Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Ini Dalih KDM Keukeuh Sekolah Favorit Jadi Sakolah Maung

Karawang : Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengungkap alasan di balik rencana mengubah sejumlah sekolah negeri favorit menjadi Sekolah Manusia Unggul (Maung).(16/5/26).

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi

Menurutnya, kualitas sekolah unggulan di Jawa Barat terus mengalami penurunan sejak sistem zonasi diterapkan secara luas. Sebanyak 41 sekolah negeri di Jawa Barat telah dipilih sebagai pusat pengembangan Sekolah Maung.

Komposisinya terdiri dari 28 SMA dan 13 SMK yang ditargetkan mulai berjalan pada tahun ajaran 2026/2027. Di Kota Bandung, dua sekolah elite yang masuk program itu adalah SMAN 3 Bandung dan SMAN 5 Bandung. Dedi mengatakan, sekolah-sekolah unggulan sebenarnya sudah lama menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan di Jawa Barat. Namun, kualitasnya perlahan menurun dalam beberapa tahun terakhir.

"Yang lahiran tahun 90-an pasti tahu. Setiap kabupaten/kota itu pasti ada sekolah favorit, biasanya SMA 1. Kalau di Bandung, SMA 3 dan SMA 5. Seiring dengan waktu, dengan diberlakukan zonasi, tingkat kualifikasi sekolah terus mengalami penurunan tajam," kata Dedi. Ia mengaku mendapat masukan langsung dari Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah terkait kondisi sekolah unggulan di Jawa Barat saat ini yang disebut telah mengalami penurunan.

"Sebagai bahan kajian, kemarin Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menyampaikan pada saya, di Jawa Barat sekolah yang punya kualifikasi sebagai sekolah unggul itu tinggal SMA 3. Yang lainnya sudah didominasi swasta," ujarnya.

Menurut Dedi, penurunan kualitas itu dipengaruhi banyak faktor, mulai dari daya dukung sekolah, pembiayaan, hingga kualitas akademik siswa yang masuk.

"Kenapa terjadi penurunan itu? Karena daya dukungnya semakin menurun, pembiayaan mengalami penurunan, kualifikasi murid yang masuk mengalami penurunan akademis," katanya. Ia bahkan menyinggung munculnya berbagai persoalan disiplin di sekolah yang dulu dikenal unggulan. "Bahkan, misalnya di sekolah favorit dulu SMA 1 Purwakarta, ada peristiwa yang menarik ya, di mana murid mengolok-olok guru. Itu kan salah satu juga problem yang dihadapi," ucapnya. Dedi menilai, jika kondisi itu terus dibiarkan, sekolah negeri unggulan akan kehilangan daya saing dan hanya sekolah swasta mahal yang menjadi pilihan kelompok masyarakat tertentu.

"Dampaknya ke depan, kalau ini terus-terusan pemerintah provinsi membiarkan, maka nanti yang sekolah di sekolah swasta adalah anak orang kaya, anak pejabat, anak pejabat tinggi, anak anggota DPRD," katanya.

"Kenapa? Karena mereka akan mulai bersekolah di sekolah-sekolah yang berkualitas. Kemudian tingkat kemampuan siswa masuk ITB dari SMA 3, silakan dicek, mengalami penurunan. Tajam penurunannya, ini kan perlu bahan kajian komprehensif," lanjutnya. Lewat program Sekolah Maung, Pemprov Jabar ingin mengembalikan pola sekolah unggulan berbasis prestasi akademik dan non-akademik. Dedi menegaskan, jalur prestasi akan diperbesar dibanding sistem zonasi.

"Sehingga, apa sih yang dilakukan pemerintah provinsi? Pemerintah provinsi melakukan, khusus untuk sekolah-sekolah yang dulu menjadi sekolah unggulan, rekrutmen siswanya diperbesar untuk akademik dan prestasi non-akademik," ujarnya.
"Prestasi akademiknya harus diperluas, kemudian non-akademiknya diperbesar. Non-akademik itu misalnya kemampuan seni, kemampuan olahraga, kemampuan-kemampuan lain yang itu mampu membangun keunggulan manusia. Itu masuknya nanti bisa masuk di sekolah-sekolah favorit itu," sambung Dedi. Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan skema dukungan untuk sekolah swasta agar siswa dari keluarga menengah ke bawah tetap mendapat akses pendidikan berkualitas.

"Tetapi di samping sekolah favorit itu ada sekolah swasta. Di sekolah swasta itu nanti dibuat untuk menampung siswa yang tidak masuk ke sekolah favorit tersebut, dengan pembiayaan bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah dibiayai oleh Provinsi Jawa Barat, dan kita juga akan mempertimbangkan subsidi-subsidi lain," katanya.

Dedi menegaskan, program Sekolah Maung bukan sekadar proyek percontohan, melainkan upaya mengembalikan identitas sekolah unggulan yang dulu pernah ada di setiap daerah.

"Kalau menurut saya kan bukan percontohan. Sekolah unggul itu dari dulu ada tiap kabupaten. Sekarang dikembalikan lagi. Dikembalikan lagi, zonasi tidak menjadi ruang yang paling besar, tetapi ruang paling besarnya adalah prestasi," ujarnya.(*)

Hide Ads Show Ads