Kembali Sesumbar, Presiden Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Sipil Iran
AS: Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan peringatan keras kepada Iran di tengah kebuntuan diplomatik terkait akses di Selat Hormuz.
Dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada Rabu 15 Juli 2026, Trump menegaskan bahwa militer Amerika Serikat akan memperluas cakupan serangan ke infrastruktur sipil, termasuk pembangkit listrik dan jembatan, jika Teheran menolak untuk kembali ke meja perundingan.
“Situasi akan menjadi sangat buruk bagi mereka minggu depan, karena saat itulah kami akan menyasar pembangkit listrik dan jembatan,” ujar Trump.
“Kami akan melumpuhkan seluruh pembangkit listrik dan menghancurkan semua jembatan mereka kecuali mereka bersedia duduk untuk bernegosiasi.”
Pernyataan ini mencuat saat ketegangan militer di Timur Tengah mencapai titik didih. Selama empat hari berturut-turut, pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan udara terhadap posisi Iran dan menerapkan kembali blokade angkatan laut di pelabuhan-pelabuhan Iran di Selat Hormuz.
Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan, operasi tersebut bertujuan untuk melumpuhkan kemampuan Iran dalam mengganggu pengiriman komersial di jalur strategis tersebut.
Namun, pakar hukum internasional memperingatkan bahwa penargetan infrastruktur sipil yang vital, seperti fasilitas listrik dan air, merupakan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Ancaman serupa sebenarnya pernah dilontarkan Trump pada Maret lalu, di mana ia sempat mengancam akan "melenyapkan" stasiun listrik dan fasilitas air bersih Iran.
Eskalasi di Berbagai Front
Situasi di lapangan kini semakin tidak menentu. Media pemerintah Iran melaporkan adanya ledakan di dekat kota pelabuhan Bandar Abbas dan Pulau Qeshm. Sebagai respons, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengeklaim telah menyasar fasilitas logistik dan peralatan militer milik Armada Kelima AS di Bahrain.
Serangan balasan kini meluas ke luar wilayah Iran. Otoritas militer Yordania mengonfirmasi pada Rabu pagi bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat tiga rudal balistik yang memasuki wilayah udara mereka.
Sebelumnya, kantor berita resmi Iran, IRNA, menyebutkan bahwa pasukan Iran melancarkan serangan pesawat nirawak (drone) terhadap pangkalan militer di Yordania yang menjadi markas pesawat tempur Amerika.
IRGC memberikan peringatan keras bahwa jika Washington terus berusaha mengendalikan jalur maritim dan memblokir ekspor energi kawasan, maka rute ekspor lain yang melayani kepentingan AS dan sekutunya juga terancam ditutup. “Ekspor energi kawasan adalah untuk semua pihak, atau tidak untuk siapa pun,” tegas IRGC dalam pernyataan resminya.
Prospek Diplomasi yang Suram
Harapan untuk mencapai gencatan senjata permanen, menyusul kesepakatan sementara pada 17 Juni lalu, kini tampak memudar. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menyatakan bahwa keputusan AS untuk memperbarui blokade telah merusak nota kesepahaman Islamabad.
Mengenai durasi serangan militer tersebut, Trump menegaskan bahwa tindakan tegas akan terus berlanjut hingga tujuannya tercapai. “Serangan akan terus berlanjut sampai saya katakan cukup,” pungkas Presiden AS tersebut.(*)
