Trump Ancam Iran Pasca Pemakaman Khamenei
Karawang : Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melayangkan ancaman keras terhadap Iran pada Sabtu 11 Juli 2026 waktu setempat, setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei diwarnai seruan terbuka untuk membunuhnya.
![]() |
| Para pelayat mengusung peti jenazah mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei di Mashhad, Iran timur laut, 9 Juli 2026. (Foto: Kantor Pemimpin Tertinggi Iran via AP) |
Eskalasi retorika ini semakin memperburuk situasi keamanan di Timur Tengah, di tengah rapuhnya kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik yang terus terganggu oleh baku tembak lintas batas.
Melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, Trump menegaskan posisi militernya merespons ancaman pembunuhan terhadap dirinya.
"Seribu rudal terkunci, terisi, dan diarahkan ke Republik Islam Iran, dengan ribuan lainnya akan segera menyusul, jika Pemerintah Iran menindaklanjuti ancamannya," tulis Trump dalam unggahannya.
Trump juga menyatakan bahwa militer AS siap untuk "meluluhlantakkan dan menghancurkan seluruh wilayah Iran."
Pernyataan ini muncul tak lama setelah pejabat senior AS mendesak Teheran untuk memberikan pernyataan publik bahwa Selat Hormuz terbuka untuk navigasi internasional dan menjamin penghentian serangan terhadap kapal-kapal yang melintas. Namun, hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang Iran belum memenuhi tuntutan tersebut.
Teheran justru bersikeras agar rute maritim vital itu tetap berada di bawah kendali penuh mereka. Iran bahkan menuntut hak untuk memungut biaya bagi setiap kapal yang melintas, sebuah kebijakan yang menentang dekade preseden internasional yang menganggap selat tersebut sebagai jalur air global.
Diplomasi yang Kian Terhimpit
Di sisi lain, upaya diplomasi terus berjalan meski dalam tekanan militer yang berat. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengonfirmasi bahwa mediator dari Qatar telah melakukan kunjungan ke Iran pada Jumat untuk melakukan pertemuan dengan para pejabat setempat.
Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, dalam keterangannya kepada penyiar negara TRT, menyatakan keyakinannya bahwa solusi dapat dicapai akhir pekan ini melalui mediasi antara Iran dan Oman. Meski demikian, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, melalui platform X, justru mengkritik kebijakan Washington.
"Realitasnya adalah, hanya kepatuhan timbal balik yang bisa menjadi solusi," tulis Araghchi, merujuk pada penarikan izin pengecualian oleh AS bagi Iran untuk menjual minyak mentah di pasar internasional.
Krisisi Nuklir dan Kemanusiaan
Selain isu Selat Hormuz, Washington memberikan penekanan baru terkait ambisi nuklir Teheran. Pejabat AS menegaskan bahwa kesepakatan nuklir apa pun harus mencakup penyerahan seluruh stok uranium yang diperkaya tingkat tinggi milik Iran.
Washington juga mengisyaratkan kesiapan opsi militer untuk memastikan fasilitas nuklir Iran tetap tertutup permanen jika negosiasi gagal.
Dampak konflik ini kini telah memakan korban jiwa yang signifikan. Juru bicara Kementerian Kesehatan Iran, Hossein Kermanpour, melaporkan setidaknya 17 orang tewas dan 115 lainnya luka-luka akibat rangkaian serangan dalam dua hari terakhir.(**)
