Direktur Puskapdik Sabiti Satori membeberkan, tiga faktor 'biang kerok' yang menyebabkan kemelut terjadinya perundungan di tingkat sekolah. Faktor pertama, disebutkannya, faktor internal dari sisi siswa atau peserta didik tersebut.


"Kedua, terdapat faktor eksternal dalam arti pergaulan. Kemudian yang terakhir (ketiga) adalah faktor situasional," kata Sabiti, Rabu (21/2/2024).

Faktor situational ini, Sabiti menjelaskan, sangat memengaruhi terjadinya perundungan. Karena, dalam tingkat satuan pendidikan itu selalu ada yang namanya senioritas.

"Ada unsur senioritas dan juga junioritas sehingga itu bisa memengaruhi. Selama ini perundungan itu tidak hanya di tingkat sekolah menengah, namun juga di sekolah dasar juga marak," ucapnya.

Kasus bully pada tingkat sekolah dasar, Sabiti menilai, tidak ramai perbincangannya seperti kasus tingkat SMA. Dikarenakan, kasus perundungan di SD tidak tersorot kamera.

"Sudah marak terjadi hanya saja barangkali tingkat eksposurnya yang tersorot ini di tingkat atas. Padahal di tingkat bawah juga marak terjadi," ujarnya(*)