Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Rupiah Masih Tertekan ke Rp16.786 per Dolar AS

Jakarta : Nilai tukar rupiah terpantau masih melemah terhadap dolar AS dalam penutupan perdagangan akhir pekan. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah turun 0,19 persen atau 31 poin menjadi Rp16.786 per dolar AS.

Lembaran uang rupiah bergambar Pahlawan Proklamator

Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen pasar keuangan fokus pada para calon ketua the Fed pilihan Presiden Trump. Kamis kemarin, Trump mengatakan akan segera mengumumkan nominasi ketua the Fed.

“Beberapa laporan mengatakan bahwa Trump akan menominasikan mantan gubernur Fed, Kevin Warsh. Pada para wartawan Trump mengatakan bahwa Warsh berada di posisi terdepan,” kata Ibrahim dalam analisisnya, Jumat 30 Januari 2026.

Pada tahun 2027, Trump pernah mempertimbangkan Warsh untuk menjadi ketua the Fed. Namun ketika itu, Jerome Powell yang berhasil meraih posisi puncak di bank sentral AS itu. 

Di sisi lain, ketegangan meningkat setelah AS mengerahkan kekuatannya di Timur Tengah. Presiden Trump terus mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan terkait pengembangan program nuklir Iran. 

Minggu ini, Trump dikabarkan akan menjamu pejabat militer dan intelijen Israel dan Arab Saudi di Washington. “Sumber di AS menyebutkan Trump akan memaparkan sejumlah opsi, tapi belum memutuskan apakah akan menyerang Iran,” ujar Ibrahim.

Sementara itu di dalam negeri, BI menegaskan akan memperkuat pengelolaan cadangan devisa sebagai instrumen utama menjaga stabilitas perekonomian. “Upaya itu juga dilakukan BI untuk menumbuhkan kepercayaan global di tengah meningkatnya volatilitas keuangan internasional, ucap Ibrahim.

Pengelolaan cadangan devisa dilakukan dengan memerhatikan dinamika suku bunga global. Termasuk pergerakan nilai tukar dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS. 

“Langkah ini dinilai krusial untuk meredam dampak ketidakpastian global terhadap perekonomian domestik. Cadangan devisa kini tidak hanya berfungsi sebagai bantalan krisis, tetapi juga menjadi bagian dari strategi transformasi ekonomi nasional yang lebih adaptif,” kata Ibrahim mengutip keterangan BI.

Untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, BI juga memperkuat bauran kebijakan. Selain itu melakukan transformasi ekonomi melalui lima sinergi strategis.

“Lima strategi BI tersebut adalah menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dan percepatan hilirisasi industri. Strategi lainnya, penguatan ekonomi kerakyatan, peningkatan pembiayaan perekonomian dan pasar keuangan, serta akselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan nasional,” kata Ibrahim menutup analisisnya.(*)

Hide Ads Show Ads