Masyarakat Kabupaten Subang mengeluhkan tingginya harga beras di pasaran saat ini, tidak hanya harganya mahal, juga terjadi kelangkaan beras di pasaran, paska Pemilu 2024, dan menghadapi bulan Ramadan 1445 Hijriyah.

Siti Rohmat seorang ibu rumah tangga di Subang  mengaku, dengan naiknya harga beras yang mencapai Rp 16 ribu perliter di warungan, sangat menberatkan beban hidupnya sehari-hari.

"Ya betul pak, dengan naiknya harga beras saat ini, jelaslah semakin meberatkan masyarakat, apalagi bagi ibu rumah tangga separti saya ini," ucap Siti, Rabu (21/2/2024).

Siti berharap, pemerintah secepatnya turun tangan, agar harga beras bisa kembali turun, dan kembali ke harga normal.

"Saya selaku masyarakat, tolong kepada pemerintah untuk segera bisa menurunkan harga beras yang mahal ini, mudah-mudahan saja harganya bisa turun, apalagi menghadapi bulan ramadan," tegasnya.

Sementara itu, menanggapi keluhan masyarakat, terkait tingginya harga beras dan terjadi kelangkaan dipasaran. Kelapa Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Kabupaten Subang Yayat Sudrajat membenarkan, harga beras saat ini sedang mengalami kenaikan di sejumlah pasar tradisional dan di sejumlah pasar modern, di harga Rp 15 sampao dengan Rp 17 ribu per-kilo gram.

"Memang benar, saat ini harga beras hampir di seluruh Indonesia, sedang mengalami kenaikan harga. Namun jika ada yang bilang harganya mencapai Rp 19 ribu per-kilo, itu tidak benar," tegas Yayat.

Untuk mengantisipasi kelangkaan beras di lapangan pihaknya bersama dinas terkait lain, yang tergabung dalam tim pengendali inflasi daerah, melakukan survei ke pasar baru dan pasar Pujasera, dan juga kesejumlah penyumplai beras yang ada di Pantura.

"Tim di pimpin langsung oleh pak Pj. Bupati, di dua pasar tadi pak Pj. Bupati sempat berdialog dengan para pedagang, penyebab naik dan langkanya beras saat ini," terangnya.

Langkah selanjutnya, dikatakan Yayat, tim pengendali inflasi daerah, selain bekerjasama dengan Bulog Sub Duvre Subang-Purwakarta, juga akan mendatangi penyuplai beras, dan juga perusahaan penggilingan beras.

"Kita terus berupaya menggelar OPM yang bekerjasama dengan Bulog Sub Divre Subang-Purwakarta, juga kita survei langsung ke para penyuplai beras, jangan sampai mengurangi kuota kebutuhan masyarakat, sementara kebutuhan di luar Subang dipenuhi, terlebih Subang sebagai lumbung padi Jawa Barat dan juga Nasional," pungkas Kepala DKUPP Subang.(*)