GfOoTUz6TpM6Tfr9TUYpTpC6BY==

Peringkat Pertama Dunia Pengguna Rokok Elektrik Tertinggi

Indonesia menjadi pengguna rokok elektrik tertinggi di dunia. Hal itu disampaikan Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Prof Agus Dwi Susanto.

Foto : Pengguna Rokok Elektrik

Dalam riset Statista Consumer Insights, Prof Agus menyebut, pengguna rokok elektrik di Indonesia saat ini cukup tinggi. Sekitar 25 persen masyarakat Indonesia pernah menggunakan rokok yang sering disebut vape itu.

Angka itu, katanya, jauh lebih tinggi daripada angka pengguna rokok elektrik di berbagai negara. Seperti Swiss, Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada, dan penggunanya menyasar anak remaja.

"Kita (Indonesia) menempati peringkat pertama di dunia sebagai konsumen rokok elektrik di dunia. Ini sangat miris sekali," kata Prof Agus dalam acara Media Briefing: Paparan hasil kajian dan studi klinis rokok elektronik di Indonesia, secara daring, Selasa (9/1/2024).

Diketahui, Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021 menunjukkan bahwa prevalensi perokok elektrik dewasa (>15 tahun) di Indonesia sebesar 3 persen. Angka prevalensi itu naik 10 kali lipat dalam waktu 10 tahun terakhir.

"Prevalensi rokok elektrik sangat meningkat pesat, hampir 100 kali lipat. Karna di 2011, prevalensinya hanya 0,3 persen, tahun 2018 10,9 persen prevalensi rokok elektrik, apalagi sekarang tentu lebih besar lagi," katanya.

Sementara itu prevalensi perokok elektrik pada remaja (10-18 tahun) tahun 2018 sebesar 10,9 persen. Angka ini meningkat hampir 10 kali lipat dalam dua tahun (2016-2018).

Ia memaparkan, hasil Survei Indikator Kesehatan Nasional (Sirkesnas) 2016 menunjukkan prevalensi perokok elektrik sebesar 1,2 persen. Sedangkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 jumlah pengguna rokok elektrik sebesar 10,9 persen.

"Kalau pada remaja jadi 10,9 persen yang meningkat dibanding tahun 2016. Kalau dari tahun 2011 itu dari 0,3 persen menjadi 10 persen hampir 40 kali lipat kenaikannya," ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak seluruh negara untuk mulai melarang penggunaan elektrik beraroma atau perasa. WHO menyatakan "langkah-langkah mendesak" diperlukan untuk mengendalikan penggunaan rokok elektrik atau vape.

"Anak-anak direkrut dan dijebak pada usia dini untuk menggunakan rokok elektrik dan mungkin kecanduan nikotin. Lebih banyak anak usia 13-15 tahun yang menggunakan vape dibandingkan orang dewasa di seluruh wilayah, dibantu dengan pemasaran yang sangat agresif," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus melansir Reuters, Kamis (14/12/2023).

Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Agus Dwi Susanto memaparkan sejumlah hasil kajian dan studi terkait penggunaan rokok elektrik. Ia mengatakan, pihaknya pernah melakukan sebuah riset alasan mengapa seseorang lebih memilih rokok elektrik dibanding rokok konvensional.

Sebagai Direktur Utama RSUP Persahabatan, pihaknya melakukan riset pada 2021 untuk mengetahui alasan masyarakat memilih rokok elektrik. Sebagian besar responden memandang bahwa kadar nikotin dalam rokok elektrik lebih rendah dari rokok konvensional.

"Dokter Samoedro dan tim menemukan bahwa mereka (masyarakat) berpikir bahwa kadar nikotinnya lebih rendah dan bisa dipakai untuk terapi berhenti merokok nikotin. Itu 76,7 persen (719 dari 937) itu alasan pertama," kata Prof Agus Dwi Susanto dalam acara Media Briefing: Paparan hasil kajian dan studi klinis rokok elektronik di Indonesia, secara daring, Selasa (9/1/2024).

Alasan kedua, kata Agus, rokok elektrik lebih banyak dipilih karena memiliki banyak varian rasa. Angkanya sebesar 17,2 persen atau 161 dari 937 responden.

Kemudian perokok dapat menggunakan trik asap (3,4 persen). Terakhir, hanya sebagian kecil perokok elektrik yang beralasan mengikuti tren (1,7 persen).

"Tapi yang paling tinggi berpindahnya karena alasan bisa dipakai untuk berhenti dari rokok konvensional. Sebanyak 76,7 persen," ujarnya.

Dalam paparannya, Agus juga mengambil hasil penelitian dari Bigwanto (2019) ketika melakukan survei kepada ratusan murid SMA di Jakarta. Ia mengungkapkan bahwa alasannya beragam, mulai dari rokok elektrik dianggap tidak adiktif hingga tidak menyebabkan kanker.

"Rokok elektrik tidak adiktif dibandingkan rokok konvensional (1,98 persen) dan rokok elektrik dianggap tidak menyebabkan kanker (2,38 persen). Kemudian, cukup uang untuk membeli rokok elektrik karna harganya murah (3,24 persen) dan dapat izin dari orangtua (3,80 persen)," ujarnya. "Yang menarik itu rokok elektrik dianggap tidak lebih adiktif dan tidak menyebabkan kanker. Ini adalah persepsi yang salah." (*)


Komentar0