Ini Taktik Prancis untuk Melawan Spanyol di Semifinal Piala Dunia
Amerika Serikat: Mantan striker Timnas Spanyol Fernando Morientes mengungkapkan rencana Prancis untuk laga semifinal Piala Dunia 2026.
“Final sesungguhnya” Piala Dunia 2026 akan terjadi saat dua tim sepak bola terbaik di kolong jagat saat ini, Prancis dan Spanyol, akan bertemu pada pertandingan semifinal di Dallas Stadium, Arlington, Amerika Serikat (AS).
Pertandingan ini rencananya akan disiarkan oleh TVRI Nasional dan TVRI Sport pada Rabu (15/7/2026) dini hari mulai pukul 01.00 WIB.
Melihat kualitas permainan dan kedalaman skuad, hasil pertandingan semifinal Piala Dunia edisi ke-23 antara Prancis melawan Spanyol ini memang bakal sangat sulit diprediksi.
Les Bleus telah membuktikan diri sebagai tim paling tangguh dalam hal serangan di kejuaraan ini dengan mengandalkan para penyerang mautnya sekaliber Kylian Mbappe, Ousmane Dembele, Michael Olise, Desire Doue, dan Bradley Barcola.
Di sisi lain, La Roja—julukan Timnas Spanyol—memiliki organisasi permainan sangat rapi, utamanya pertahanan, sehingga sangat sulit ditembus tim-tim sekelas Belgia, Portugal, dan Austria di babak gugur serta Uruguai, Arab Saudi, dan Tanjung Hijau di fase grup.
Mantan striker Timnas Spanyol, Fernando Morientes, mengenal betul seperti apa pelatih Tim Nasional Prancis, Didier Deschamps. Morientes pernah ditangani Deschamps dalam 61 pertandingan saat membela AS Monaco dan Olympique de Marseille, dua klub elite Prancis.
Mantan striker yang dibesarkan Real Madrid itu pun menganalisis metode Deschamps dalam program radio asal Spanyol, Cope, dengan tajuk Especial Mundial.
Menurut Morientes, tim asuhan Deschamps menuntut kondisi fisik yang sangat prima. “Dia tipe pelatih yang mengutamakan kekuatan fisik. Saya belum pernah berlatih sekeras saat bersama Deschamps,” ujar Morientes, 50 tahun.
Morientes juga menjelaskan bahwa Deschamps menyukai pemain berpostur besar, bertenaga, mengandalkan fisik, serta pemain yang melakukan tekel keras dan memiliki wibawa, seraya menyebut Aurelien Tchouameni—gelandang tengah Prancis—sebagai contohnya.
Morientes yakin bahwa saat menghadapi Spanyol, Deschamps bakal tidak ragu untuk bertindak sesuai realitas, yakni Spanyol lebih baik dalam penguasaan bola dibandingkan dengan timnya. Jadi, biarkan saja La Roja yang lebih banyak memegang bola.
Bagi Deschamps, justru menguntungkan bagi Prancis jika Spanyol yang menguasai bola karena dengan begutu tim asuhan Luis de la Fuente tersebut akan bergerak maju dan meninggalkan celah di lini belakang.
“Permainan Prancis akan mengandalkan kecepatan lari para pemainnya untuk memanfaatkan ruang kosong,” ucap Morientes yang memperkuat Timnas Spanyol sebanyak 47 laga antara akhir Maret 1998 sampai akhir Maret 2007 dengan mencetak 27 gol.
Morientes juga yakin bahwa dalam pembicaraan sebelum pertandingan, Deschamps akan mengutip kata-kata Lamine Yamal dan Mariano Rajoy untuk memotivasi para pemainnya.
Mantan Perdana Menteri Spanyol, Mariano Rajoy, memicu kehebohan saat menulis dalam kolom di harian El Debate bahwa Prancis memiliki skuad kelas atas, namun tanpa orang Prancis.
Menanggapi hal itu, penyerang Timnas Spanyol Lamine Yamal menepis komentar tersebut sebagai upaya pengalihan isu, seraya menyatakan, “Prancis dan Spanyol adalah contoh integrasi. Itulah hakikat sepak bola: integrasi.”(*)
