Konflik AS-Iran Meningkat Saat Pemakaman Khamenei
Karawang : Ketegangan di Timur Tengah semakin memanas setelah Amerika Serikat dan Iran kembali terlibat dalam aksi saling serang . Eskalasi ini terjadi bertepatan dengan rangkaian prosesi pemakaman pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan udara akhir Februari lalu.
Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi telah melancarkan serangan terhadap 90 target militer di sepanjang garis pantai Iran, termasuk sistem pertahanan udara dan infrastruktur logistik. Operasi ini diklaim bertujuan untuk mendegradasi kemampuan Teheran dalam mengancam pelayaran komersial di jalur air vital tersebut.
"Serangan terbaru ini merupakan kelanjutan dari operasi ofensif yang berhasil dilakukan sebelumnya," demikian pernyataan resmi Centcom.
(Ribuan pelayat berkumpul untuk prosesi pemakaman mendiang pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Kompleks Makam Imam Reza pada 9 Juli 2026 di Mashhad, Iran.(Foto: BBC News))
Di sisi lain, otoritas Iran mengecam keras langkah tersebut. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut serangan itu sebagai "kejahatan perang yang serius" dan melabeli pemerintahan AS dengan pernyataan keras.
Hingga Kamis 9 Juli 2026, media pemerintah melaporkan setidaknya 14 orang tewas dan 78 lainnya terluka akibat rangkaian serangan di lima provinsi.
Dampak Sektor Pelayaran Global
Dunia maritim merasakan dampak langsung dari eskalasi ini. Data dari Intertanko, organisasi internasional pemilik kapal tanker, menunjukkan penurunan drastis jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Phil Belcher, Direktur Kelautan Intertanko, dalam keterangannya kepada BBC Radio 4, mencatat bahwa volume lalu lintas kapal harian kini turun drastis ke angka satu digit, jauh dari angka normal yang mencapai 130 kapal per hari sebelum konflik pecah.
"Siklus kekerasan dan ketidakpastian ini memberikan dampak yang luar biasa, baik terhadap stabilitas bisnis maupun keselamatan para pelaut di lapangan," ujar Belcher.
Kesepakatan yang Runtuh
Konflik ini menandai berakhirnya Memorandum Kesepahaman (MoU) yang disepakati kedua negara pada 17 Juni lalu. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa perjanjian gencatan senjata tersebut kini tidak lagi berlaku.
"Saya tidak ingin berurusan dengan mereka lagi," tegas Trump kepada awak media di Washington.
Menanggapi pernyataan tersebut, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui platform media sosial X, menegaskan sikap negaranya. "Kami tidak membalas keburukan dengan keburukan, melainkan dengan tindakan: tanpa rasa takut dan dengan keberanian besar," tulisnya.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, turut memberikan peringatan keras kepada Washington. "Izinkan saya berbicara lugas: jika Anda menyerang, Anda akan diserang balik," tulis Ghalibaf.
Ia juga menegaskan bahwa pengelolaan Selat Hormuz akan tetap berada di bawah kendali Iran, bukan berdasarkan ancaman pihak eksternal.
Hingga laporan ini diturunkan, situasi di lapangan masih sangat fluktuatif. Laporan mengenai ledakan di berbagai titik, mulai dari wilayah Iran bagian selatan hingga ancaman keamanan di negara-negara Teluk seperti Bahrain, Kuwait, dan Qatar, terus menjadi perhatian serius komunitas internasional.(*)

