Raja dan Ratu Spanyol serta Presiden AS Hadiri Final Piala Dunia
Amerika Serikat :Jika Raja dan Ratu Spanyol serta Presiden Amerika Serikat menghadiri langsung laga final Piala Dunia 2026, Presiden Argentina justru masih percaya takhayul.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan menghadiri pertandingan final Piala Dunia 2026 pada hari Minggu (19/7/2026) petang waktu setempat dan menyerahkan trofi kepada pemenang laga Spanyol melawan Argentina—dua negara yang pejabat tingginya mengambil keputusan berbeda terkait kehadiran mereka.
Final Piala Dunia 2026 di New York New Jersey Stadium, East Rutherford, New Jersey, AS, antara Spanyol melawan Argentina ini akan disiarkan secara langsung oleh TVRI Sport dan TVRI Nasional pada Senin (20/7/2026) mulai pukul 01.00 dini hari WIB.
“Kehadiran beliau (Presiden AS Donald Trump) akan menyempurnakan ajang Piala Dunia yang paling banyak ditonton, paling banyak diikuti, dan paling sukses dalam sejarah Amerika Serikat,” demikian dikonfirmasi oleh juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam sebuah taklimat media pada hari Jumat (17/7/2026) ini.
Pada bulan Juni, FIFA telah mengumumkan bahwa Donald Trump akan menyerahkan trofi kepada pemenang usai laga final Piala Dunia FIFA edisi ke-23—yang dijadwalkan berlangsung hari Minggu pukul 15.00 waktu setempat di Stadion MetLife (nama asli venue final jika tidak dikontrak FIFA).
Sementara itu, dari pihak Spanyol, Raja Felipe VI akan hadir di tribune New York New Jersey Stadium bersama sang istri sekaligus permaisuri, Letizia Ortiz, serta putri-putri mereka, Leonor dan Infanta Sofia.
Pada tahun 2010, Felipe—yang saat itu masih bergelar Putra Mahkota (Pangeran)—bersama Letizia dan Ratu Sofia telah mewakili Kerajaan Spanyol dalam laga final Piala Dunia di Johannesburg, ketika La Roja berhasil mengalahkan Belanda, 1-0, di perpanjangan waktu.
Kala itu, Raja Juan Carlos tidak bisa ikut berangkat ke Afrika Selatan karena sedang dalam masa pemulihan setelah operasi pengangkatan tumor jinak di paru-parunya.
Mantan Perdana Menteri (PM) Spanyol, Jose Luis Rodriguez Zapatero, juga tidak hadir secara langsung di pertandingan final. Sementara PM kepala pemerintahan saat ini, Pedro Sanchez, masih berupaya menyelaraskan kehadirannya di final tersebut dengan kunjungan resminya ke Aljazair yang dimulai pada hari Senin—sehari setelah pertandingan final.
Presiden Argentina Masih Percaya Takhayul
Di pihak Argentina, Presiden Javier Milei dipercaya masih memiliki kepercayaan takhayul terkait gelaran turnamen sepak bola terbesar di dunia dari FIFA ini.
Hal itu menjadi alasan keputusannya untuk tidak meninggalkan Buenos Aires dan tetap menjalankan ritual yang telah ia lakukan sejak awal Piala Dunia 2026, yakni menyaksikan semua pertandingan La Albiceleste di kediaman resmi presiden di Olivos bersama saudarinya yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Kepresidenan Argentina, Karina Milei.
Langkah Javier Milei ini mengikuti jejak para pendahulunya, Alberto Fernandez (2019-2023) dan Cristina Fernandez (2007-2015), yang juga tidak hadir secara langsung di laga final Piala Dunia 2022 di Qatar (Argentina mengalahkan Prancis lewat adu penalti) maupun di Brasil 2014 (Argentina kalah 0-1 dari Jerman).
“Politik tidak boleh mengambil alih perayaan ini dari rakyat Argentina,” ujar Milei, seraya menilai bahwa tindakan memanfaatkan gelar juara—yang sejatinya milik para pemain dan rakyat Argentina—untuk kepentingan politik adalah hal yang sangat tidak pantas.
Pernyataan Presiden Argentina ini bisa dibilang kontradiksi dari fakta yang ada, karena sebelum laga semifinal melawan Inggris, Wakil Presiden Victoria Villarruel mengeluarkan pernyataan sarat politis soal kenangan buruk Perang Falkland tahun 1982 untuk membakar semangat Timnas Argentina.
Setelah itu, sejumlah pemain Argentina juga membentangkan spanduk kontroversial beraroma Perang Falkland yang bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas” yang berarti “Kepulauan Falkland (Malvinas dalam bahasa Argentina) Milik Argentina”.(*)
