Fenomena 'Banten Gaya Baru' dengan Makanan Minuman Kekinian
Singaraja: Pemandangan berbeda kini sering terlihat pada tatanan Banten (sesajen) umat Hindu di Bali. Jika biasanya banten didominasi oleh buah-buahan lokal, jajanan tradisional, dan jajan pasar, kini berbagai produk kuliner kekinian mulai marak digunakan sebagai sarana upacara.
Mulai dari minuman kemasan, makanan cepat saji, hingga camilan impor kini bersanding dengan janur dan bunga di atas pelataran Pura. Fenomena ini memicu perbincangan hangat di masyarakat mengenai batas antara modernitas dan tradisi.
Menanggapi hal tersebut, Manggala (pimpinan) Pasraman (lembaga pendidikan keagaamaan non-formal Hindu) Pinandita Brahma Vidya Samgraha Penarukan, Kabupaten Buleleng, Ida Bawati Hermawan Tangkas mengatakan, ada beberapa faktor yang disinyalir menjadi pemicu maraknya penggunaan sarana kekinian. Faktor tersebut antara lain: Desa Kala Patra (wilayah/tempat, waktu, keadaan), efesiensi waktu dan tenaga, serta adanya perubahan sosial dan ekonomi, maupun komersialisasi sarana upacara.
"Fenomena sarana banten menggunakan bahan kekinian, merupakan bentuk adaptasi tradisi Hindu Bali terhadap perubahan zaman, Banten sebagai sarana upacara Yadnya (persembahan tulus ikhlas) pada dasarnya bersifat simbolik dan filosofis, sehingga bahan yang digunakan dapat menyesuaikan konteks sosial tanpa menghilangkan makna dari upacara itu sendiri,” ujar Manggala yang akrab disapa Ida Bawati Hermawan saat dikonfirmasi RRI melalui telepon, Senin (12/1/2026).
Perubahan ini menunjukkan bahwa tradisi di Bali bersifat dinamis dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjaga agar modernitas tersebut tidak menghilangkan nilai-nilai luhur dan keasrian dari ritual itu sendiri.
“Dampak positifnya yaitu tradisi tetap berjalan, meski dalam kesibukan modern, memudahkan generasi muda tetap melaksanakan upacara, dan ini menandakan tradisi bersifat dinamis tidak kaku, namun selain dampak positif, juga terdapat dampak negatifnya yakni resiko pergeseran makna filosofi banten dan berkurangnya keterampilan membuat banten tradisional,” kata Ida Bawati Hermawan.
Ida Bawati Hermawan menambahkan tidak ada larangan tertulis yang kaku mengenai jenis makanan tertentu. Namun penggunaan bahan kekinian memicu peningkatan penggunaan bahan yang tidak ramah lingkungan.
Ida Bawati juga menegaskan bahwa penggunaan bahan kekinian dalam sarana banten bukanlah kesalahan selama makna, tattwa filsafat, etika dan tujuan Yadnya tetap dijaga. Tantangannya adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas, agar banten tidak hanya indah secara visual tetapi tetap suci dari bahan yang bermakna secara spiritual.(*)
