Fony Syahputra (38) awalnya enggan mengikuti tes skrining kesehatan jiwa. Ia takut diejek 'gila' karna caleg pengusungnya kalah dalam kontestasi politik lima tahunan. 

Foto ilustrasi

Fony, adalah salah satu anggota timses caleg dan paslon capres pada Pekilu 2024. Fony tidak sendirian, ia bersama ketiga teman timses lainnya ikut skrining. 

Ia menduga banyak timses di luar sana yang merasakan hal sama seperti dirinya. Seperti berpikir secara berlebihan (over thinking), susah tidur hingga berhalusinasi. 

"Saya rasa banyak, cuma mungkin keberanian untuk ikut tes seperti ini yang mungkin mereka takut dibilang gila. Karna awalnya saya begitu, sempet mikir takutnya nanti dibilang gila tapi saya mencoba untuk mengetahui kondisi diri saya sendiri," katanya menjelaskan. 

Dia mengaku sudah memberikan bantuan-bantuan materiil kepada warga di daerah pemilihan (dapil) caleg tersebut. Namun, kenyataannya setelah Pemilu hasil perolehan suara yang sudah masuk 50 persen itu, tidak memuaskan hatinya. 

"Permintaan warga sudah kami turuti, bantuan ini itu, selama tahun berjalan dari 2019 sampai 2024. Tapi di daerah-daerah tertentu hasilnya ngga memuaskan, ini berubah dari peta yang terjadi di 2019," kata dia menjabarkan. 

Fony tidak menyebutkan berapa besar nominal uang yang sudaj dikeluarkan. Tetapi bantuan seperti pembuatan rumah ibadah hingga perbaikan jalan menjadi hal yang terus ia pikirkan. 

"Yang bikin kecewa di daerah-daerah yang sudah diberi bantuan tiba-tiba suaranya ngga sesuai harapan. Terkait nominalnya saya ngga bisa sebut," kata Fony. 

Fony berharap, teman-temen timses lain bisa memeriksakan kesehatan jiwanya juga. "Kalau memiliki gangguan susah tidur, tekanan, over thinking atau segala macam, ngga ada salahnya untuk ikut skrining seperti ini," ujar Fony, mengakhiri. (*)