Hari ini
Cuaca 0oC
Breaking News

Jaga Cahaya Akal! Jangan Miskin Hikmah

Karawang : Banyak orang mengira ancaman terbesar bagi umat manusia pada abad ke-21 adalah perang, krisis ekonomi, perubahan iklim, atau persaingan geopolitik. Namun jika dilihat dari sudut pandang Islam, neuroscience, dan sejarah peradaban, ancaman yang lebih mendasar sedang berlangsung secara diam-diam, yaitu pelemahan fungsi akal manusia secara massal.

Foto: Penulis Muhammad Endang Suratno Wibowo M.Ed_ ( Pimpinan Pondok Pesantren Lestari Alam Qur'ani Indonesia Wibawa Nusantara )

Al-Qur'an tidak pernah menjadikan kekuatan fisik atau material sebagai pembeda utama antara manusia dan makhluk lainnya. Yang membedakan manusia adalah akal, kesadaran, kemampuan mengambil pelajaran, dan kemampuan memahami tanda-tanda Allah.

Allah berfirman:

> إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

"Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memiliki inti akal."(QS. Ali Imran: 190)

Menarik bahwa Al-Qur'an tidak menggunakan istilah "orang pintar", tetapi Ulul Albab, yaitu manusia yang akalnya tidak sekadar cerdas, melainkan jernih, dalam, dan terhubung dengan hati serta wahyu.

Hari ini kita menyaksikan paradoks terbesar dalam sejarah manusia.
Informasi meningkat secara eksponensial, pengetahuan tersedia dalam hitungan detik.
Seluruh perpustakaan dunia dapat masuk ke dalam satu gadget, namun kemampuan manusia untuk berpikir panjang, berkonsentrasi, menghafal, merenung, dan memahami secara mendalam justru mengalami kemunduran.
Seolah-olah manusia semakin mengetahui banyak hal tetapi semakin memahami sedikit hal.

Akal dalam Pandangan Islam Bukan Sekadar Organ Berpikir, Dalam filsafat modern, akal sering dipahami sebagai fungsi kognitif otak. Namun dalam tradisi Islam, terutama menurut Imam Al-Ghazali, Fakhruddin Ar-Razi, Al-Mawardi, dan Syekh Ibnu 'Asyur, akal bukan sekadar aktivitas biologis neuron. Akal adalah kemampuan menangkap hakikat.
Karena itu Al-Qur'an berulang kali menyebut:

> أَفَلَا تَعْقِلُونَ

"Tidakkah kalian menggunakan akal?"

Lebih dari empat puluh kali Allah mengulang seruan tersebut. Bahkan ketika menjelaskan penghuni neraka, Allah mengabadikan pengakuan mereka:

> وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ

"Mereka berkata: sekiranya dahulu kami mendengar atau menggunakan akal, niscaya kami tidak menjadi penghuni neraka." (QS. Al-Mulk: 10)

Ayat ini menunjukkan bahwa kehancuran manusia tidak selalu diawali oleh lemahnya ekonomi atau politik, tetapi oleh matinya fungsi mendengar kebenaran dan menggunakan akal.

Neuroscience kontemporer menjelaskan bahwa otak manusia tidak statis. Otak berubah mengikuti apa yang terus menerus dilakukan, konsep ini disebut Neuroplasticity.

Setiap notifikasi, setiap video pendek, setiap scrolling, setiap perpindahan perhatian.
Menciptakan jalur saraf baru.

Semakin sering diulang, semakin kuat jalur tersebut, akibatnya otak modern mulai terbiasa hidup dalam kondisi perhatian pendek (short attention span), ketergantungan dopamin, kesulitan fokus mendalam, kecanduan stimulasi cepat, kesulitan membaca teks panjang.

Padahal peradaban besar selalu dibangun oleh manusia yang mampu berpikir panjang.

Tidak ada mahakarya peradaban yang lahir dari ketergesa-gesaan.

Tidak ada imam mazhab yang dibentuk oleh budaya short attention span, Imam Bukhari menghafal sekitar 600.000 riwayat, Imam Syafi'i mampu menghafal satu halaman hanya dengan sekali baca, Imam Nawawi mengkaji belasan pelajaran setiap hari selama bertahun-tahun.
Kemampuan seperti ini bukan mukjizat biologis semata, itu adalah hasil dari budaya fokus yang sangat kuat.

Dalam ilmu Neuro-Linguistic Programming (NLP), bahasa bukan sekadar alat komunikasi, bahasa adalah alat pembentukan realitas. Kata-kata membentuk persepsi, Persepsi membentuk keyakinan, keyakinan membentuk tindakan, tindakan membentuk nasib.

Karena itu Allah mengutus para nabi bukan dengan senjata terlebih dahulu, tetapi dengan wahyu yang berbentuk bahasa.
Firman Allah:

> الرَّحْمَٰنُ ۝ عَلَّمَ الْقُرْآنَ ۝ خَلَقَ الْإِنسَانَ ۝ عَلَّمَهُ الْبَيَانَ

"Ar-Rahman. Mengajarkan Al-Qur'an. Menciptakan manusia. Mengajarkannya kemampuan menjelaskan." (QS. Ar-Rahman: 1-4)

Perhatikan urutannya.
Al-Qur'an.
Manusia.
Bahasa.
Artinya pembentukan manusia selalu berkaitan dengan bahasa.

Karena itu penjajahan modern tidak lagi dimulai dengan meriam, penjajahan modern dimulai dengan penguasaan narasi.
Siapa yang menguasai narasi akan menguasai persepsi dan siapa yang menguasai persepsi akan menguasai perilaku masyarakat.

Para leluhur Nusantara memahami sesuatu yang hari ini mulai dibuktikan oleh neuroscience.

Mereka sadar bahwa manusia dibentuk oleh pengulangan. Karena itu lahirlah pupuh Sunda, wawacan, pantun Melayu, tembang Jawa, hikayat Aceh, syair Bugis, suluk para wali.
Ini bukan sekadar karya sastra.
Ini adalah teknologi kesadaran.
Setiap pengulangan syair adalah pemrograman nilai. Setiap petuah adalah transfer pola pikir. Setiap wejangan adalah pembentukan jaringan saraf sosial.

Prabu Siliwangi, Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, Syekh Nawawi Banten, Hadratussyekh Hasyim Asy'ari dan para ulama Nusantara memahami bahwa *peradaban dibangun bukan dengan beton, melainkan dengan cara berpikir manusia.*

Mereka membangun manusia yang mampu duduk berjam-jam mendengar nasihat, Mampu menghafal silsilah, Mampu mengingat sejarah leluhur. Mampu mengendalikan hawa nafsu.

Hari ini sebagian manusia bahkan tidak mampu menyimak ceramah selama lima belas menit tanpa melihat gadget.

Dajjal, Puncak Rekayasa Persepsi
Mengapa Rasulullah ﷺ menyebut fitnah Dajjal sebagai fitnah terbesar?
Karena Dajjal bukan sekadar menguasai wilayah.
Dajjal menguasai persepsi. Dalam hadits disebutkan Dajjal membawa sesuatu yang tampak seperti surga dan neraka, Padahal hakikatnya terbalik. (HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa inti fitnah Dajjal adalah distorsi realitas.

Hari ini kita hidup di era yang dipenuhi deepfake, artificial intelligence, virtual reality,propaganda algoritmik, manipulasi opini publik

*Bukan berarti teknologi adalah Dajjal.*

Tetapi karakter zamannya memiliki kemiripan, manusia semakin sulit membedakan antara kenyataan dan rekayasa.

Dicabutnya Ilmu di Akhir Zaman, Rasulullah ﷺ bersabda:

> إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ

"Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari manusia, tetapi mencabut ilmu dengan diwafatkannya para ulama." (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika direnungkan lebih jauh, wafatnya ulama hari ini bukan hanya wafat fisik. Lebih berbahaya lagi adalah ketika manusia berhenti mendengar ulama dan mulai menjadikan algoritma sebagai gurunya.
Mesin pencari menggantikan talaqqi, konten pendek menggantikan kitab, influencer menggantikan mursyid dan viralitas menggantikan otoritas keilmuan.

Di saat itulah ilmu mulai berubah menjadi sekadar informasi.

*Pesantren Sebagai Benteng Anti Digital Dementia*

Mungkin tanpa disadari, sistem pesantren tradisional adalah salah satu sistem pendidikan paling kompatibel dengan kebutuhan manusia di era digital.
Tahfizh melatih hippocampus.
Muraja'ah memperkuat memori jangka panjang.
Bandongan melatih perhatian berkelanjutan.
Sorogan melatih akurasi berpikir.
Mudzakarah melatih argumentasi.
Dzikir menenangkan sistem saraf.
Qiyamul lail meningkatkan pengendalian diri.
Tirakat menguatkan kemampuan menunda kenikmatan.

Apa yang disebut para ulama sebagai riyadhatunnafs ternyata dalam bahasa neuroscience modern berkaitan dengan penguatan prefrontal cortex, pusat pengambilan keputusan, fokus, dan pengendalian impuls.

*Pertempuran Terakhir adalah Pertempuran Akal*

Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa runtuhnya peradaban sering diawali oleh melemahnya ashabiyah/solidarity, hilangnya disiplin, dan tumbuhnya budaya kemewahan.

Hari ini mungkin kita perlu menambahkan satu gejala baru yakni runtuhnya kemampuan berpikir mendalam.

Hingga pada akhirnya, Iblis tidak membutuhkan manusia menjadi bodoh. Ia hanya membutuhkan manusia terlalu sibuk, terlalu terdistraksi, dan terlalu bising sehingga tidak sempat merenungkan kebenaran.

Maka pertanyaan besar bagi umat Islam hari ini bukanlah "Apakah kita memiliki teknologi?"
Tetapi, "Apakah kita masih memiliki akal yang merdeka untuk mengendalikan teknologi?"

Karena ketika perhatian manusia menjadi komoditas, ketika bahasa menjadi alat rekayasa kesadaran, ketika algoritma menjadi penjaga gerbang informasi, dan ketika gadget menjadi perpanjangan pikiran manusia, maka menjaga akal bukan lagi sekadar kewajiban intelektual, melainkan bagian dari menjaga agama.

Dan boleh jadi, salah satu makna terdalam dari perjuangan akhir zaman adalah menjaga cahaya akal (nurul 'aql) agar tetap terhubung kepada cahaya wahyu (nurul wahy), sehingga manusia tidak tersesat di tengah banjir informasi yang semakin deras tetapi semakin miskin hikmah.(*)

Hide Ads Show Ads