Bentrokan Pelajar dan Polisi Meluas di Prancis, Ratusan Luka dan Ribuan Ditangkap
PARIS, Gelombang aksi unjuk rasa pelajar yang meluas di berbagai kota di Prancis berujung pada bentrokan intensif dengan aparat kepolisian. Situasi ini memicu sorotan publik secara masif sekaligus membayangi bulan-bulan terakhir masa jabatan Presiden Emmanuel Macron.
![]() |
| Foto: Polisi berhadapan dengan para siswa setelah aksi jalan kaki menuntut peningkatan anggaran/fasilitas sekolah di Paris, Selasa, 13 Oktober 2026. [Foto: AP Photo/Thibault Camus]_ |
Aksi pemblokiran fasilitas sekolah dan demonstrasi jalanan yang diusung para siswa bertujuan menuntut peningkatan anggaran serta fasilitas pendidikan, khususnya di kawasan pinggiran kota yang terdampak krisis ekonomi. Namun, dinamika di lapangan dengan cepat memanas seiring pengerahan pasukan keamanan dalam jumlah besar oleh pemerintah.
Berdasarkan data resmi hingga Kamis, 15 Oktober 2026, otoritas keamanan telah menangkap sekitar 8.000 orang dalam beberapa pekan terakhir, di mana mayoritas di antaranya merupakan remaja berusia di bawah 18 tahun.
Bentrokan tersebut juga mengakibatkan ratusan warga sipil dan petugas mengalami luka-luka. Penggunaan perangkat penanganan huru-hara oleh aparat penegak hukum menjadi sorotan tajam setelah sejumlah demonstran usia muda dilaporkan mengalami cedera serius.
Kondisi ini memperpanjang dinamika sosial yang mewarnai kepemimpinan Presiden Macron menjelang berakhirnya masa jabatan beliau pada Mei mendatang. Penanganan demonstrasi oleh jajaran kementerian terkait tak hanya menuai kritik dari masyarakat umum, tetapi juga memicu ketidakpuasan di internal aparat kepolisian sendiri.
Di sisi lain, pihak kepolisian menyatakan bahwa langkah tegas diambil guna merespons kelompok perusuh terorganisir yang memanfaatkan kerumunan siswa untuk menyerang petugas dan merusak fasilitas umum.
Pemerintah mencatat lebih dari 900 personel kepolisian serta 150 tenaga pendidik dan staf sekolah mengalami luka-luka akibat pelemparan benda keras, kembang api, dan aksi pembakaran.
Perwakilan serikat kepolisian wilayah pinggiran utara Paris, Walid Hrar, menggarisbawahi bahwa eskalasi konfrontasi antara aparat dan kelompok demonstran berseragam hitam berpenutup muka tidak lepas dari dinamika sejarah panjang budaya protes di negara tersebut.
Hingga kini, pemerintah Prancis masih berupaya meredam ketegangan dan membuka ruang dialog dengan pihak sekolah dan perwakilan pelajar untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.(*)
