Merespons Keluhan, FIFA Lakukan Perubahan Signifikan pada VAR
Amerika Serikat: Perubahan tersebut mulai diterapkan pada pertandingan perempat final Piala Dunia 2026 antara Prancis dan Maroko di Boston Stadium pada Kamis sore.
FIFA telah menerapkan perubahan struktural yang signifikan pada operasional Video Assistant Referee (VAR) untuk sisa pertandingan Piala Dunia 2026 ini, menyusul adanya keluhan mengenai standar kepemimpinan wasit.
Sebelum pertandingan perempat final antara Prancis dan Maroko pada Kamis sore waktu setempat atau Jumat (10/07/2026) dini hari WIB, setiap keputusan VAR di Piala Dunia musim panas ini diambil di International Broadcast Centre (IBC) di Dallas, Texas, Amerika Serikat.
Namun, berdasarkan protokol baru, mulai laga perempat final FIFA menempatkan petugas VAR utama dan petugas VAR cadangan langsung di stadion guna meminimalkan potensi masalah teknis.
Oleh karena itu, saat pertandingan Prancis melawan Maroko, Leodan Gonzalez dari Uruguai disiagakan untuk memberikan dukungan VAR kepada perangkat pertandingan jika terjadi gangguan koneksi di pusat kendali FIFA di Dallas.
Sementara itu, Tatiana Guzman dari Nikaragua berada di Boston Stadium, Foxborough, sebagai petugas VAR cadangan.
Gonzalez dan Guzman didampingi oleh tim wasit yang seluruhnya berasal dari Argentina, yang terdiri dari wasit utama Facundo Tello serta asisten wasit Juan Pablo Belatti dan Gabriel Chade.
Keputusan FIFA untuk menerapkan perubahan terkait operasional VAR ini diambil setelah beberapa pertandingan babak 16 besar yang sangat kontroversial, termasuk kemenangan Argentina yang berhasil membalikkan keadaan saat melawan Mesir pada Selasa (07/07/2026) lalu.
Bahkan, pelatih kepala Mesir, Hossam Hassan, menuduh wasit asal Prancis, Francois Letexier, bersikap memihak lawan.
“Wasit itu tidak adil. Dia menyia-nyiakan perjuangan satu bangsa. Gelar juara ini memang diarahkan untuk Argentina,” ujar Hassan kepada para wartawan setelah Argentina bangkit dari ketertinggalan 0-2 untuk menang 3-2.
“Ini jelas pertandingan yang sudah diatur hasilnya dan seluruh dunia menyaksikannya,” Hassan menambahkan.
Penyerang Mesir, Mostafa Ziko, sependapat dengan Hassan dengan menambahkan: “Wasit itu tidak bagus, dia tidak adil. Ketidakadilannya sangat nyata. Dia terus menekan kami sejak awal pertandingan. Dia tidak ingin kami menang.”
Pelatih kepala Timnas Inggris Thomas Tuchel juga melontarkan kritik terhadap kinerja wasit dalam kemenangan mereka atas Meksiko, 3-2, di babak 16 besar pada Minggu (05/07/2026) pekan lalu.
“Wasit tidak cukup baik,” ujar Tuchel setelah Jarell Quansah dikeluarkan dari lapangan. “Dia bisa saja mengusir pemain dari tim mana pun kapan saja. Kinerjanya benar-benar tidak memadai. Keputusannya tidak konsisten dan tidak bisa diandalkan dalam pertandingan.
“Sekarang kami menghadapi dua ofisial keempat yang langsung membentak jika Anda melangkah sedikit saja keluar dari area teknis pelatih. Hal itu sungguh tidak bisa diterima.”
Kepala Bidang Perwasitan FIFA Pierluigi Collina secara terbuka membela para wasit yang bertugas dalam pertandingan babak 16 besar tersebut.
“Tentu saja, diskusi konstruktif mengenai keputusan wasit akan selalu menjadi bagian dari sepak bola. Namun tuduhan yang tidak berdasar sama sekali tidak memiliki tempat dalam olahraga ini,” kata mantan wasit top berkepala plontos asal Italia tersebut.
“Tidak ada seorang pun yang boleh mempertanyakan integritas wasit pertandingan Piala Dunia FIFA. Ketika hal itu terjadi, dampaknya bisa memicu reaksi yang berujung pada ancaman terhadap mereka maupun keluarga mereka. Tindakan semacam itu tidaklah benar.
“Demikian pula, tidak ada yang bisa mengklaim bahwa sistem perwasitan FIFA dapat dipengaruhi oleh pihak mana pun, bahkan oleh Presiden FIFA sekalipun.” (*)
