Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Katanya Saat Ini Muncul Fanatisme Berlebihan terhadap Sosok Pemimpin, Ini Komentar Pegiat Sunda

Narasi budaya Sunda yang terus diangkat Kang Dedi Mulyadi (KDM) mulai memicu kekhawatiran baru. Pegiat budaya menilai kritik kini sulit diterima karena muncul fanatisme berlebihan terhadap sosok pemimpin.

Perdebatan soal penguatan simbol Pajajaran di Jawa Barat semakin meluas. Di tengah popularitas agenda budaya yang dibawa Dedi Mulyadi, sejumlah budayawan mulai menyoroti dampak sosial yang muncul di ruang publik dan media sosial.(13/5/26).

Pegiat budaya asal Ciamis, Ricky Andriawan Mardjadinata

Pegiat budaya asal Ciamis, Ricky Andriawan Mardjadinata, menilai kritik terhadap kebijakan budaya pemerintah kini sering dianggap sebagai bentuk kebencian terhadap Sunda. Padahal, menurutnya, masyarakat hanya ingin menjaga keberagaman sejarah Tatar Sunda.

Ia mengaku prihatin karena ruang diskusi mulai menyempit. Kritik yang seharusnya menjadi bagian dari tradisi intelektual Sunda justru dibalas dengan serangan personal hingga cap anti-Sunda oleh pendukung fanatik.

“Yang berbahaya ketika tokoh mulai dikultuskan. Semua kritik dianggap serangan terhadap Sunda,” kata Ricky.

Menurutnya, budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asah, silih asih, dan musyawarah. Karena itu, perbedaan pandangan seharusnya diterima sebagai bagian dari proses menjaga kebudayaan tetap sehat dan berkembang.

Ricky juga menilai dominasi simbol Pajajaran dalam berbagai agenda budaya berpotensi membuat masyarakat melupakan sejarah kerajaan dan komunitas Sunda lainnya. Ia mengingatkan Jawa Barat memiliki warisan besar dari Galuh, Talaga, Sumedang Larang, Cirebon hingga komunitas adat Baduy.

Ia meminta pemerintah membuka ruang dialog yang lebih luas dengan para budayawan dan akademisi agar kebijakan budaya tidak hanya berpusat pada satu tafsir sejarah tertentu.(*)

Hide Ads Show Ads