Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Wasit Argentina Tidak Bisa Pimpin Laga Inggris dan Sebaliknya

Amerika Serikat: Di turnamen sebesar Piala Dunia, masalah di luar lapangan seperti hubungan geopolitik, juga turut dipertimbangkan saat memilih tim wasit.

Piala Dunia bukan sekadar soal sepak bola dan gol. Salah satu ajang olahraga terbesar di dunia ini juga dipengaruhi oleh berbagai persoalan di luar lapangan. 
 
Penyerang timnas Argentina Diego Maradona dikepung tiga pemain Inggris pada laga perempat final Piala Dunia 1986.

Sebagai contoh, pemilihan wasit tidak hanya didasarkan pada kriteria teknis olahraga; untuk pertandingan-pertandingan tertentu yang memiliki nilai sejarah penting, FIFA juga mempertimbangkan faktor ketegangan geopolitik.

Mengacu hasil sampai 16 besar, Norwegia akan menghadapi Inggris di babak perempat final (8 besar) di Miami Stadium, Amerika Serikat, pada Sabtu (11/07/2026) petang waktu setempat. Laga ini bakal disiarkan secara langsung di TVRI Sport dan TVRI Nasional pada Minggu (12/07/2026) mulai pukul 03.00 dini hari WIB.

Pada hari yang sama, selang beberapa jam, Argentina akan menghadapi Swis juga di 8 besar dan akan disiarkan secara langsung di TVRI Sport dan TVRI Nasional pada Minggu (12/07/2026) mulai pukul 07.00 pagi WIB. 

Laga Norwegia melawan Inggris akan dipimpin wasit asal Prancis, Clement Turpin. Sementara, duel Argentina menghadapi Swis di Kansas City akan dipimpin wasit Joao Pinheiro dari Portugal.

Terkait Inggris dan Argentina, tidak ada wasit asal Inggris yang memimpin pertandingan-pertandingan La Albiceleste selama lebih dari 40 tahun, dan sebaliknya, wasit asal Argentina tidak dilibatkan dalam laga-laga yang menampilkan Inggris. 

Dalam konteks khusus ini, FIFA juga mempertimbangkan sengketa diplomatik yang dikenal luas secara global: warisan Perang Falkland (Islas Malvinas, dalam bahasa Argentina). 

Ketegangan antara Argentina dan Inggris memperebutkan kedaulatan atas kepulauan di bagian selatan Samudra Atlantik ini memuncak pada 2 April 1982. 

Tiga hari berselang, Pemerintah Inggris atas perintah Perdana Menteri Margaret Thatcher mengerahkan gugus tugas angkatan laut untuk menghadapi Angkatan Laut dan Angkatan Udara Argentina sebelum melancarkan serangan amfibi ke kepulauan tersebut. 

Inggris akhirnya keluar sebagai pemenang setelah perang selama 74 hari. Secara keseluruhan, korban jiwa mencapai 649 tentara dari pihak tentara Argentina, 255 dari militer Inggris, dan tiga penduduk lokal.

Empat tahun kemudian, ingatan akan peristiwa itu muncul kembali, kali ini dalam dunia olahraga. Di perempat final Piala Dunia 1986, kapten Argentina Diego Armando Maradona menyingkirkan Inggris lewat penampilan individu yang gemilang. 

Ia mencetak dua gol, termasuk satu gol menggunakan tangan—yang oleh sang pemain bernomor punggung 10 itu sendiri dijuluki “Tangan Tuhan” (The Hand of God). Argentina akhirnya memenang gelar juara pada tahun itu, yang merupakan gelar kedua dalam sejarah mereka (setelah 1978 di rumah sendiri).

Usai pertandingan, kapten Argentina bahkan berbicara tentang “pembalasan dendam”. “Meskipun sebelum pertandingan kami mengatakan bahwa sepak bola tidak ada hubungannya dengan Perang Falkland, kami tahu bahwa mereka telah membunuh banyak pemuda Argentina di sana, yang buat mereka seolah-olah hanyalah membunuh burung-burung kecil,” ucap Maradona.

Ketegangan Terus Berlanjut hingga Kini

Dalam ranah olahraga, Argentina berhasil membalas kekalahan dari Inggris dalam pertandingan tahun 1986 tersebut. Namun, saat ini, sengketa tersebut belum terselesaikan secara diplomatik. Buenos Aires terus mengklaim Kepulauan Falkland, yang dianggap sebagai simbol nasional.

Kepulauan tersebut terus tercantum dalam peta resmi Argentina, ditampilkan pada beberapa lembar uang kertas, dan tetap menjadi topik rutin dalam wacana politik. Dari sudut pandang Inggris, wilayah itu merupakan pijakan strategis bagi kehadiran militer di Atlantik Selatan.

Oleh karena itu, kecil kemungkinannya melihat wasit asal Argentina seperti Facundo Tello memimpin pertandingan tim Inggris. Demikian pula halnya dengan kecilnya kemungkinan wasit asal Inggris—Michael Oliver dan Anthony Taylor, yang juga hadir di Piala Dunia ini—akan memimpin pertandingan La Albiceleste.

Taylor bahkan sempat digadang-gadang sebagai kandidat wasit final Piala Dunia 2022 di Rusia, namun akhirnya tidak terpilih karena skuad Argentina yang diperkuat Lionel Messi berhasil melaju ke final melawan Prancis.

Jalan kedua tim bisa saja kembali bersinggungan pada edisi tahun ini, jika mereka masing-masing mampu memenangi pertandingan perempat final dan melaju ke semifinal.(*)

Hide Ads Show Ads