Aku Mertua yang Baru Menikahkan Putri, Tapi Hampir Menghancurkan Rumah Tangga Orang Lain
PELITA KARAWANG - Saya, nama samaran (BE/45 tahun) menulis ini dengan tangan gemetar. Saya seorang istri, seorang ibu, dan beberapa bulan lalu baru saja menjadi mertua. Saya baru saja menikahkan putri saya. Seharusnya di usia ini saya menjadi contoh.
Saya adalah pemain media sosial. Facebook, TikTok. Awalnya hanya iseng. Tak sengaja saya klik Facebook Pelita Karawang, saya buka rubrik Perempuan dan Kisah. Saya terperanjat. Kisah-kisah di sana hampir sama seperti saya. Bedanya, mereka kebanyakan janda atau remaja yang gagal, lalu mereka bertabayun dan istiqomah. Saya? Saya masih bersuami.
Ya Allah, saya masih bersuami.
DIDAMPRAT DI OKTOBER 2026
Di bulan Oktober 2026 ini, saya didamprat. Didamprat oleh seorang istri yang suaminya saya ajak bermain hati. Saya akui, saya yang rakus. Saya yang mengejar dia. Padahal saya tahu, pria itu orang yang dikenal di desanya. Kedua mertuanya saya kenal. Adik iparnya yang sedang sakit pun pernah saya jenguk. Istrinya? Istrinya pun saya kenal baik. Dia sahabat saya.
Dua minggu lalu, perselingkuhan itu terbongkar. Saya didamprat sejumlah perempuan. Saya tidak bisa mengelak. Bukti foto-foto itu sudah ada di tangan istri sahnya. Foto yang kalau saya ingat, saya seperti kerasukan. Tidak ada lagi kata tidak. Hanya kata: Ya, saya hilaf. Saya salah.
Saya bersyukur tidak diviralkan.
BAYANGAN JIKA FOTO ITU TERSIBAR
Kalau foto itu tersebar, bagaimana perasaan suami saya? Bagaimana perasaan anak dan menantu saya yang baru saja menikah? Bagaimana jika sampai ke besan saya? Ke keluarga besar perempuan yang suaminya saya ganggu?
Saya baru sadar, selama ini akun media sosial saya penuh dengan foto dan video yang kurang pantas untuk seorang istri dan seorang mertua. Saya merasa paling benar, paling baik. Padahal saya tidak memberi contoh sama sekali.
Saya bertanya dalam hati, bagaimana jika menantu saya memperlakukan anak saya seperti saya memperlakukan istri pria itu? Bagaimana jika suami saya tahu?
Saya bejat. Saya rusak. Saya gila karena memperturutkan nafsu sesaat.
Apakah Allah masih mau memaafkan saya? Saya tahu, dalam ajaran kita, dosa kepada manusia belum akan diampuni sebelum manusia yang kita sakiti memaafkan. Hati saya hancur. Saya telah zalim kepada suami saya. Saya berdosa besar.
INGIN BERTAUBAT
Dari kisah-kisah yang saya baca di Pelita Karawang, mereka menemukan hidayah. Apakah masih ada jalan taubat untuk saya yang sudah bersuami, sudah menjadi mertua, tapi masih berlaku maksiat?
Hari ini saya menulis bukan untuk mencari pembenaran. Saya menulis untuk mengakui. Saya ingin bertaubat.
Jika Ibu-Ibu di luar sana membaca ini, jangan seperti saya. Jangan main hati di media sosial. Sekali tergelincir, foto itu akan menjadi bumerang yang akan menghancurkan martabat anak, menantu, dan suami.
Ya Allah, harus bagaimana aku???. ....
Catatan Redaksi Pelita Karawang:
Kisah Ibu BE(45) telah disunting redaksi tanpa mengurangi makna, dengan menyamarkan semua identitas pihak terkait sesuai Kode Etik Jurnalistik Pasal 1, 2, 4 dan UU Perlindungan Data Pribadi. Foto ilustrasi yang menyertai rubrik ini adalah ilustrasi dengan wajah diburamkan, bukan foto asli. Redaksi tidak menampilkan foto privat yang bersifat asusila. Kisah ini dimuat sebagai pelajaran, bahwa pintu taubat selalu terbuka bagi yang sungguh-sungguh ingin kembali, dengan syarat mengakui kesalahan, meminta maaf kepada yang dizalimi, dan berjanji tidak mengulanginya. Bagi pembaca yang mengalami hal serupa, dianjurkan untuk bertabayun kepada pasangan dan mencari pendampingan dari tokoh agama atau konselor keluarga yang terpercaya.(Red)

