Dampak Perang Iran: Ekonomi Dunia Terguncang
Karawang: Krisis energi mulai hantam negara berkembang di Asia dan Afrika akibat konflik Timur Tengah.
Gelombang kejut ekonomi akibat konfrontasi militer antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran mulai menghantam fondasi ekonomi negara-negara berkembang.
Penutupan Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas gas di Teluk telah memicu lonjakan harga energi yang menempatkan kelompok Global South dalam posisi paling rentan.
Dari Asia Selatan hingga Afrika Utara, para pengambil kebijakan kini menghadapi dilema ganda: ketergantungan akut pada impor energi serta keterbatasan fiskal untuk meredam lonjakan harga yang kian liar.
Kelumpuhan di Asia Selatan
Pakistan, yang mengandalkan 80 persen kebutuhan energinya dari kawasan Teluk, kini berada di ambang kelumpuhan. Pemerintah di Islamabad telah memberlakukan empat hari kerja dalam sepekan dan menutup sekolah demi menghemat cadangan bahan bakar yang diprediksi habis dalam hitungan minggu.
Meskipun Perdana Menteri Shehbaz Sharif sempat menunda kenaikan harga BBM menjelang Idulfitri, para pengamat menilai langkah tersebut hanyalah peredam sementara.
"Guncangan ini sangat parah, meski belum sepenuhnya dibebankan kepada konsumen dan industri. Saya memperkirakan beberapa minggu ke depan situasi akan memburuk saat faktor gangguan pasokan mulai merambat ke pasar," ujar S. Akbar Zaidi, Direktur Eksekutif Institute of Business Administration di Karachi rabu 25 Maret 2026 kepada Al Jazeera.
Kondisi serupa terjadi di Bangladesh dan Sri Lanka. Dhaka melaporkan stasiun pengisian bahan bakar mulai mengering, sementara Kolombo menetapkan hari Rabu sebagai hari libur nasional guna menekan konsumsi energi di tengah krisis devisa yang belum pulih sejak 2019.
Tekanan Fiskal dan Inflasi Pangan
Di Mesir, pemerintah terpaksa memangkas subsidi dan menaikkan harga BBM hingga 22 persen. Presiden Abdel Fattah el-Sisi menegaskan bahwa kebijakan pahit ini harus diambil untuk menghindari "konsekuensi yang jauh lebih berbahaya" bagi stabilitas nasional.
Analisis dari Centre for Global Development di Washington menempatkan negara-negara seperti Yordania, Senegal, Ethiopia, hingga Zambia dalam daftar risiko tertinggi. Hal ini diperparah oleh depresiasi mata uang lokal terhadap Dolar AS yang memicu biaya impor semakin mahal.
Yeah Kim Leng, Profesor Ekonomi dari Sunway University Malaysia, menjelaskan bahwa negara-negara dengan pendapatan per kapita rendah adalah korban pertama dari ketidakpastian geopolitik ini.
"Mereka menghadapi kombinasi mematikan antara inflasi, tekanan mata uang, dan ketegangan fiskal. Dengan ruang fiskal yang menipis, kebijakan penghematan yang dipadukan dengan hiperinflasi dapat memicu keresahan sosial yang meluas," papar Yeah.
Ancaman Rantai Pasok Pangan
Dampak perang ini tidak berhenti pada sektor transportasi. Di Pakistan, kenaikan harga solar mengancam ketahanan pangan karena bertepatan dengan musim panen gandum pada bulan April.
Khalid Waleed, peneliti dari Sustainable Development Policy Institute, memperingatkan bahwa biaya logistik dan operasional mesin pertanian yang membengkak akan langsung ditransmisikan ke harga pangan pokok.
Bagi masyarakat kelas bawah yang mengandalkan tepung gandum sebagai konsumsi utama, situasi ini adalah ancaman eksistensial.
Selama eskalasi di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi, negara-negara di belahan bumi selatan dipaksa untuk bertahan di tengah badai ekonomi yang bukan merupakan buatan mereka sendiri.(*)
