Peringatan Dini, Arah Kepemimpinan NU Dinilai Perlu Kembali ke Pesantren
Jakarta: Menjelang Muktamar ke-35 NU, arah kepemimpinan organisasi dinilai perlu kembali berpijak pada pesantren.
Tantangan global dan visi Indonesia Emas 2045 menuntut kepemimpinan substantif.
Pengamat Isu Sosial M Rusdiyanto menilai NU membutuhkan nakhoda berakar kuat pada tradisi keulamaan. Menurutnya, kepemimpinan NU tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan administratif.
Duet KH Imam Jazuli dan KH Asep Saifuddin Chalim dinilai menjawab kegelisahan basis nahdliyin.
Keduanya dianggap merepresentasikan aspirasi pesantren sebagai fondasi utama NU.
“NU lahir dari rahim pesantren dan semestinya kembali menjadi rumah besar pesantren,” kata Rusdiyanto dalam keterangan pers tertulis, Jumat (2/1/2026).
Ia menilai duet tersebut sebagai upaya rekonsiliasi historis organisasi. KH Imam Jazuli memimpin Pesantren Bina Insan Mulia di Cirebon dengan pertumbuhan pesat.
Sementara KH Asep mengasuh Pesantren Amanatul Ummah di Surabaya dan Pacet. Rusdiyanto meyakini, rekam jejak pendidikan keduanya relevan menghadapi tantangan masa depan bangsa.
Pesantren mereka dinilai berhasil memadukan tradisi dan kompetensi global. Menurutnya, transformasi sumber daya manusia pesantren menjadi kunci menyongsong bonus demografi.
Karena itu, model pendidikan keduanya dinilai mampu memperkuat daya saing santri. Duet ini juga dinilai mencerminkan keseimbangan geografis Jawa Barat dan Jawa Timur.
Poros Jabar-Jatim dianggap penting menjaga stabilitas dan konsolidasi NU “Keterwakilan wilayah menentukan kekuatan struktural dan kultural NU,” ujar Rusdiyanto.
Sisi lain, ia menyoroti, rotasi kepemimpinan menjadi kebutuhan organisasi. Dari sisi kemandirian, keduanya dianggap tidak bergantung pada kepentingan politik praktis.
Hal tersebut, lanjutnya, penting menjaga independensi NU sebagai kekuatan civil society. Menurut Rusdiyanto, kekuatan spiritual menjadi pembeda utama duet ini, sehingga tradisi tirakat dan riyadhah penting menjaga marwah kepemimpinan ulama.
"Muktamar ke-35 momentum menentukan arah masa depan NU. Pilihan kepemimpinan akan menentukan posisi NU di tingkat nasional dan global," ujarnya.(*)
