkan para petani, mulai dari konsultasi teknik budiday hingga penyediaan sarana produksi pertanian.

Masih di tempat yang sama, CEO RIZE, Dhruv Sawhney juga menyebut bahwa hingga saat ini, perusahaannya telah beroperasi di beberapa negara yang ada di ASIA seperti di India, Vietnam, Malaysia dan berbagai negara penghasil beras lainnya. Adapun untuk di Indonesia, lanjutnya, RIZE memiliki target yang bertujuan untuk membantu menggarap lahan petani seluas ribuan hektare.

"Jika kerjasama ini terjalin, para agronom dari RIZE dan Pupuk Kujang akan bahu-membahu untuk mendampingi para petani dalam melakukan budidaya pertanian yang ramah lingkungan. Sebagai langkah awal seperti halnya di areal pertanian yang ada di Kabupaten Subang saja contohnya, kami berhasil mengurangi emisi karbon di 20 hektare sawah hingga sebanyak 7 ton atau 52 persen," tukas Dhruv.(red)