Kasus Campak 2026 Tembus 20 Ribu di 36 Provinsi, Kemenkes Ingatkan Pentingnya Imunisasi Lanjutan
Jakarta : Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap ancaman penularan penyakit campak. Meski sempat melandai secara signifikan, Kemenkes mencatat total kumulatif kasus campak di Indonesia sepanjang tahun 2026 ini telah menembus angka lebih dari 20 ribu kasus.
Sebagai catatan, lonjakan kasus campak sempat menyita perhatian publik pada awal tahun 2026 setelah memicu peningkatan fatalitas pada anak-anak. Langkah intervensi cepat pemerintah saat itu berhasil menekan angka kasus hingga 93 persen pada pertengahan Maret 2026. Namun, potensi penularan terbukti belum sepenuhnya menghilang.
Berdasarkan laporan rutin surveilans Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) per 1 Agustus 2026, tercatat sebanyak 21.101 kasus campak tersebar di 36 provinsi di seluruh Indonesia.
Direktur Imunisasi Kemenkes RI, Indri Yogyaswari, menegaskan bahwa penurunan angka secara nasional tidak boleh membuat masyarakat maupun pemerintah daerah lengah.
“Jadi, walau secara nasional angka sudah turun, tapi itu masih ada di beberapa tempat di negara kita. Kalau tidak hati-hati, ini nanti juga bisa jadi potensi untuk merebak lagi kasusnya,” ujar Indri, Selasa (4/8/2026).
Indri menyoroti kelompok usia anak sekolah sebagai salah satu titik krusial penularan campak. Lingkungan sekolah yang padat interaksi membuat virus yang sangat menular ini mudah menyebar antar siswa.
Risiko tak berhenti di sekolah. Anak yang terinfeksi berpotensi membawa pulang virus tersebut ke rumah, sehingga membahayakan anggota keluarga lain—terutama balita atau bayi yang belum mendapatkan jadwal vaksinasi lengkap.
Guna memutus rantai penularan tersebut, Kemenkes kembali menggalakkan program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang rutin diselenggarakan pada bulan Agustus dan November.
Dalam kesempatan tersebut, Kemenkes menekankan bahwa perlindungan terhadap penyakit campak membutuhkan dosis penguat (booster). Meskipun seorang anak telah mendapatkan imunisasi rutin secara lengkap saat masih balita, imunitas tubuh dapat menurun seiring bertambahnya usia.
Pemberian imunisasi lanjutan melalui program BIAS dinilai sangat vital untuk memperkuat antibodi anak hingga usia dewasa.
“Supaya anak-anak kita dapat perlindungan yang sampai nanti dia dewasa itu sudah cukup kuat,” pungkas Indri.
Masyarakat diimbau untuk mendukung kelancaran program BIAS di sekolah masing-masing serta segera membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat jika menemukan gejala awal campak, seperti demam tinggi yang disertai ruam kemerahan pada kulit.(*)
