Berbanding Terbalik dengan Bursa Asia, IHSG Merosot 87 Poin Terdampak Reklasifikasi MSCI
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren penurunan saat jeda siang perdagangan Rabu 28 Oktober 2026. IHSG terkoreksi 87,06 poin atau 1,65 persen ke level 5.179,06.
Menurut data RTI Business, IHSG dibuka pada level 5.249,06. Meski sempat menyentuh level tertinggi pada 5.256,38, IHSG kemudian merosot ke level terendah 5.167,33.
Nilai transaksi perdagangan sesi pertama mencapai Rp7,414 triliun dengan volume 16,620 miliar saham, serta transaksi saham berlangsung 921.678 kali. Tekanan jual mendominasi perdagangan di mana 553 saham turun, 131 saham menguat, dan 104 saham stagnan.
Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan sehari sebelumnya. Pada Selasa 27 Oktober 2026, IHSG turun 1,99 persen dan ditutup pada level 5.266,13, sehingga berpotensi mencatat penurunan selama tiga hari berturut-turut.
Tim Analis Pilarmas Investindo Sekuritas menyatakan turunnya IHSG berlangsung di tengah tekanan aksi jual investor asing di bursa. Kondisi tersebut berkaitan dengan dampak reklasifikasi status pasar modal Indonesia oleh pemeringkat indeks global MSCI.
"Bursa Asia menguat mengikuti kenaikan indeks Wall Street di tengah optimisme baru terhadap kecerdasan buatan (AI)," katanya. "Upaya perdamaian di Timur Tengah semakin meningkatkan sentimen positif."
Meski bursa regional menguat, IHSG justru bergerak di zona merah. Menurut Tim Pilarmas, pelaku pasar tengah menantikan keputusan kebijakan moneter The Fed, bank sentral Amerika Serikat (AS).
"Pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga," katanya. Namun, investor tetap mencermati petunjuk terkait kemungkinan perubahan kebijakan moneter pada Desember 2026.
Dari sisi geopolitik, pergerakan harga minyak dunia masih menjadi perhatian di tengah ketidakpastian konflik Timur Tengah. Tim Pilarmas menyoroti perkembangan politik Israel serta upaya diplomatik sejumlah negara untuk mendorong negosiasi dengan Iran.
Dari dalam negeri, kenaikan harga minyak global di atas USD100 per barel turut menimbulkan kekhawatiran terhadap anggaran negara. "Ini mengingat status Indonesia sebagai importir minyak yang akan meningkatkan beban subsidi energi pada APBN," ucapnya.
Tim Pilarmas juga menyoroti rencana penyampaian aspirasi mahasiswa pada Rabu 28 Oktober 2026 sebagai salah satu faktor risiko. Situasi politik dan sosial tersebut berpotensi memengaruhi persepsi pelaku pasar terhadap risiko investasi.
Pada perdagangan sesi pertama, saham KOPI, ESTA, PBID, KOKA, dan MKNT mencatatkan kenaikan terbesar. Sedangkan TGUK, FILM, OASA, BIPI, dan GTSI masuk dalam daftar saham dengan penurunan terbesar.
*Faktor tambahan penekan hari ini:* rupiah bertahan di kisaran Rp18.125 per dolar AS dan imbal hasil SBN 10 tahun menembus 7,5 persen, tertinggi sejak Oktober 2022. (*)
