15 Tahun Perjalanan H: Ketika Hasrat Berlebih Menjadi Ujian Hidup
Karawang : Saya H, 35 tahun. Perjalanan ini saya lalui selama 15 tahun, sejak menikah pertama di usia 20 tahun.
Pernikahan pertama dengan pria asal Korea yang saya kenal di Bali hanya bertahan satu tahun. Pernikahan kedua dengan pria asal Cirebon yang dua tahun lebih muda hanya bertahan dua tahun. Keduanya berakhir karena ketidakcocokan nafkah batin. Saya memiliki hasrat yang sangat tinggi, yang pada saat itu belum saya pahami cara mengelolanya.
Kepada kedua orang tua, perceraian saya sampaikan dengan alasan yang baik-baik agar mereka tidak khawatir. Mantan suami pertama izin pulang ke Korea, mantan kedua beralasan jarak dan ibu yang sudah tua.
Dampaknya tidak hanya pada rumah tangga, tetapi juga pada fisik. Jika hasrat tidak tersalurkan, tubuh saya terasa sakit, demam, dan tidak tenang. Di masa janda, hampir setahun saya mencari penyaluran di tempat hiburan malam. Saya lakukan secara selektif, tanpa bayaran, tanpa aplikasi, dan tanpa mengganggu rumah tangga orang lain.
Sampai akhirnya saya bertemu dengan suami saya sekarang, pria yang terlihat alim, di sebuah tempat perbelanjaan. Kami berpacaran 10 bulan. Pada masa itu saya masih berjuang dengan kebiasaan lama.
Hingga suatu hari saya jujur apa adanya. Di luar dugaan, ia berkata sudah mengetahui perjalanan hidup saya. Saya menangis. Jawabannya hanya satu, "Kita menikah hari ini dan kita jalani bersama."
Setelah menikah, proses penyembuhan berjalan bertahap. Dari kebiasaan empat kali sehari, perlahan menjadi tiga kali, lalu dua kali di bulan kedua. Memang berat dan terasa sakit di awal, tetapi saya menurut.
Di bulan ketiga, ia mengajak saya pulang ke rumah mertua di Karawang. Sejak itu, setiap siang dan malam ia mengajak saya ke musala keluarga untuk salat dan belajar mengaji. Hampir satu tahun kami jalani dengan konsisten.
Alhamdulillah, saya merasakan perubahan besar. Kondisi saya berangsur normal. Kini kami dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik dan hidup bahagia.
Pelajaran yang bisa diambil:
1. Kondisi hasrat berlebih atau hiperseksual adalah kondisi nyata yang bisa dialami siapa saja. Ini bukan aib, melainkan ujian kesehatan yang perlu penanganan.
2. Jangan hadapi sendiri. Tempuhlah dua ikhtiar sekaligus: ikhtiar medis dengan konsultasi ke psikolog, dokter, atau tenaga profesional, serta ikhtiar spiritual dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, Al-Aziz yang Maha Perkasa.
3. Cari pasangan yang membimbing, bukan yang menghakimi. Dukungan, kesabaran, dan lingkungan religius sangat membantu proses pemulihan.
4. Jika Anda atau orang terdekat mengalami hal serupa, segera cari bantuan. Hindari pelarian yang berisiko. Jaga privasi, selektif, dan utamakan keselamatan.
Dua mantan suami saya kini telah mengetahui kabar saya dan mengucapkan selamat karena saya telah lolos dari ujian 15 tahun ini.
Semoga kisah saya menjadi pengingat bahwa obat yang paling mustajab adalah ketika kita berpasrah diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta, dibarengi dengan usaha yang benar.(Rs)
